Prof. Dr. H. Paisal Halim, M.Hum

Di Atas Langit Masih Ada Langit

Pesan Buat Sang Penguasa

MENGAWALI tulisan ini, rasanya penulis sangat perlu untuk menyodorkan terlebih dahulu pengertian sang penguasa kepada segenap pembaca agar dapat ter­cipta kesamaan visi dan kesamaan persepsi dalam menerjemahkan ” isi muatan” sang penguasa yang di­maksud.

Sang penguasa adalah semua orang yang menduduki jabatan dalam suatu pemerintahan, baik dalam jabatan politis, jabatan struktural maupun dalam jabatan fungsional. Mengacu ada penger­tian ini maka, presiden, menteri, pejabat negara setingkat menteri, anggota MPR, anggota DPR, Dirjen, direksi, gubernur, Bupati, Rektor, dekan, kepala dirias, camat dan pejabat lainnya adalah se­muanya termasuk sang penguasa dalam tulisan ini.

Menurut data dan fakta bahwa di alam reformasi ini, tampaknya sang penguasa hat us banyak mem­biasakan diri banyak menelan “obat penenang” untuk menerima dahsyatnya tiupan badai yang menggoncang istana sang penguasa berupa isu, gossip dan tudirigan miring yang ditujukan pada dirinya.

Adapun deretan isu dan gosip yang menggelindirig ke istana sang penguasa tersebut adalah, gosip tentang korupsi, kolusi dan nepo­tisme (KKN) dalam pengangkatan dan peng­gantian peja­bat. Gosip tentang senang “sel­ingkuh” den­gan perem­puan idaman lain (PIL). Gosip ten­tang suka “bobok-bobok” siang dengan anak baru gede (ABG),dan segala macam tudirigan miring tentang pembayaran le­lang tender dan pembagian proyek.

Bukan itu saja, bahkan sang penguasa saat ini banyak menerima kado “yang berisikan bermacam­-macam surat seperti: surat kaleng tentang” suap “menduduki jabatan; surat kritikan mutasi pe­gawai yang tidak profesional; surat aduan pemotongan gaji guru serta sederetan lagi daftar issu, gos­sip dan tudirigan miring lainnya yang menggelindirig di tengah-tengah masyarakat sekarang ini.

Terlepas dari benar tidaknya tudirigan miring itu, rasanya tidak perlu diperbincangkan apalagi dipermasalahkan karena apabila dipermasalahkan pada akhirnya akan menggiring seseorang menjadi “miring” Juga sebab namanya saja “tudigan miring”.

Namun yang menarik untuk diperbincangkan adalah siapa da­lang dari gossip tersebut dan men­gapa tudirigan miring itu beredar di masyarakat serta apa tujuan para dalang ini.

Berdasarkan dari hasil laporan tim investigasi para dewan yuri yang turun ke lapang menunjukkan bah­wa ternyata sumber issu, gossip dan tudirigan miring itu tidak hanya datang dari pusat, daerah terpen­cil, jenderal, kopral, pejabat tinggi dan pejabat rendah tetapi juga da­tang dari keluarga, saudara, teta­ngga, pengusaha, cerdik-pandai hingga dari berbagai tokoh dan organisasi lainnya.

Adapun missi yang diemban oleh para nara sumber dalam menggelindirigkan segala macam issu, gossip dan tudirigan miring ini adalah semata-mata untuk meng­giring dan membentuk opini publik agar masyarakat tidak lagi percaya pada sang penguasa.

Itulah sebabnya sehingga titik fokus dari issu yang menggelindirig tersebut adalah menggugat, menyorot, dan menvonis sang pen­guasa telah melakukan penyele­wengan kekuasaan dengan ber­dasar pada dalil dan bukti-bukti yang disodorkan dari berbagai nara sumber informal yang ada diseke­liling sang penguasa. Nara sumber tersebut biasa diriobatkan orang se­bi dewan yuri yang tidak dilantik. Dewan yuri bekerja secara sukarela. Tidak disuruh, tidak di­gaji, tidak dilatih, tidak ditatar dan tidak terikat. Bukan itu saja bah­kan kelompok ini tidak memiliki “SK”, tidak memiliki kartu anggo­ta, tidak terorganisir, tidak berkan­tor dan tidak pernah dilantik. Karena itu keanggotaannya bersifat aktif, bekerja seenaknya dan menyebar luaskan informasi semuanya pula.

Selain itu, tim ini tidak pernah takut dirionjobkan karena memang tidak punya job; tidak pernah gen­tar dengan moncong senjata serta tidak pernah gemetar melihat borgol, pistol maupun bom moloton sehingga sangat sulit untuk dilarang beroperasi apalagi  untuk dihentikan.

Itulah sebabnya, dewan yuri ini, dari hari kehari anggotanya terus bertambah karena siapa saja yang hobby, gemar, senang menilai dan memberikan komentar terhadap setiap pikiran, ucapan, sikap dan tindakan orang lain kemudian menyebarluaskan penilaian dan komentarnya pada masyarakat maka orang itu sudah dikategori­kan sebagai dewan yuri.

Kelompok ini sangat besar, karena tumbuh dan berkembang dengan sendirinya serta tidak men­genal strata kehidupan. Anggotan­ya pun beraneka ragam, mulai dari saudara, keluarga, teman kerja, tetangga, sahabat, pembantu, sopir sampat ajudan sekalipun. Selain itu, juga tukang kebun, tukang ojek, tukang becak, penjual jamu, pen­jual sayur, kontraktor, buruh, pen­jaga gedung bahkan tidak menut­up kemungkinan, penulis, pem­baca, dan kita semua sudah ter­jaring sebaga anggota kelompok tersebut.

Karena itu tidaklah diherankan bila Tim Dewan Yuri ini selalu hari­ir di mana saja dan setia berdiri di berbagai sudut pintu rumah dan pintu kantor. Mereka sabar duduk di lorong jalanan, di pasar sentral, di terminal, di restoran, di warung pojok dan di hotel – hotel bahkan tekun mengintip di pinggir-pinggir, garasi, lapangan olah raga dan di berbagai lokasi proyek untuk membidik, memotret dan merekam seluruh kegiatan sang penguasa.

Dari hasil bidikan rekaman sang dewan yuri ini, kegiatan sehari-hari sang penguasa terdeteksi seluruh­nya, mulai dari kegiatan rutin sep­erti: cara tidur dan bangun tidur cara mandi dan sikat gigi, cara makan dan minum,cara berpaka­ian dan buka pakaian, cara duduk dan berdiri serta cara memberi dan menerima” amplop”.

Demikian pun dalam kegiatan kediriasan juga dibidik oleh tim dewan yuri ini seperti kegiatan cara membagi dan memberi proyek, cara bertamu dan menerima tamu, cara masuk dan keluar hotel, cara mengangkat dan memberhentikan pejabat serta cara membisik dan menerima bisikan.

Baik dari sa­habat, kolega, keluarga tetangga maupun pengusaha. Dari hasil kerja tim inilah, infor­tnasi kehidu­pan sang penguasa menjalar ke­mana-mana, sehingga menjadi bahan perbin­cangan orang dimana-mana pula bahkan di sudut-sudut kantor sekalipun orang selalu asyik mem­bicarakannya

Demikian uniknya hal tersebut sehingga banyak orang tidak mau kehilangan kesempatan ini untuk ikut ambil bagian membicakan kehidupan sang penguasa baik peja­bat, pengusaha, petani, nelayan maupun nelayan dan buruh dengan berbagai cara dan gaya misalnya duduk santai bersama keluarga sambil minum kopi dan menonton film telenovela di layar televisi Meskipun diakui bahwa infor­masi yang disajikan oleh tim redaksi dewan yuri ini cendrung negatif, propokatif dan tidak bertanggung jawab karena nara sumbernya tidak jelas namun berita yang dilemparkan ke masyarakat tetap saja diminati dan disenangi bahkan sebagian masyarakat banyak terserang “sakit kepala” bila tidak menelan “pil gossip” setiap hari.

Munculnya berbagai gossip dan tudirigan miring ini pada hakekatnya bersumber dari sikap dan per­ilaku yang tidak simpatik yang dipenontonkan oleh sang pengua­sa sendiri. Seperti masih terdapat­nya sang penguasa bersama isteri dan keluarganya yang hobby pam­er” kekuatan” dan pamer “kekayaan” pada saat diriobatkan sebagai penguasa. Pamer kekua­tan tersebut misalnya, sibuk mem­beli rumah, tanah, sawah, empang bahkan gunung sekali pun dengan menggunakan argumen yang san­gat sederhana yakni “Mumpung ada Kesempatan, Masl”.

Bukan itu saja bahkan tak terhi­lang sang penguasa bersama kelu­arganya asyik terbuai membeli mobil, gelang, cincin berlian, kursi dan lemari antik, mesin cuci impor, se­patu, bedak, lipstik dan farphum bua­tan Paris yang seluruhnya dilakukan demi menjaga gengsi jabatan akan memanfaatkan kesempatan.

Sungguh hal ini tidak dilarang bahkan pemerintah atau siapa saja termasuk “manusia milenium” dila­rang melarang untuk pembelian tersebut. Hanya saja hal demikian sangat tidak etik, sangat memilu­kan dan sangat memalukan apabi­la pada kondisi negara dalam keadaan sakit, rakyatnya merana, merintih, meronta dan tertatih-tatih mencari sesuap nasi untuk men­yambung hidup; lalu “sang pengua­sa” bersama isteri dan keluargan­ya melakukan pameran kekuatan dengan membeli barang-barang mewah secara berlebihan, apatah lagi bila pejabat tersebut barn saja dilantik.

Potret masyarakat seperti ini harus diterima oleh sang penguasa dengan lapang dada sebagai suatu resiko hidup bagi seorang “publik figur” yang dipilih oleh masyarakat sebagai penguasa. Bahkan issu, gossip dan tudirigan miring tentang apa saja yang digelindirigkan oleh para dewan yuri tersebut jangan­lah menjadi batu sandungan untuk tampil maju ke medan laga memimpin pasukan guna mengibar­kan bendera pembaharuan dan pembangunan di republik ini.

Dan bila perlu gossip tersebut dijadikan sebagai “obat kuat” un­tuk mendaki gunung, menerjang hutan belantara, merintis sungai – sungai, menyeberangi lautan, men­gitari lorong demi lorong jalan, mengunjungi kantong – kantong masa guna menangkap jeritan hati, masukan, usulan, saran dan kriti­kan dari seluruh rakyat di tanah air ini.

Di era sekarang ini, segenap rakyat Indonesia sungguh sangat merindukan tampilnya sang pen­guasa yang memiliki sifat merakyat, suka melempar senyum, suka men­yapa, suka memberi salam, suka bergaul, tampil sederhana serta biasa-biasa saja bahkan sungguh sangat terhormat. Apabila terdap­at seseorang yang ketika diriobat­kan sebagai penguasa, ia tampil memimpin barisan memakmurkan masjid, membantu pondok – pondok pesantren dan pendidikan lain­nya, menyantuni pakir miskin, men­gunjungi panti asuhan dan rumah Jompo serta memimpin pasukan untuk turun ke lapang melihat dan memberikan bantuan secara lang­sung pada setiap rakyat yang dit­impa musibah.

Dalam kondisi sekarang ini tam­paknya rakyat sangat merindukan pula hadirnya sang penguasa yang selalu dekat dengan petani, nelay­an dan pedagang, serta akrab ber­canda dengan tukang becak, tu­kang ojek, kondektur, sopir dan buruh pabrik bahkan tampil santai dan ramah bersua dengan penjual jamu, penjual ayam, penjual sayur dan rakyat kecil lainnya:

Sulit dibayangkan betapa indah­nya republik ini bila sang penguasa bersedia me­nyisihkan sedikit wak­tunya (sekali seminggu) untuk sera­pan pagi atau makan siang dan makan malam ber­sama dengan mengundang para pejabat, pen­gusaha, tokoh agama, tokoh adat, tokoh masyarakat dan tokoh lain­nya. Sambil membincangkan ber­bagai kendala program pemban­gunan yang akan dilaksanakan.

Sulit dibayangkan betapa indah­nya kehidupan di republik ini bila sang penguasa bersedia menyisih­kan sedikit waktunya (sekali sem­inggu) untuk sarapan pagi sambil membincang berbagai program pembangunan yang akan dilaksa­nakan bersama dengan para p6jabat, pengusaha, tokoh ‘agama, tokoh adat, tokoh masyarakat dan tokoh lainnya sambil “berkaraoke”. Sungguh sulit dibayangkan be­tapa sejuknya negara ini bila sang penguasa bersedia menyisihkan sedikit waktunya untuk santap siang bersama sambil duduk melakukan dialog terbuka dengan berbagai organisasi pemuda, LSM, wartawan, olahragawan dan sukarelawan dalam menyelesaikan segala problematika bangsa dan negara yang menghimpit sekarang ini serta berupaya menemukan so­lusinya.

Hasil survei menyebutkan bah­wa hal ini penting dilakukan oleh sang penguasa sebab salah satu sumber penyebab maraknya pem­bunuhan, perampokan, penga­niayaan, pengrusakan, pembaka­ran, perseteruan, perkelahian dan lain sebagainya akibat buntunya saluran komunikasi.

Saluran koordiriasi baik antar pejabat tinggi, antar politisi maupun antar pejabat dengan rakyatnya sendiri baik di pusat maupun di daerah. Karena itu untuk menghindari terulangnya hal tersebut sang pen­guasa dituntut untuk merajut kembali rasa persaudaraan, persa­habatan dan rasa kebersamaan melalui pendekatan “saromase – si pammase-mase, si pakatau dan si pakalebbi” baiK antar pejabat den­gan pejabat, antar pejabat dengan rakyat, maupun antara rakyat den­gan rakyat.

Hanya dengan membangun kembali jaringan komunikasi, koordiriasi dan konsultasi serta pendekatan di atas kita dapat membangun kembali Indonesia Baru serta menggapai harapan baru, kedamaian baru, kesejahteraan baru seiring dengan hadirnya pemimpin baru yakni, “Megawati Soekarno Putri”.

Kita berharap pada sang pen­guasa yang baru ini agar tidak mengulang sejarah pemimpin masa lalu yang suka “latah, arogan dan penuh dengan sandiwara” sehingga rakyat harus menanggung derita bangsa ini.

Kita berharap pula pada seluruh dewan yuri ini agar tetap selektif memilih dam memilah gossip yang akan di luncurkan ketengah masyarakat karena sungguh sangat hina di mata ALLAH bagi orang yang suka menyebarkan “aib” ses­amanya apatah lagi bila informasi tersebut tidak sesuai dengan sebe­narnya.

Semoga di bawah kepemimpi­nan Ibu Megawati Soekarno Putri dan segenap jajarannya dapat mengantar rakyat Indonesia kembali menemukan jati dirinya sebagai bangsa yang besar sertah disegani oleh negara lain di belah­an bumi ini.

Dan semoga dibawah nakhoda baru ini pula, kapal Indonesia akan terus berlayar dan segenap penum­pangnya tetap segar, tegar dan tetap penuh rasa haru menyanyi­kan lagu “Padamu Negeri Kami Berjanji, Padamu Negeri Kami Berbakti, dan Bagimu Negeri Jiwa Raga Kami.”

Filed under: Opini

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Welcome Myspace Comments

Penulis

Waktu

Tulisan-tulisan yang telah dimuat di berbagai media cetak lokal seperti Palopo Pos, Harian Fajar, Majalah Payung Luwu dan BUletin BPSDM yang memaparkan tentang fenomena sosial yang terjadi di Indonesia serta karya-karya yang bernafaskan Islam.

Anda Pengunjung Ke

Telah dikunjungi oleh

  • 119,407 pembaca

Deteksi Lokasi

Terima Kasih Kunjungannya

Thank You Myspace Comments
%d bloggers like this: