Prof. Dr. H. Paisal Halim, M.Hum

Di Atas Langit Masih Ada Langit

BUNG KARNO DAN PANGGUNG POLITIK

Ternyata di Tana Luwu yang terkenal dengan julukan Tanah Luwu Wanua ilappatuo Na Ewai Alena’ begitu banyak orang yang mencintai dan mengagumi Bung Karno. Hanya saja sangat disayang­kan karena pada hari  ulang tahun beliau yang ke-101, tak ada aktifitas dari berbagai pihak, khususnya dari kalangan organisasi dan pemerintah di Kabupaten Luwu untuk memperingati hari kelahiran beliau.

Ketika penulis mengirimkan `kado’ Ulang Tahun ke 101 (6Juni 1901) kepada Almarhum Bung Karno melalui tulisan di Media Harian Palopo Pos berbagai ucapan selamat dan senyum simpatik penulis terima. Baik dari rekan dosen, guru, karyawan, tukang ojek, tukang becak dan sebagainya. Demikian pun ketika penulis menghadiri acara pelanti­kan anggota DPRD Luwu dari Fraksi TNI-Polri (pergantian antar waktu) pada tanggal 27 Juni 2002 lalu, Drs Said Tjulla selaku teman, rekan, saudara, sahabat sekaligus guru saya juga mengomentari tulisan tersebut. Bahkan beliau berkata bahwa Bung Karno adalah sosok pemimpin yang paripurna. Beliau mencintai rakyat sekaligus dicintai oleh rakyat. Bung Karno ahli pidato sekaligus ahli menulis di surat kabar. Dengan senjata pidato ini menulis itulah, Bung Karno menggalang dan menghimpun ­kekuatan rakyat untuk,bangkit melawan penjajah. Dari hasil perjuangan inilah sehingg kita dapat berdiri sejajar dengan bangsa-bangsa lain di dunia. Karenanya kita patut untuk hormat dan berterima kasih kepada sang proklamator tersebut, tutur Pak Said Tjulla.

Mendengar komentar seperti itu, salah seorang rekan sahabat saya, yakni M. Sada yang juga hadir dalam pertemuan itu memberikan ucapan selamat kepada penu­lis sebagai simbol simpatik. Bukan itu saja, bahkan rekan tersebut mendorong untuk membaca berbagai tu­lisan Bung Karno sekaligus mengulas berbagai aktivitasnya di Harian Palopo Pos yang tercinta ini.

Sungguh ucapan selamat dan senyum simpatik yang penulis  terima ini memberikan isyarat yang sangat mendalam bahwa ternyata di tanah Luwu yang terkenal den­gan julukan “Tanah Luwu Wanua Mappatuo Na Ewai Alena” : banyak pula orang yang mencintai dan mengagumi Bung Karno. Hanya saja sangat disayangkan karena pad a hari ulang tahun beliau yang ke 101, penulis tidak melihat aktivitas dari berbagai pihak khususnya dari ka­langan organisasi dan pemerintah di Kabupaten Luwu untuk memperingati hari kelahiran beliau.

Padahal julukan `Tanah Luwu Wanua Mappatuo Naewai Alena’ merupakan percikan kalimat Datu Luwu Andi Djemma saat berdialog dengan Presiden Bung Karno. Percikan kalimat ini bagi kita orang Luwu sung­guh sangat mengandung nilai historis yang sangat ber­harga untuk diabadikan, agar jejak jejak sejarah kebesa­ran, kecerdasan dan kemuliaan Andi Djemma sebagai Datu Luwu tidak hilang begitu saja ditelan masa. Betapa  tidak, ketika presiden Republik Indonesia Bung Karno mengundang raja-raja untuk membicarakan pembangunan         yang ada di wilayah masing-masing, para raja kala itu, umumnya mengajukan permohonan kepada presiden pembangunan pisik di daerahnya.

Namun tatkala giliran Datu Luwu dipersilahkan untuk berbicara, Beliau hanyalah meminta agar di daerahnya diberikan jaminan pemulihan keamanan. Mendengar permintaan seperti itu, Bung Karno selaku presiden dan se­genap raja yang hadir saat itu cukup terheran-heran, na­mun Datu Luwu Andi Djemma memberikan alasan yang sangat logis dengan salah satu ungkapan bahasa simbolik. Ungkapan bahasa simbolik tersebut adalah bahwa `Tanah Luwu Wanua Mappatuo Naewai Alena’ (Tanah Luwu itu tanah yang menghidupkan dan mampu mengatasi dirinya sendiri.

Salah satu makna yang penulis tangkap. dari tutur tersebut adalah bahwa meskipun beliau diberi kesempatan untuk meminta sesuatu demi negerinya (Aji Mumpung), namun beliau tidak mau melakukannya sep­anjang ia masih sanggup mengatasinya. Sikap dan sifat seperti itu sangat sulit ditemukan pada diri seseorang kec­uali hanya pada satria sejati. Datu Luwu Andi Djemma telah memiliki sifat dan sikap seperti itu  dan telah dilukis dengan tinta emas dalam lembaran sejarah di republik ini.

Sejarah terus berputar dan sejarah tidak pernah beru­lang. Menurut pakar sejarah bahwa yang berulang han­yalah kemiripan-kemiripan peristiwa sejarah itu.Masa demi masa telah berlalu, demikian pun generasi demi gen­erasi silih berganti, namun sejarah mengandung pelaja­ran yang sangat berharga bagi orang yang mau memaknai peristiwa sejarah itu. Orang banyak pun berkata bahwa ; `His­toria Vitae Magistra’ (Sejarah adalah guru kehidupan yang paling baik )

Memilih panggung politik, bukanlah semata-mata keinginan Bung Karno, tetapi juga didukung ayahnya sendiri yakni Raden Sukerzzi Sosrodilzardjo. Dukungan ini tampak ketika Raden Sukemi menitipkan Bung Karno di rumah Tjokroaminoto saat melanjutkan  studinya di Surabaya. Langkah ini diambil oleh orangtuanya dengan tujuan selain Sukarno dapat menerima pendidikan di sekolah HBS, juga mendapat didikan kejiwaan dan belajar berjuang di lapangan politik dari Pak Tjokroaminoto.

Tatkala lahir pergerakan pemuda yang bernama `Tri Koro Darmo’, yang kemudian nama ini ditukar menjadi ‘Jong Java’ di Surabaya, Sukarno mendaftar sebagai anggota di pergerakan tersebut. Pada perkumpulan pemuda ini, Sukarno mulai mengembangkan semua bakat yang terpendam pada di­rinya, sehingga dalam waktu yang singkat saja Sukarno terkenal sebagai seorang `Singa Podium’. Demikian pula dalam hal tulis-menulis, Sukarno menjadi `biangnya’ kare­na beliau sangat piawai memainkan ide-ide dan gagasan-gagasnnya melalui artikel-artikel yang ditulis dalam surat kabar utusan Hindia saat itu.

Kefasihan lidah Bung Karno dan ketajaman penanya menulis dijadikan sebagai sarana memberi pengertian dan membangun kesadaran rakyat untuk berkorban melawan penjajah demi untuk mengangkat harkat dan martabat rakyat di republikini.

Dengan didasari kemauan dan cita-cita yang keras Bung Karno untuk terjun di panggung politik, maka se­lain ia aktif pada perkumpulan pemuda Jong Java, la pun mendaftar sebagai anggota partai politik :Sarekat Islam. Melalui Partai Sarekat Islam inilah Sukarno se­cara resmi memulai karir politiknya untuk berjuang melepaskan bangsanya dari kungkungan dan cengkraman penjajah.

Perlu pula diketahui bahwa sejak Sukarno menginjak­,” kaki nya di Surabaya dan masuk di HBS, tahun 1916, Sukarno termasuk siswa yang cakap sehingga Ia di kagu­mi dan di segani oleh teman-temannya. Bahkan guru­-gurunya pun merasa kagum dan gembira melihat bakat Bung Karno yang tiada tandingannya di HBS pada wak­tu. la seorang yang pandai dalam segala bidang. la allround’, ia jenius. Karena kejeniusannya sehingga semua mata pelajaran, baik bahasa, sejarah maupun ilmu pasti atau ilmu lainnya semuanya dikuasai, digayangnya mentah-mentah, termasuk mata pelajaran melukis dan menggambar.

Melihat sifat, tabiat, tingkah laku, serta pembawaan Bung Karno yang menunjukkan dia bakal menjadi orang maka Pak Tjokroaminoto menawarkan putrinya, Sitti Utari kepada Bung Karno untuk dipersunting. Tawaran ini diterima oleh Bung Karno dan Sitti Utari inilah menjadi istri pertama Bung Karno.

Setelah Bung Karno berhasil menyelesaikan sekolah­nya di HBS, Surabaya pada tahun 1920, Bung Karno istrinya Sitti Utati pindah di kota kembang Band­ung dengan maksud untuk melanjutkan pelajarannya diperguruan tinggi tekhnik Bandung. Perguruan tersebut adalah Technische Hoge School disingkat TKS.

Selama Bung Karno kuliah di THS ini, beliau tetap  melanjutkan cita-citanya di bidang politik. Karena demiki­an semangatnya berkobar-kobar untuk melepaskan bang­sanya dan belenggu penjajah, sehingga beliau lebih me­mentingkan politik dan bangsanya daripada keluarganya sendiri. Dengan pendirian yang tegas seperti itu, Bung Karno rela bercerai dengan istrinya demi perjuangan politik dan bangsanya. Hal ini dilakukan karena adanya perbedaan pandangan antara dirinya dengan mertuanya sendiri yakni Pak Tjokroaminoto.

Sebagai mahasiswa yang cerdas dan jenius, Bung Karno yang terdaftar sebagai mahasi§wa di THS Bandung tahun 1920 berhasil menyelesaikan studinya secara gemi­lang dengan mendapat gelar sebagai sarjana tehnik pada tahun 1926. Sejak saat itulah Bung Karno bergelar se­bagai insinyur. Meskipun la bergulat dengan pelajaran eksakta di perguruan tinggi (THS) namun darah politikn­ya tetap mengalir di tubuhnya. Itu sebabnya bagi dirinya tiada hari tanpa pergerakan politik, sebab di dalam tubuh dan pikirannya hanya ada satu yakni Indonesia harus lep­as dari belenggu cengkeraman kuku penjajah. Satu-satu­nya langkah yang dipilih oleh Bung Karno untuk mewu­judkan cita-citanya adalah terjun dalam panggung poliitik.

Pada suatu hari tatkala mahasiswa me lakukan rapat umum di Bandung, Bung Karno diundang sebagai salah seorang pembicara. Di saat Beliau berpidato dengan gay­anya yang memikat dan memukau seluruh khalayak, pihak kolonial Belanda memaksa kita untuk berhenti berbicara. Hal ini dilakukan oleh pihak Belanda karena pidato Bung Karno sangat membahayakan bagi kolonial Belanda karena isi pi­dato tersebut sempat membakar semangat juang rakyat untuk bangkit bersatu melawan setiap penjajahan.

Akibat dari pidato tersebut pi hak Belanda memberi­kan teguran kepada Rektor THS. Isi teguran tersebut adalah agar rektor memberikan peringatan keras kepa­da mahasiswanya yang bernama Soekarno untuk tidak ikut campur dalam lapangan politik. Teguran tersebut ditindaklanjuti oleh Rektor THS. Rektor THS pada saat itu adalah Prof Ir G. Klopper. Keesokan harinya, Bung Karno di panggil menghadap sekaligus mempertanggungjawabkan perbuatannya. Dari pertemuan tersebut terciptalah dialog antara rektor dengan salah seorang ma­hasiswanya yang bemama Soekarno. Pada pertemuan itu Prof Ir G.Klopperberkata ” Soekarno, anakku! Saya harap mulai hari itu engkau mau berjanji kepadaku untuk tidak akan mencampuri pergerakan lagi.”

Mendengar permintaan rektor tersebut, Bung Karno sebagai mahasiswa kala itu dengan sangat memukau memberikan jawaban sebagai berikut, ” Pak Profesor yang saya hormati, mulai hari ini saya berjanji tidak akan melalaikan pelajaran yang tuan berikan di sekolah.” Mendengar jawaban Bung Karno ini, sang Rektor me­nampiknya dan berkata,” bukan itu yang saya minta ke­padamu, nak”! Bung Karno pun memotong kalimat sang rektor dengan berkata, “Maaf Professor, saya pa­ham maksud tuan, namun hanya itu yang dapat saya berikan,” jawab Soekarno.

Dari percakapan di atas jelas menunjukan betapa he­batnya Bung Karno selaku mahasiswa kala itu dapat ber­suara secara piawai dengan dosen dan rektornya. Padahal pada tahun dua puluhan rektor, dosen sangat ditakuti oleh mahasiswa. Meskipun mendapat teguran Bung Karno tetap aktif dalam pergerakan politik demi mengangkat harkat dan martabat bangsa Indonesia.

Untuk mewujudkan cita-citanya ini, maka di kala ia berumur 26 Tahun, beliau mendirikan sendiri partai politik yang diberi nama Partai Na­sional Indonesia (PNI). Partai ini didirikan pada tanggal 4 Juli 1927 den­gan dukungan enam or­ang kawannya dari se­mata-mata terdorong oleh kerinduan untuk me­lepaskan Indonesia dari kungkungan penjajahan Belanda.

Kiprah perjuangan pendirian Partai Nasional Indone­sia ini ditegaskan oleh beliau dalam bukunya yang berjudul, ` Di Bawah Bendera Revolusi’. Dalam buku tersebut beliau secara tegas menyatakan bahwa “…….. Se­mangat itu telah melengket di atas bibir dap-tiap perger­akan Indonesia, mendalam ke hati tiap-tiap orang Indo­nesia yang berjuang membela keselamatan tanah air dan bangsa. la mewahyui berdirinya studie club di Surabaya dan di Bandung. la menjadi kekuatan penghidup yang menyerapi badan Persaudaraan Pandu Indonesia. la menjadi asas dan sendi yang teguh bagi gerak dan terjun­nya PNI. la menjadi roh dan penuntun bagi berdirinya dan bergeraknya PPPKI. la semangat persatuan Indo­nesia. Is yang menyebabkan kini tiada lagi perselisihan antara pihak kanan dan pihak kiri, tiada lagi pertengkaran antara kaum sabar dengan kaum keras, tiada lagi perce­rai-beraian antara kita dengan kita dan di dalam kerja persatuan ini, yang memang tiap -tiap putera Indonesia dan tiap- tiap partai Indonesia telah kerjakan dengan sepenuh-penuhnya keyakinannya dan sepenuh-penuh kekuatannya, ma ka PNI ada kekuatan ikut urung tenaga dan ikut urung usaha, ikut berdiri di dalam bagian barisan yang terkemuka.

Sejarah banyak menunjukkan bahwa setiap perjuan­gan pasti diikuti dengan pengorbanan. Demikian pun yang dialami oleh Bung Karno dalam menegakkan cita-citan­ya. Namun Bung Karno sebagai pejuang rakyat, pejuang republik, penyambung lidah rakyat, pemerhati wong cilik pantang menyerah sebelum cita-citanya terwujud meskipun nyawa harus berpisah dari tubuhnya.

Bukankah orang bijak pernah berkata bahwa; `No rose without a torn’ tidak ada mawar yang tidak berduri, dan tidak ada perjuangan yang tidak membutuhkan pengor­banan. Demikian pun Bung Karno selaku pejuang rakyat, penyambung lidah rakyat, pejuang republik, banyak korban dalam perjuangannya. Bahkan penjara demi penjara ia alami di berbagai tempat hanya demi untuk mengangkat dan mensejajarkan bangsa ini dengan bang­sa-bangsa lain. Sungguh besar jasa dan pengorbanan beliau dalam mengangkat republik ini. Lalu bila hal ini kita mengakuinya, pantaskah kita sebagai generasi penerus dan penikmat hasil perjuangannya melupakan begitu saja jasa dan perjuangan beliau? Jawabnya tentu tidak. Namun survey di lapang banyak menunjukkan bah­wa manusia sering saya mudah menjawab namun sangat sulit untuk mewujudkannya. Pantaslah orang bijak ber­kata bahwa ” to say is easy but to do is difficult ” dan “lidah memang tidak bertulan2 karena kalau ia bertulang pasti bukan lidah”. Demikian ungkapan salah satu pribahasa.

Filed under: Opini

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Welcome Myspace Comments

Penulis

Waktu

Tulisan-tulisan yang telah dimuat di berbagai media cetak lokal seperti Palopo Pos, Harian Fajar, Majalah Payung Luwu dan BUletin BPSDM yang memaparkan tentang fenomena sosial yang terjadi di Indonesia serta karya-karya yang bernafaskan Islam.

Anda Pengunjung Ke

Telah dikunjungi oleh

  • 119,407 pembaca

Deteksi Lokasi

Terima Kasih Kunjungannya

Thank You Myspace Comments
%d bloggers like this: