Prof. Dr. H. Paisal Halim, M.Hum

Di Atas Langit Masih Ada Langit

CATATAN PINGGIR MTQ

MUSABAQAH Tilawatil Qur’an (MTQ) merupakan salah satu model syiar Islam yang perlu terus dibina, dikembangkan dan dilestari­kan. Tanggung jawab untuk membina, mengembangkan dan melestarikan adalah tanggung­jawab setiap orang yang ber­predikat sebagai muslim. Kare­na itu saya, Anda dan kita se­mua sebagai muslim berkewa­jiban moral untuk membina, mengembangkan dan melestari­kan kegiatan tersebut

Wujud tanggung jawab itu dapat dilakukan dalam berbagai bentuk sesuai dengan kemam­puan masing-masing. Salah satu wujud pelaksanaan tang­gung jawab tersebut adalah memberikan kontribusi berupa saran, usul dan kritikan yang si­fatnya konstruktif demi penyempurnaan pelaksanaan MTQ di masa mendatang. Be­rangkat dari rasa memiliki tang­gung jawab tersebut, melalui tu­lisan ini, penulis menyuguhkan saran, pertimbangan dan piki­ran baik kepada pemerintah maupun kepada panitia pelak­sana. Suguban berupa pikiran, saran dan pertimbangan ini penulis kemas dalam satu bing­kai tulisan dengan istilah “Catatan Pinggir yang Tercecer dalam MTQ”. Sekali lagi catatan ping­gir yang penulis suguhkan ini tiada lain demi penyempurnaan pelaksanaan MTQ di masa depan. Selain itu penulis juga berharap, semoga saran, pikiran dan pertimbangan ini dapat menjadi obat kuat atau setidak­tidaknya menjadi multivitamin bagi kita semua dalam menata MTQ di masa depan.

Saran dan pertimbangan ini penulis ajukan berdasarkan atas pengamatan, pendengaran dan rekaman penulis dari tahun ke tahun selama berlangsung MTQ di Kabupaten Luwu. Se­bagai saran, pikiran dan pertim­bangan dari seorang pengam­at, tentu kebenarannya sangat relatif. Karena itu saran dan pertimbangan tersebut bukanlah kunci pas yang harus diter­ima, melainkan kunci Inggris yang bisa dipegang atau juga bisa diabaikan.

Namun yang jelas dan pasti sejak MTQ dilaksanakan di Kabupaten Luwu maka sejak itu pula selalu saja ada catatan pinggir yang ditulis oleh berb­agai pihak. Baik catatan ping­gir untuk panitia, maupun catatan pinggir untuk pemerintah di tingkat kecamatan dan kabu­paten. Patut diakui bahwa pemerintah tidak pernah alergi me­nerima berbagai saran, usul dan kritikan dari berbagai pihak. Bu­kan itu saja bahkan pemerintah bersama panitia pelaksana se­lalu beritikad baik untuk terus penyempurnaaan pelaksanaan MTQ ini, karena MTQ merupa­kan suatu prestasi, prestise sekaligus harga diri kita semua sebagai seorang muslim.

Kondisi ini menunjukkan bahwa catatan pinggir yang tercecer ini bukan tidak dipabami oleh panitia pelaksana bersama pemerintah melainkan tidak adanya keinginan dari berbagai pihak untuk mengubah sikap dan pola pikir kita terhadap catatan pinggir yang tercecer itu. Itu sebabnya catatan ping­gir MTQ ini selalu saja muncul dalam lampiran lubuk hati sese­orang. Catatan pinggir pinggir yang tercecer itu adalah sikap dan prilaku kurang menghargai dewan yuri sebagai orang terhormat yang memiliki keahlian khusus. Dikatakan memiliki keahlian khusus karena tidak semua orang memiliki keahlian seperti yang dimiliki oleh para dewan yuri MTQ.

Sikap kurang menghargai Dewan yura sebagai orang yang terhormat dalam sebuah event semisal MTQ adalah sebuah pemandangan yang tidak indah dipandang mata. Patut untuk diakui bahwa untuk menjadi dewan yuri selama satu ming­gu di pentas semisal MTQ tidaklah sembarang orang. Pe­milihannya pun sangat ketat. Para dewan yuri yang diangkat harus memiliki wawasan yang luas, qiraat yang baik; mengua­sai Ilmu Nahwu, syaraf dan taj­wid; mengetahui asbabun nush­ul alqur’an, menghafal Alqur’an dan sebagainya. Bukan itu saja bahkan seorang dewan yuri yang akan diangkat harus terpercaya, memiliki integritas dan loyalitas tinggi, patut diteladani serta memiliki sikap dan prilaku akblakul qarimah.

Persyaratan di atas sangat langka dimiliki oleh seseor­ang sehingga kita patut men­gatakan bahwa orang-orang yang diangkat dan dipilih se­bagai dewan yuri pada event MTQ Kabupaten merupakan kumpulan orang-orang pili­ban dan terhormat. Karena itu adalah suatu bal yang sangat wajar apabila panitia pelaksana bersama pemerintah memberikan penghargaan dan penghormatan kepada mereka sebagaimana layakn­ya memberikan penghargaan dan penghormatan kepada orang yang memiliki kecakapan dan keahlian khusus.

Pemberian penghargaan dan penghormatan yang lay­ak bagi para dewan yuri adalah suatu yang mutlak. Beta­pa tidak, tengoklah di hari pembukaan MTQ. Seluruh mata pada hari pembukaan itu tertuju pada Dewan Hakim. Hanya mereka yang memakai baju kehormatan dan baju ke­besaran. Baju berwarna hitam pekat semisal baju kebesaran hakim. Mereka mengangkat sumpah atas nama Allah ; mereka mempertaruhkan dirin­ya dalam bentuk pemberian nilai; mereka akan memper­tanggungjawabkan nilai yang diberikan tidak hanya di hadapan manusia tetapi juga di hadapan Allah . Mereka rela duduk berjam jam; mereka ber­pikir, dan penuh konsentrasi memilah, memilih dan mem­banding alunan suara, tajwid dan qiraat masing-masing pe­serta.

Mereka bekerja siang dan malam, mereka meninggalkan isteri dan anak; bahkan mereka meninggalkan berbagai macam usaha dan tugas dan amanah yang diberikan kepadanya. Bila kita mau merenungi peran, tanggung jawab, kesetiaan yang dipersembahkan para dewan yuri yang  terhormat ini pada event MTQ. pasti kita terdorong untuk mem­berikan penghargaan yang ter­baik padanya.

Betapa tidak, dekorasi nan indah; konfigurasi yang mem­pesona; panggung tilawah dan panggung kehormatan yang anggun; penjemput tamu yang santun; kesemuanya kita bera­ni bayar mahal berapun jumlah­nya. Bahkan proposal yang diajukan oleh yang berkompeten terhadap kebutuhan di atas hampir-hampir tidak pernah di­tolak. Lalu bila bal yang sekunder seperti ini kita berani membayar mahal, mengapa pula bal yang primer semisal pemberian penghargaan terhadap dewan yuri kita tidak berani membayar mahal? Jawabnya tentu terpulang pada pola pikir, pola sikap dan pola pandang kita melihat posisi dewan yuri pada event MTQ itu. Tetapi patut untuk direnun­gi bersama bahwa pelaksanaan event semisal MTQ betapa pun megahnya, betapapun cantik dekorasinya; betapapun mem­pesona konfigurasi yang dita­mpilkan namun bila tanpa dihadiri oleh dewan yuri tiada arti semua itu. Sebab tampilan di atas hanyalah sebatas kegiatan pemanis MTQ semata.

Filed under: Opini Islami

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Welcome Myspace Comments

Penulis

Waktu

Tulisan-tulisan yang telah dimuat di berbagai media cetak lokal seperti Palopo Pos, Harian Fajar, Majalah Payung Luwu dan BUletin BPSDM yang memaparkan tentang fenomena sosial yang terjadi di Indonesia serta karya-karya yang bernafaskan Islam.

Anda Pengunjung Ke

Telah dikunjungi oleh

  • 119,407 pembaca

Deteksi Lokasi

Terima Kasih Kunjungannya

Thank You Myspace Comments
%d bloggers like this: