Prof. Dr. H. Paisal Halim, M.Hum

Di Atas Langit Masih Ada Langit

Wakil Rakyat dan Rakyat

MUNGKIN tidak berlebihan mengawali tulisan ini penu­lis menyuguhkan salah satu lirik lagu ­karya Iwan Fals yang berjudul  “wakil rakyat”. Lirik lagu ini sengaja disuguhkan untuk menjadi bahan renungan sekaligus suntikan vitamin ba­gi wakil rakyat agar tetap gigih memperjuangkan kepent­ingan rakyat di republik ini, meskipun seandainya besok langit akan runtuh.

Dalam lirik lagu tersebut disebutkan bahwa, ” wakil rakyat seharusnya merakyat, jangan tidur, waktu sidang tentang rakyat”. Anda dipilih bukan dilotere. Wakil rakyat bukan paduan suara, juara diam, juara ketawa, ha ha ha. Lirik lagu ini digubah oleh Iwan Fals, se­orang seniman muda, merakyat, produktif dan banyak mencipta lagu yang bernuansa kritik terhadap fenomena sosial yang berkembang di masyarakat.

Lagu tersebut digubah bertepa­tan pada saat berlangsungnya sidang umum MPR yang mana saat itu dilayar televisi sebahagi­an wakil rakyat yang mengikuti persidangan banyak yang tidur, baca koran, bercanda, tertawa ter­bahak-bahak dan berteriak secara bersamaan ” setuju ” di saat pimpinman dewan meminta persetujua­nnya. Bagi wakil rakyat, lagu tersebut tidak perlu ditanggapi untuk membela diri, apatah lagi menggugat penciptanya di pen­gadilan. Mungkin lebih arif bila wakil rakyat menjadikan lagu tersebut sebagai sarana untuk in­trospeksi diri guna mengaca diri, apakah lirik lagu yang dimaksud ada pada diri mereka.

Pula kritik tersebut janganlah membuat para wakil rakyat ke­bakaran jenggot, atau menafikan­nya begitu saja apabila tidak ada unsur kebenarannya. Namun se­bagai publik figur dan orang yang dimandatir mewakili rakyat untuk duduk di lembaga yang penuh dengan fasilitas itu hendaknya setiap kritikan yang ditujukan ke­padanya dijadikan sebagai “obat kuat ” atau setidak-tidaknya di­jadikan sebagai “multi vitamin” guna lebih mendorong menyuar­akan aspirasi rakyat di gedung parlemen.

Bukan itu saja, bahkan saran dan kritikan yang ada sepatutnya para wakil rakyat lebih mawas diri dan hadap diri bahwa kehadiran­nya di lembaga yang terhormat itu adalah berkat adanya dukungan dari rakyat yang kini sebahagian besar ditimpa kelaparan, kekuran­gan gizi, ditimpa berbagai penya­kit, kebodohan, kemiskinan, ket­erbelakangan akibat krisis yang melanda republik ini sejak tahun 1997 yang lalu.

Kesemua persoalan tersebut di atas membutuhkan kesunggu­han, keseriusan dan kepedulian dari para wakil rakyat untuk men­yahutinya bersama pemerintah dengan menyusun rencana pem­bangunan yang lebih sesuai den­gan kebutuhan rakyat. Sungguh, berjuta-juta rakyat di republik ini menitipkan harapan kepada seg­enap wakil rakyat agar mau ber­juang menyuarakan rintihan dan keluhan rakyat dari berbagai pelosok daerah dan tanah air pada lembaga parlemen yang terhormat dan megah itu. Sudah menjadi pengetahuan umum bagi rakyat bahwa lembaga tempat wakil rakyat duduk berkantor, ber­adang, berbicara, rapat dan sebagainya disebut dengan istilah parlemen.

Parlemen, dalam bahasa latin disebut parliamentum atau par­ler dalam bahasa Perancis yang artinya “berbicara”. Dengan demikian lembaga parlemen ini merupakan gedung terhormat di mana orang yang duduk di lem­baga tersebut adalah orang-orang pilihan, delegator ulung, berwawasan luas, pintar berbicara, pandai bergaul, berkomunikasi, pandai meloby, dikenal oleh rakyat, diyakini kredibilitasnya serta mampu berbicara sekeras-kerasnya untuk kepentingan rakyat banyak.

Hanya saja persoalannya ad­alah apakah benar para wakil rakyat yang duduk di lembaga tersebut benar-benar wakil rakyat atau wakil partai atau mewakili yang lain? Pertanyaan inilah yang sering dikemukakan oleh rakyat kebanyakan di era reformasi ini. Namun tidak perlu dijawab. Terlepas dari apa pun jawabnya, yang pas dan pasti, para wakil rakyat setiap tahun selalu bersidang me­netapkan Anggaran Pendapatan Belanja Negara dan Daerah (APBN dan APBD).

Dalam persidangan tersebut seluruh pembicaraan diarahkan pada upaya membangun repub­lik dan daerah ini menuju pada kesejahteraan dan kemakmuran seluruh rakyat. Namun hasilnya belum memuaskan sebagaimana yang didambakan karena men­gubah republik ini tidak dapat di­lakukan dengan hanya mengandal­kan rumus sim salabim dengan meniup Lampu Aladiri seperti yang dilakukan oleh pemain sulap.

Pembahasan dan peletakan anggaran pasal demi pasal yang tertuang dalam batang tubuh APBN dan APBD tidaklah mudah. Pembahasannya pun di­lakukan berhari-hari, minggu dan bahkan berbulan-bulan. Bukan saja dibahas dalam ruang parle­men melainkan juga para wakil rakyat turun ke lapang, menembus hutan belantara, menyisir lorong demi lorong, mendaki gunung, mengunjungi masyarakat terpen­cil sekali pun. Hal ini dilakukan selain untuk menjemput rintihan dan kemauan rakyat di berbagai pelosok juga sekaligus menguji keshahihan efektif tidaknya rencana pemerintah yang dituangkan dalam RAPBN dan RAPBD tersebut.

Kesemua itu dilakukan sebagai wujud kepedulian dan tanggung jawab moral sebagai wakil rakyat dalam memperjua­ngkan kepentingan rakyat. Sekali lagi semua ini dilakukan oleh para wakil rakyat, karena disadari bahwa apa yang akan dibuat oleh  pemerintah pasti berangkat dari pembiayaan ha­sil uang cucuran keringat para buruh, tukang becak, tukang ojek, pedagang, guru, pegawai dan sebagainya yang dikumpul  melalui retribusi dan pajak.

Dengan kesadaran dan tang­gung jawab moral seperti itulah para wakil rakyat benar-benar selektif dalam membahas RAPBN dan RAPBD yang diaju­kan oleh pemerintah kepada DPR. Karena itulah apa yang dibuat dan dibangun oleh pemerintah selama ini, berupa gedung, jalanan, perumahan, pendidikan, kesehatan pertanian, pertambakan, pertambangan, sarana keagamaan, pengembangan SDM, hukum, keamanan dan seluruh program yang dicanangkan oleh pemerin­tah pada hakekatnya tidak terle­pas dari hasil kerja. dan curahan pikiran para wakil rakyat.

Dikatakan demikian karena se­mua yang dilakukan oleh pemer­intah senantiasa mendapatkan persetujuan dari dewan perwak­ilan rakyat. Tak dapat dipungkiri bahwa tidak sedikit wakil rakyat yang ketika berkampanye dulu banyak mengumbar janji dan slog­am yang menggiurkan bahwa akan berjuang habis-habisan un­tuk kepentingan rakyat apabila terpilih sebagai wakil rakyat. Na­mun saat terpilih banyak yang melupakan janji-janji tersebut. Itu sebabnya banyak rakyat menag­ih janji itu yang sampai kini be­lum terwujud.

Dengan melupakan janji terse­but, tidak sedikit rakyat kini tidak percaya lagi pada wakilnya. Mu­ngkin karena wakil rakyat yang demikian telah tersilap dengan enaknya duduk di ruangan ber­AC, atau tersilap karena keenakan dengan kendaraan mewah, fasili­tas jabatan, dan sebagainya. Tidak hanya itu, bahkan tidak sedikit wakilrakyat justru sudah menjauh dari rakyat yang diwak­ilinya. Akibatnya para wakil rakyat sudah jarang berkomunikasi den­gan rakyatnya apatah lagi mem­bantu konstituenya apabila ditim­pa musibah, sakit, kematian, kela­paran dan sebagainya.

Padahal sungguh rakyat sangat merindukan wakil rakyat semisal di Brunai, Singapura, Malaysia dan di berbagai negara di belah­an bumi ini yang ketika ada rakyatnya yang ditimpa sakit, atau membutuhkan pertolongan, tertimpa musibah kebakaran, ban­jir, kelaparan, kematian dan se­bagainya, para wakil rakyatnya turun langsung dengan sarana kendaraan yang dimiliki, uang pribadi, pikiran dan tenaganya dis­umbangkan kepada konstituen­nya yang ditimpa musibah terse­but.

Alangkah bangganya rakyat di negara yang memiliki wakil rakyat seperti di negara tersebut. Bila hal ini terjadi di Indonesia, sungguh rakyat mengaguminya dan bah­kan alangkah terhormatnya bila ada wakil rakyat yang mampu berbuat demikian.

Untuk menciptakan wakil rakyat yang demikian dan didambakan oleh rakyat, mungkin tidak ada salahnya bila memasuki tahun 2002 ini sikap dan prilaku wakil rakyat sudah perlu diubah yakni dari banyak duduk di kantor mem­baca koran, bercerita, menunggu laporan dan masukan dari rakyat ke prilaku banyak terjun ke ten­gah-tengah masyarakat.

Sungguh patut direnungi bah­wa wakil rakyat hakekatnya han­yalah wakil, delegasi, utusan dari rakyat. Bukan atasan rakyat, dan kehadirannya tidak akan pernah ada di parlemen tanpa rakyat yang mengutusnya. Karena itu sangat memalukan dan memilukan apabi­la ada wakil rakyat yang jauh dari rakyat apalagi kalau sampai tidak dikenal oleh rakyat.

Renungan tersebut perlu di­lakukan karena bagaimana mu­ngkin wakil rakyat dapat mema­hami keinginan dan kebutuhan rakyat apatahlagi mau memper­juangkan kepentingan rakyat apabila para wakilnya sendiri jarang ke masyarakat, jarang ke masjid, jarang berdialog dengan, rakyat jarang survey ke pasar atau jarang bergaul dengan rakyat; yang diwakili dan memilihnya.

Padahal sungguh sangat ter­hormat, apabila para wakil rakyat banyak turun ke lapang menjem­put informasi, mengadakan sur­vey pasar dari pada tinggal duduk di kantor menunggu lapo­ran dari rakyat.

Adalah suatu kegiatan yang terhormat apabila para wakil rakyat banyak turun ke lapang melakukan dialog. Dialog dengah petani, nelayan, buruh, pedagang, ulama, intelek, guru dan se­bagainya. dari pada turun ke lapangan secara periodik dengan model reses yang cenderung for­mal, tergesa-gesa dan verbalistik.

ADALAH suatu prestasi dan terobosan gemilang yang di­lakukan oleh para wakil rakyat apabila mau memodifikasi perte­muan dan dialognya dengan mengundang secara berkala dan berstruktur tokoh agama, tokoh adat, pemuda, wanita, LSM, tu­kang ojek, buruh, petani, nelay­an dan organisasi lainnya untuk duduk santai di gedung dewan yang terhormat sambil menik­mati kopi morning, makan siang bersama. Atau menciptakan program dialog yang menarik. simpatik, estetik, artistik, men­didik, familiar, dan ditaburi den­gan sikap dan prilaku sipaka­tau, sikanaasei dan sikanzali’i antara satu dengan lainnya.

Hal ini sangat perlu dilakukan karena sungguh rakyat banyak berharap, agar para wakil rakyat yang duduk di gedung parlemen tidak hanya asal bicara, asal ngomong, asal bunyi di lembaga yang terhormat itu bila tanpa didukung dengan data, fakta dan kajian mendalam terhadap apa yang akan diucapkan. Kesemua ini penting untuk direnungi oleh para wakil rakyat karena jangan sampai apa yang disuarakan atau diperjuangkan hanyalah be­rangkat dari dorongan pikiran dan emosi pribadi semata, kemudian mengatasnamakan kepentingan rakyat. Itulah sebabnya diperlu­kan banyak kajian dan dialog dari berbagai orang yang benar-benar kredibel dan memahami per­masalahan.

Semua ini dapat saja terhindar­kan jika para wakil rakyat selalu meningkatkan wawasan, penge­tahuan, pemahaman, ketajaman pikiran, kepekaan bathin, serta banyak melakukan dialog. Baik dengan akademisi, kaum terpela­jar dan tokoh-tokoh yang diang­gap memiliki kompetensi terhadap apa yang akan dibicarakan. Salah satu solusi yang sangat arif un­tuk dilakukan oleh para .kaki: rakyat adalah mengubah pola kantor yakni dengan banyak berkantor di luar gedung. Banyak mengunjungi konstituennya di berbagai pelosok, kecamatan, pusat-pusat keramaian. Kantong-­kantong massa, perguruan ting­gi, dan organisasi lainnya.

Hanya dengan kiprah seperti itulah, para wakil rakyat akan banyak menerima masukan yang le­gitimate dibanding hanya dengan duduk di kantor menerima rakyat memberikan masukan dan kritikan. Demikian pula bila para wakil rakyat selalu bela diri terhadap masukan, kritikan dan saran maka tidak mustahil akan mungkin dialog semisal dialog antara gen­teng dengan tiang. Dialog terse­but sebagai berikut;

“Tiang”!, kata genteng. ” Set­engah mati aku melindungi dan memperjuangkanmu. Coba bay­angkan, kalau panas, saya kepa­nasan, hujan kehujanan, sement­ara kamu enak-enak saja, tanpa kena hujan dan panasnya matahari. Bukan itu saja, bahkan bila anak-anak melempar batu, atau layang-layang mereka tersangkut, saya yang disambit oleh mereka. Coba bayangkan bagaimana kerasnya perjuangan saya melin­dungi kamu semua,” jawab tiang.

Genteng:” Kamu jangan bicara sembarangan. Mentang-mentang di atas ketinggian, lalu seenakn­ya bicara. Kau harus ingat, you tidak mungkin bertengger di atas kalau saya tidak dukung dari bawah. Karenanya jangan men­tang-mentang sudah menjadi anggota DPR, MPR, DPRD mau bicara seenaknya, Anda harus sadar. Tidak mungkin duduk di situ kalau kami rakyat tidak memi­lih dan mendukung dari bawah”.

Sungguh sangat ironis apabila ada di antara wakil rakyat yang melakukan sikap dan prilaku seperti benteng yang merasa hebat dan berjasa melindungi seluruh bagian bangunan sementara dia lupa bah­wa dirinya dapat duduk paling di atas, menikmati udara sejuk, peman­dangan indah, pendapatan yang banyak, fasilitas negara dengan segala kehormatan dana pujian akibat ditopang dari bawah serta dipilih oleh rakyat. Semoga potret yang dimainkan oleh genteng dalam cerita itu tidak terimbas pada diri wakil rakyat. Bukan itu saja kita juga berharap dialog di atas hanya ada dalam cerita bela­ka.

Filed under: Opini

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Welcome Myspace Comments

Penulis

Waktu

Tulisan-tulisan yang telah dimuat di berbagai media cetak lokal seperti Palopo Pos, Harian Fajar, Majalah Payung Luwu dan BUletin BPSDM yang memaparkan tentang fenomena sosial yang terjadi di Indonesia serta karya-karya yang bernafaskan Islam.

Anda Pengunjung Ke

Telah dikunjungi oleh

  • 119,407 pembaca

Deteksi Lokasi

Terima Kasih Kunjungannya

Thank You Myspace Comments
%d bloggers like this: