Prof. Dr. H. Paisal Halim, M.Hum

Di Atas Langit Masih Ada Langit

Pejabat dan Mantan Pejabat

Tidak bisa disangkali, salah satu penyebab yang menggiurkan yang untuk menduduki kursi jabatan pemerintahan adalah banyaknya fasi­litas jabatan yang didapatkan, dan pendapatan yang dapat dinikmati ketika duduk’ di kursi empuk itu. tidaklah mengherankan bila sebelumnya dia tinggal di rumah kontra­kan atau rumah BTN, setelah mendudu­ki kursi itu dia kemudian bermukim di istana mewah. Jika dulu dompetnya beri­si daftar kredit kini penuh dengan kartu berbagai Bank. Pun, jika dulu memiliki gubuk kini membangun rumah mewah di berbagai tempat deretan lagi `daftar’ perubahan terjadi dalam diri seseorang menjadi seorang pejabat.

Sebagai pejabat, orang pun selalu hormat, bahkan tidak jarang yang meneri­ma tambahan gelar dadakan’ seperti Opu, Puang, Karaeng. Meskipun dia sadari bahwa gelar yang diterimanya tidak layak dan tidak etik untuk disan­dangnya, namun juga banyak juga sang peja­bat pura-pura tidak tahu. Karena memang konon embel-embel’ itu sangat dirindukannya.

Itulah sebabnya  tidak sedikit orang yang kita jumpai dalam perebutan kursi jabatan itu rela bertarung habis-habisan demi meraih kemenangan. Realitas itu dilakukan karena orang sering melihat bahwa setiap ucapan, tindakan, maupun perintah yang dikeluarkan oleh sang pejabat sudah pasti dipatuhi oleh bawahan dan tidak ada seorang pun yang berani membantah apalagi menolak. Selain itu, kemanapun sang pejabat pergi selalu saja dipersenjatai dengan sejumlah fasilitas. Seperti mobil, pengawal pribadi, dan segala macam lampiran – lampirannya. Bahkan tanda tangannya pun sangat ditakuti karena sering diujung goresan pena itu nasib orang banyak ditentukan.

Pula jabatan yang dia sandang, ke­hidupannya senantiasa bertabur fasilitas Yang nyaman dengan embel-embel dinas. Misalnya, rumah dinas, kendaraan dinas, biaya perjalanan dinas, uang saku dinas, pakaian dinas, sepatu dinas. Enaknya lagi, segala ucapan, pikiran dan tindakan sang pejabat seluruhnya dikon­versi dengan stempel dan cap `dinas’. Bukan itu saja, bahkan biaya telepon, biaya air, makanan, minuman, parcel, televisi, mesin cuci, serta biaya perabot lainnya seluruhnya atas biaya dinas.

Demikian menariknya jabatan itu, se­hingga setiap pejabat yang baru dilantik, namanya langsung berkibar, melejit, menggema dan menerobos ‘pintu’ hati dan pintu rumah setiap saudara, keluar­ga, kolega, maupun tetangga. Anehnya, mereka semuaterpanggil untuk cepat bertamu sambil membawa kado, parcel, bunga ucapan selamat, bahkan tidak sedikit yang menawarkan diri untuk memotong kerbau, kambing, ayam. Guna merayakan pelantikan tersebut. Sebaliknya, bagi pejabat yang baru saja melepaskan ‘kursi empuknya’, lang­sung diabaikan dan terlupakan saat itu oleh atasan, keluarga, sahabat, maupun teta­ngga. Bahkan, konon, orangpun sudah `malas bertamu’, apatah lagi mau mem­bawa “parcel atau ‘kado’ seperti biasa.

Kalau pun ada yang `bertamu’ bi­asanya hanya petugas pembawa daftar `tagihan listrik’, tagihan telepon, dan tagi­han kredit. Kesemuanya cenderung membuat sang mantan pejabat merasa kesal, sakit hati, bahkan terkucilkan. Karenanya, tidaklah mengherankan bila sebahagian mantan pejabat, biasanya lebih memilih tinggal di rumah menonton ‘telenovela, memotong kuku, dan cabut­-cabut jenggot sekaligus merenungi nasib.

Bukan itu saja, bahkan. kitapun sering menyaksikan sikap dan prilaku orang yang dicopot dari jabatannya itu cen­drung ‘memprihatinkan’. Misalnya, suka terbendung, kurang nafsu makan, susah tidur, kurus, pucat, suka meny­endiri, dan ‘malu’ dilihat orang. Bahkan, tidak sedikit yang diserang berbagai pen­yakit seperti lumpuh, lever,jantung, ginjal, stress dan sebagainya. Kesemua ini dapat saja terjadi apabila sang mantan pejabat tersebut tidak memiliki sanda­ran vertikal yang kokoh.

Sekali lagi, tak dapat disangkali, `po­tret’ seperti ini sering saja terlihat pada diri sang mantan pejabat. Sudah men­jadi hukum alam reatiatas itu terjadi di­mana-mana, baik di pusat, maupun di daerah. Itu juga terjadi sejak dulu. saat ini, dam mungkin saat mendatang.

Itulah `keajaiban’ kursi jabatan. Kadang membuat manusia tertawa `terbahak-bahak’, menangis terseduh, ketika `berpisah’ dengan kursinya. Meskipun para gurutta dan anre gu­rutta (istilah kiai di Sulsel) selalu mengingatkan pada setiap manusia bahwa jabatan dan kekuasaan itu hanyalah amanah, dan menyia-nyiakan amanah adalah khianat. Namun toh, banyak juga manusia selalu saja terlena.

Demikian `romantis’ dan kuatnya kandungan ‘zat aditif” jabatan itu, se­hingga mempengaruhi manusia. Mu­ngkin karena itu pala negara mengisyaratkan agar setiap orang yang akan memangku jabatan, terlebih dahulu mengangkat sumpah menurut agama dan kepercayaannya masing-masmg. Sumpah tersebut selain sebagai alat pengikat bathin. sekaligus sebagai `rem’ bagi sang pejabat dalam melak­sanakan amanat yang dipercayakan kepadanya. Sebab, sumpah yang diu­capkan tersebut akan dimintakan per­tanggungjawabannya di hadapan Tu­han pada hari kemudian nanti.

Bahkan, setiap denyut nadi, aliran darah, detakjantung, alur pikiran, uca­pan, sikap, keputusan, kebijakan dan, tindakan yang dilakukan selama men­jadi “pejabat” akan dimintakan pula pertanggungjawabannya. Dalam konteks ini, mungkin manusia berpikir da­pat lolos dari pertanggungjawaban di hadapan jaksa, hakim, atasan. dan bisa juga dihadapan masyarakat. Katakanlah itu hanya sekedar pengadilan sandiwara’. Yang pasti, mereka yang `remnya bolong’ itu pasti takkan lolos dari pertanggung­jawaban di pengadilan akhirat.

Saking besarnya nilai tanggung jawab `jabatan’ itu di mata Tuhan, sehingga `tembakan salvo’ yang mengiringi jenasah prajurit TNI­ POLRI Veteran dipemakaman, tidak mampu memberikan sedikitpun rasa takut Malaikat Mungkar Nakir untuk sidang pertama pada “penga­dilan alam kubur. Demikianpun  komando, tanda jabatan, pangkat, ijazah dan gelar yang mengiringi sang  “mayat” di alam barzah, tidak mampu menghambat malaikat Penjaga Kubur untuk mengajukan pertanyaan dan tuntutannya.

Bahkan deretan tahta, deretan harta, deretan wanita dan deretan toyota, yang dimiliki  oleh sang penguasa, dan siapap­un juga ketika hidup di dunia ini; tidak akan sanggup melumpuhkan keinginan sang malaikat” penjaga kubur untuk memaksa tamunya ” mengikuti per­sidangan di alam tersebut.

Lalu bila hal ini di yakini oleh manu­sia, masihkah  juga mereka mau saling sikut. saling tindis, saling injak, saling tonjok dan saling gigit satu sama lain dengan memperebutkan jaba­tan itu? Lagi-lagi jawabnya hanya ada pada sang pemburu kekuasaan, pem­beri kekuasaan dan pemegang kekua­saan.

Meskipun demikian rumit gambarannya, namun kita tidak dapat men­yangkali bahwa drama pergan­tian jabatan itu tidak sedikit juga ak­tor kawakan yang memperlihatkan jati dirinya sebagai pemain yang “berbakat” dan berkelas, taktala dinobatkan se­bagai pejabat. Misalnya. mereka se­makin rajin bersujud di masjid, aktif menyantuni yatim piatu, senang membangun pesantren, suka memberi makan fakir miskin, serta rela menjadi bapak angkat bagi anak-anak yang tidak mampu. Demikianpun terhadap orang yang “dilengserkan” dari jabatannya. Tak terbilang pula jumlah mereka juga tetap tegar, segar, bugar, senyum, damai, santai serta tetap bersujud pada sang pencipta. Kesemua ini dilakukan kare­na mereka menyadari bahwa ` jabatan” itu hanyalah titipan, ujian dan amanah yang datang dan pergi berdasarkan kehendak “sang sutradara” yakni Tu­han Yang Maha Kuasa.

Karenanya, penulis mengajak pada kita semua untuk “tidak terlena” apalagi “terperosok” dalam perseteruan terse­but karena pasti akan berujung den­gan penggugatan. Baik penggugatan pada diri sendiri, penggugatan pada orang lain, penggugatan pada putusan dewan yuri (atasan) dan hendak menut­up kemungkinan penggugatan pada sang pencipta. Padahal, jabatan dan kehidupan ini hanyalah sementara dan setiap orang hanya tinggal menunggu “giliran” saja. Karena itu penulis da­tang mengetuk pintu hati pejabat dan mantan pejabat, serta kita semua, ma­rilah bersiap-siap; mari berbenah diri; mari menghitung amal dan dosa yang pernah kita perbuat. Bukan itu saja, bahkan mari kita berlomba menanam modal di berbagai tabun­gan “Deposito akhirat”, demi mem­bangun dan meraih rumah masa depan kita yang sesungguhnya.

Filed under: Opini

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Welcome Myspace Comments

Penulis

Waktu

Tulisan-tulisan yang telah dimuat di berbagai media cetak lokal seperti Palopo Pos, Harian Fajar, Majalah Payung Luwu dan BUletin BPSDM yang memaparkan tentang fenomena sosial yang terjadi di Indonesia serta karya-karya yang bernafaskan Islam.

Anda Pengunjung Ke

Telah dikunjungi oleh

  • 119,407 pembaca

Deteksi Lokasi

Terima Kasih Kunjungannya

Thank You Myspace Comments
%d bloggers like this: