Prof. Dr. H. Paisal Halim, M.Hum

Di Atas Langit Masih Ada Langit

JABATAN DAN ZAT REAKTIFNYA

Menyoal tentang jabatan tidak akan pernah membosankan dibicarakan orang karena pada jabatan mengandung banyak sekali zat `penarik’ di dalamnya. Itulah sebabnya sehingga sejak dahulu, sekarang, dan yang akan datang, orang selalu asyik memperbincangkan jabatan, dalam tataran formal, informal, maupun dalam tataran individual, grad­ual dan bahkan dalam tataran massal.

Orang bijak pernah berkata bahwa : jabatan itu tidak akan pernah sepi dibi­carakan oleh orang, karena di dalam jabatan itu tersimpan sejumlah `mutiara’ yang dapat menyilaukan mata. Apabila memandangnya, maka dapat `meng­gugah rasa’, bahkan ingin memilikinya.

Demikian menariknya hal ini sehingga tidak sedikit orang yang kita jumpai ada ditengah-tengah masyarakat yang saling sikut. saling gasak, saling gesek, dan saling gosok untuk jabatan itu. Semua cara dan jalan dapat ditempuh. Sikut kanan-sikutkin, jilat atas-injakbawah; tidak peduli berbenturan dengan sahabat, keluarga, tetangga, maupun saudara. Bahkan tidak takut melanggar norma dan etika untuk mempertahankan dan meraih suatu jabatan.

Potret ini terus mengelindirig ke pin­rumah dan ke lorong-lorong setiap orang. Akibatnya, banyak kita jumpai di berbagai tempat orang saling mencurigai, saling tile mata-matai, saling mengintip satu sama lain, konflik antar keluarga, tetangga, sahabat antar saudara demi jabatan itu. Demikian ganasnya pengaruh ‘zat reaktif jabatan itu, sehinga kita dapat melihat pada sikap dan prilaku yang dipertontonkan pelakon jabatan’ yang dilengserkan dari kursi jabatannya. Mis­alnya dulu ia kuat, kini tiba-tiba lemah, loyo dan tak berdaya. Jika dulu ia suka tertawa, kini menjadi pemurung dan sebagainya.

Demikian pun terhadap orang yang baru memegang jabatan dapat begitu cepat berubah, misalnya, dulunya ia lemah, loyo dan tak berdaya, kini tiba-tiba superman, kuat dan tegar. Awalnya dia kerempeng dan keropos, kini menjadi gemuk dengan perut tam­bun, dulunya suaranya seperti mesin Izuzu Panther (nyaris tak terdengar) kini menjadi keras seperti mesin Heller. Dan yang pasti kalau dulunya dompet berisi daftar tagihan kredit, kini penuh dengan kar­tu deposito di berbagai Bank. Dan masih sed­eretan lagi daftar perubahan yangdimiliki oleh sang pejabat yang tidak sempat disebutkan disini.

Perubahan ini sungguh sangat cepat dan hampir orang tak percaya, namun demikianlah faktanya. Karena itu, rasan­ya tidak berlebihan bila penulis menga­jukan suatu pandangan tentang perlun­ya menelusun `kandungan zat’ yang ter­muat dalam jabatan’ itu. Gagasan ini penulis `sodorkan’ kepada para guru besar di perguruan tinggi, para dokter di rumah sakit, sarjana farmasi di labora­toriumnya. tokoh agama, cendekiawan, dan elemen masyarakat lainnya untuk didiskusikan secara rilex sambil minum kopi, membaca. menonton Telenovela atau sambil berolahraga.

Hal ini penting didiskusikan karena realitas menunjukkan bahwa tidak sedi­kit saudara, keluarga, sahabat kerabat dan handai taulan yang terpaksa harus diopname di rumah sakit karena jabatan. Mereka `sakit’ kena ‘zat reaktif’ jabatan itu yang secara tiba-tiba berubah menjadi `virus’ sehingga membuat seseorang panik, resah, gelisah karena mendengar akan dilengserkan dari kursi jabatannya

Selain itu, tidak sedikit pula kita jum­pai potret orang yang dilengserkan dari sebuah kursi jabatannya memiliki gam­bar yang memprihatinkan seperti: muka kucing berwajah harimau: wajah lebih tua dari usia: orang lain yang dicerit­era, ia yang tersinggung: orang lain yang dipegang, ia yang bergetar; senyum pun sulit apalagi ketawa dunia terasa sem­pit seolah-olah bukan lagi untuknya: tempat keramaian sudah dianggap kubu­ran bahkan, khatib yang berkhutbah di masjid dicurigai sebagai jaksa penuntut umum yang menuntut dirinya.

Demikian pula terhadap orang yang kebetulan dinobatkan menduduki kursi jabatan tidak sedikit yang memperlihat­kan keanehan dalam dirinya akibat terserang virus jabatan semisal virus ‘AIDS’ (Angkuh, irihati, dendam, dan sombong sehingga lupa pada Tuhan yang memberinya jabatan, lupa diri, lupa sahabat, lupa tetangga. lupa saudara. Lupa suasana sebelum menjadi pejabat. bahkan lupa ibu dan bapak yang pernah melahirkan dai membesarkannya.

Demikian besar pengaruh zat reaktif mi dalam mengubah sikap dan prilaku manusia sehingga perlu terus diwaspadai sendiri nun-kin. Tujuannya agar Zat tidak berubah menjadi virus yang dapat menggerogoti kehidupan dan keyakinan umat manusia. Sebab survey di lapangan menunjukkan bahwa tidak sedikit manusia yang selalu menggugat Tuhan apabila ditimpah musibah, dan sebaliknya tidak sedikit pula manusia yang selalu melupakan Tuhan apabila mendapat kesenangan.

Kita tak dapat pungkiri bahwa masih terdapat banyak manusia pada saat ini terbelenggu kemiskinan. Ibadahnya tidak pernah goyah, doanya mantap, sujudnya sempurna, tasbihnya lengkap. Bukanitu saja, bahkan ia berjanji jika diberi kekayaan atau jabatan oleh Tuhan, ia akan banyak menolong orang lemah, membangun mesjid, menyantuni fakir miskin, menegakkan kebenaran, berpihak pada orang banyak, serta berjuang memakmurkan masjid atau rumah ibadah lainnya.

Namun pada saat ia mendapatkannya. Semua sikap dan janji tersebut terlupa­kan, terabaikan dan bahkan terlantarkan. Sehingga sikap dan janji yang pernah diucapkan itu kini hanya tinggal menjadi kenangan dan deretan katak-kata in­dah nan puitis belaka.

Padahal, sejarah banyak menyodorkan fakta-fakta bahwa harta, kedudukan, pangkat dan jabatan itu hanyalah `titipan’ semata yang setiap saat dapat ditariknya kembali bila Tuhan menghendaki dan tak ada satu pun kekuatan yang dapat menahan hal terscbut. Bu­kan itu saja bahkan ‘nyawa sang pemegang jabatan’ itu sendiri dapat di­angkat dari tubuhnya apabila Tuhan menghendaki.

Kita masih mengingat raja Namruzt yang hidup di zaman Nabi Ibrahim. Beliau adalah `sang raja di raja’. Jabatan­nya luas dan tak terbatas, kekayaannya melimpah tak terbilang, keberanian dan kekuatannya tak tertandingi sedikitpun oleh manusia pada saat itu. la pongah. sombong, angkuh, dan takahbur; ke­jam, bengis, pembunuh,bahkan ia meno­hatkan dirinya sebagai “Tuhan”.

Namun takkala Tuhan menghendaki ‘Sang raja di raja’ lni dipermalukan di hadapan pengikutnya dengan hanya mengirimkan ribuan ‘lalat” untuk mengerumuni tubuh ‘sang raja di raja ini sehingga kemanapun Namruzt pergi ribuan ‘lalat’ itu terus mengawal, men­gikuti, dan menghimpitnya Semakin ia bergerak dan berteriak “lalat” pun semakin membungkus dan mengerumuninya sehingga ia mati mengenaskan hanya dengan serbuan ‘lalat-lalat’ itu. Bila demikian halnya, mu­ngkinkah kita masih memiliki simpanan kebesaran untuk diagung-agungkan ?

Inilah pelajaran yang sangat berharga bagi kita semua bahwa sungguh manusia tidak memiliki arti apa-apa di mata Tuhan. Karenanya. janganlah ber­hubung dada apa lagi lupa diri, lupa pada yang membesarkan, dan lupa pada sang pencipta pada saat diberikan jabatan. atau kekayaan karena sungguh semua itu hanyalah titipan dan ujian semata.

Filed under: Opini

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Welcome Myspace Comments

Penulis

Waktu

Tulisan-tulisan yang telah dimuat di berbagai media cetak lokal seperti Palopo Pos, Harian Fajar, Majalah Payung Luwu dan BUletin BPSDM yang memaparkan tentang fenomena sosial yang terjadi di Indonesia serta karya-karya yang bernafaskan Islam.

Anda Pengunjung Ke

Telah dikunjungi oleh

  • 119,407 pembaca

Deteksi Lokasi

Terima Kasih Kunjungannya

Thank You Myspace Comments
%d bloggers like this: