Prof. Dr. H. Paisal Halim, M.Hum

Di Atas Langit Masih Ada Langit

BUNG KARNO DAN PIDATO HONOURIS CAUSANYA

Mungkin tidak berlebihan bila mengawali tulisan ini, penulis mengajak kepada segenap pembaca untuk mengenang sejenak Ir Soekarno, putra sang fajar, sekaligus sang proklamator kemerdekaan Republik Indonesia. Hal ini sengaja penulis sodorkan kehadapan pembaca karena pada bulan Juni merupakan bulan kelahiran beliau. Dengan ajakan ini pula merupakan salah satu wujud ungkapan rasa hormat, rasa terima kasih kita terhadap beliau atas perjuangannya melepaskan republik ini dari lingkungan penjajah.

Seperti diketahui dalam berbagai buku dijelaskan bahwa beliau dilahirkan pada hari Kamis Pon tanggal 18 Sapar 1931 Windu Sanjaya, bertepatan dengan tanggal 6 Juni 1901 di Lawang Saketeng, Surabaya. Beliau dijuluki sebagai putra sang fajar, karena ia dilahirkan di kala fajar menyingsing pukul 05.30 pagi. Menurut kepercayaan sebagian orang Jawa bahwa orang yang dilahirkan pada saat matahari terbit nasibnya akan baik, semisal dengan mentari pagi menyinari alam.

Itu sebabnya, dikala ibunya menimang Soekarno, ia berkata ” kelak engkau akan menjadi orang yang mulia, engkau akan menjadi pemimpin dari rakyat kita, karena ibu melahirkanmu jam setengah enam pagi di saat fajar mulai menyingsing. Kita orang Jawa mempunyai suatu kepercayaan, bahwa orang yang dilahirkan di saat matahari terbit, nasibnya telah ditakdirkan akan mejadi baik. Jangan lupakan itu, jangan sekali­-kali kau lupakan nak, bahwa engkau ini putra dari sang fajar”.

Pada masa kecilnya, bung Karno sehari-hari dipanggil Koesno. Koesno lahir dari seorang ibu bernama Ida Nyoman Rai, seorang keturunan bangsawan kelahiran Bali dari kasta Brahmana. Sedang bapaknya bernama Raden Sukemi Sosrodihardjo keturunan Sultan Kediri.

Koesno (Bung Karno) pada masa kanak-­kanaknya tergolong anak yang penyakitan. Karena seringnya sakit sehingga badannya kurus kering, dan bila ia sakit tidak ada yang bisa mengobatinya kecuali `eyangnya’ (kakeknya) sendiri, yakni Pak Raden Hardjodikromo. Itu sebabnya bila Koesno terserang penyakit, Raden Sukemi Sosrodihardjo membawanya ke Tulung agung , tempat eyangnya tinggal. Di sanalah Koesno diobati sampai sembuh.

Pada masa kanak-kanak, Koesno ini terlalu dimanja oleh eyangnya, karena Koesno selain cucu yang terkecil juga laki-laki. Karena itu ia amat `disayang , dicintai dan dimanja oleh eyangnya. Karena kesayangan dan kecintaan eyangnya inilah sehingga hanya Koesnolah satu-satunya cucu` yang boleh minum kelebihan kopi eyangnya.

Koesno (Bung Karno) pada masa kanak-kanak tergolong anak yang nakal. Suka mengganggu teman-temannya yang sedang bermain dan gemar bergulat. Jika bermain atau berkelahi, beliau tidak mau kalah dengan teman-temannya yang lain. Meskipun ia nakal di mata kawan-kawannya, ia tetap disenangi karena Koesno tergolong anak yang pintar dan berani , sehingga kawan-kawannya tunduk kepadanya.

Seperti halnya dengan anak-anak lainnya , Koesno gemar bermain dengan kawan-kawannya. Seperti, lari-lari, berburu belalang, menangkap capung , mandi di sungai , naik kerbau-dan memanjat pohon. Namun dari seluruh kegemaran di atas, menangkap ikan dan menonton wayang adalah kegiatan yang paling digemarinya. Demikian sebintik cuplikan masa kecil beliau.

Ilmu pengetahuan hanyalah berharga penuh jika ia dipergunakan untuk mengabdi kepada praktek hidupnya manusia, atau praktek hidupnya bangsa, atau praktek hidupnya dunia kemanusiaan. Memang sejak muda, saya ingin mengabdi kepada praktek hidup manusia, bangsa dan dunia kemanusiaan itu. Itulah sebabnya saya selalu mencoba menghubungkan ilmu dan amal, menghubungkan pengetahuan dengan perbuatan, sehingga pengetahuan itulah untuk perbuatan, dan perbuatan dipimpin oleh pengetahuan. Emu dan amal, kennis dan daad, harus wahyu mewahyui satu sama lain. – Ketika Soekarno menjadi presiden pertama di republik ini, dia banyak menerima penghargaan. Salah satu diantaranya adalah penghargaan di bidang akademik, yakni Dr Honoris Causa. Dalam penerimaan gelar ini, beliau banyak memberikan pikiran segar kepada kaum akademisi melalui pidato-pidatonya. Demikian besar makna dibalik pidato beliau itu, maka penulis ingin menyajikan cuplikan pidato tersebut melalui tulisan ini dengan harapan dapat menjadi inspirasi bagi kita dalam melanjutkan perjuangannya. Adapun beberapa cuplikan pidato beliau ketika menerima penghargaan sebagai doktor honoris causa di perguruan tinggi sebagai berikut:

Ketika beliau menerima gelar Doktor Honoris Causa dalam Ilmu Hukum pada Universitas Gajah mada Yogyakarta tanggal 19 September 1951, beliau berkata dalam pidatonya yang berjudul Ilmu dan Alam, bahwa, “Bagi saya, ilmu pengetahuan hanyalah berharga penuh jika ia dipergunakan untuk mengabdi kepada praktek hidupnya manusia, atau praktek hidupnya bangsa, atau praktek hidupnya dunia kemanusiaan. Memang sejak muda, saya ingin mengabdi kepada praktek hidup manusia, bangsa dan dunia kemanusiaan itu. Itulah sebabnya saya selalu mencoba menghubungkan ilmu dan amal menghubungkan pengetahuan dengan perbuatan, sehingga pengetahuan itulah untuk perbuatan, dan perbuatan dipimpin oleh pengetahuan. Ilmu dan amal, kennis dan daad, harus wahyu mewahyui satu sama lain. “

Demikian pun kala itu menerima gelar doktor Honoris Causa dalam Ilmu Ushuluddin IAIN Jakarta pada tanggal Z Desember 1964, Beliau mengajakpada kaum akademisi, tokoh agama, dan santri untuk membuka wawasan dan tidak eksklusif. Dalam pidato beliau yang berjudul `Temukan Kembali Api Islam’, beliau mengajak kepada segenap kaum cendekiawan Islam untuk selalu membuka wawasan yang luas dalam menapaki hari-hari mendatang, sebab tanpa wawasan yang luas_para cendekiawan muslim akan menyempitkan ajaran Islam yang universal itu. Karena itu melalui pidatonya beliau berkata : “Lepaskan saudara punya jiwa, juga daripada suasana pengertian pesantren itu. Hanya dengan jalan demikianlah, anak­-anakku, engkau bisa mengerti, bahwa Islam itu adalah agama universal. Tetapi jikalau engkau tetap mendekam di pesantren, bukan jasmaniah saja mendekam di pesantren, tetapi juga engkau punya mind akan tetap terkurung di dalam pesantren itu, engkau tidak akan mengerti bahwa agama Islam itu benar-benar adalah agama yang bisa diterapkan di mana-mana, bahwa agama Islam itu adalah agama universal.”

Dari pidato ini jelas sekali menunjukan bahwa betapa Bung Karno adalah sosok pemimpin yang Islami dan berwawasan universal. Dalam pidato penerimaan gelar itu beliau menekankan betapa perlunya diadakan pembaharuan untuk menemukan kembali api Islam yang kala itu apinya redup di republik ini. Itu sebabnya beliau menghimbau agar umat Islam mempelajari sepak terjang tokoh-tokoh pembaharuan Islam sekaligus mengajak pada seluruh santri yang belajar di Pesantren untuk tidaknya mempelajari buku-buku Fiqih tetapi juga para santri harus mengetahui dan mengikuti perkembangan dunia di sekitarnya.

Lalu bila demikian halnya mungkinkah kita masih patut untuk meragukan keyakinan, kredibilitas, pengabdian, dan prestasinya kepada bangsa dan republik ini ? Jawabnya tentu bergantung pada sudut pandang kita masing-masing. Namun yang Jelas dan pasti beliau telah tiada> beliau telah berhasil melepaskan republik ini dari kungkungan penjajahan, beliau telah mengukir berbagai sejarah di republik ini, sekaligus beliau telah mensejajarkan republik ini dengan negara lain. Konferensi Asia-Afrika di Bandung tahun 1955 merupakan salah satu bukti sejarah monumental yang telah diukir oleh Beliau dalam mengangkat harkat dan martabat republik ini untuk sejajar dengan negara lain. Bukan itu saja bahkan dengan keberanian menjadi tuan rumah pelaksana Konferensi Asia-Afrika tersebut merupakan bukti nyata bahwa Bung Karno adalah pemimpin besar yang dihormati dan disegani di dunia Internasional.

Sebagai penyambung lidah rakyat, pemimpin besar revolusi, proklamator kemerdekaan republik Indonesia, Bung Karno dalam salah satu pidatonya mengajak pada segenap rakyatnya agar tidak mudah melupakan sejarah. Hal itu dikemukakan dengan sebuah istilah yang manis yakni Jas Merah’ (jangan sekali-kali melupakan sejarah). Makna ungkapan ini sangat mendalam karena sungguh tidak sedikit orang yang sering mengabaikan dan melupakan sejarah.

Sungguh ungkapan ini sarat dengan makna ajakan. Beliau seolah-olah berkata pada kita semua bahwa, “jangan sekali-kali mudah melupakan orang yang pernah membuat sejarah dan melupakan orang yang pernah berjasa. Baik berjasa pada diri kita, pada keluarga kita, pada daerah kita dan pada republik kita yang tercinta ini

Filed under: Opini

2 Responses

  1. bisakah kita menirunya????generasi sekarang memang beda dengan dulu

  2. BungCahyo says:

    Segitiga Sakti telah dijalaninya…
    manusi alm dan tuhan yang tidak dipisah2kan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Welcome Myspace Comments

Penulis

Waktu

Tulisan-tulisan yang telah dimuat di berbagai media cetak lokal seperti Palopo Pos, Harian Fajar, Majalah Payung Luwu dan BUletin BPSDM yang memaparkan tentang fenomena sosial yang terjadi di Indonesia serta karya-karya yang bernafaskan Islam.

Anda Pengunjung Ke

Telah dikunjungi oleh

  • 119,407 pembaca

Deteksi Lokasi

Terima Kasih Kunjungannya

Thank You Myspace Comments
%d bloggers like this: