Prof. Dr. H. Paisal Halim, M.Hum

Di Atas Langit Masih Ada Langit

DI ATAS LANGIT MASIH BANYAK LANGIT

Baru saja bangsa Indonesia dan masyarakat internasional menyak­sikan suatu pertunjukan sinetron drama politik yang berjudul “Sekelumit Tersungkurnya Gus Dur dari kursi kepresidenan”. Melalui sidang istimewa MPR yang ditay­angkan lewat layar televisi.

Sinetron tersebut sungguh sangat menarik ditonton karena sinetron ini disutradarai oleh Amien Rais. Sang sutradara ulung, cakap, berbakat dan piawai. Dbintangi oleh KH Abdurrahman Wahid, seorang ak­tor ulung, cakap, berbakat, populis, disegani dan dihormati dikalangan aktor politik, aktor kemasyarakatan dan aktor kemanusiaan baik dalam negeri maupun luar negeri. Pemega­ng piala citra ” Human Develop­ment A Ward, And Democracy Development A Ward”.

Bukan itu saja bahkan keduanya memiliki track record yang cemer­lang baik dalam panggung politik maupun panggung kemasyarakatan, kemanusiaan dan keagamaan. Keduanya pernah menjadi pemimpin umat (NU-Muhammad­iyah) keduanya bersahabat. Kedu­anya populis dan bahkan keduanya dikenal di luar negeri. Sehingga menambah daya tarik untuk terus mengikuti alur cerita dari sinetron tersebut.

Naskah sinetron ini disusun oleh anggota MPR hasil Sidang Umum MPR tahun 1999 yang lalu yang mana dalam skenario naskah dra­ma tersebut telah ditetapkan Amien Rais selaku ketua MPR (pemega­ng mandat). Berperan sebagai sutradara dan KH. Adurrahman Wahid selaku presiden (penerima mandat) berperan sebagai tokoh utama.

Berdasarkan pada kebiasaan yang berlaku dalam dunia sinetron bahwa sebelum pentas dimulai. Baik sutradara maupun pemeran utama dan tokoh pendukung lainnya ter­lebih dahulu harus menandatangani kontrak kerja sebagai ikatan kedua belah pihak dalam memerankan per­annya masing-masing. Serta berjanji akan menaah dengan sungguh-sung­guh segala tuntutan skenario yang telah ditetapkan dalam sebuah nas­kah kontrak kerja berupa hasil sidang umum MPR tahun 1999 yak­ni UUD 1945, TAP MPR, UU dan peraturan pelaksanaan lainnya.

Melalui perjanjian itulah sang sutradara, pemeran utama dan pe­meran lainnya serta seluruh kru yang terlibat dalam sinetron itu terikat pada tuntutan skenario yang telah disepakati bersama. Kontrak kerja itu berakhir pada tahun 2004­

Namun dalam per­jalanan pentas sinetron terse­but (2 tahun) tampaknya terjadi Miscomonikasi, mis under­standing ant­ara Amien Rais selaku sutradara dengan Gus Dur sebagai pemeran utama dalam menerjemahkan se­bagian isi naskah yang telah diteta­pkan pada tahun 1949 yang lalu. Bahkan tidak sedikit acting yang dipertontokan Gus Dur selaku ke­pala negara dan kepala pemerintah­an bertentangan dengan tuntutan skenario yang ada sehingga Amen Rais selaku sutradara memberikan peringatan agar Gus Dur dalam menjalankan pemerintahan tetap mengacu pada koridor naskah yang telah disepakati.

Sungguh sangat disayangkan karena peringatan sang sutradara tersebut tidak diindahkan bahkan Gusdur lebih memilih skenario nas­kah yang telah disusun oleh para simpatisan dan pendukungnya.

Melihat sikap dan perilaku Gus Dur ini yang setiap hari semakin keluar dari tuntutan skenario yang baku, maka segenap kerabat kerja yang mendukung sinetron seperti asisten sutradara (Pimpinan DPR), Juru kamera (Anggota DPR), biro keamanan (TNI – POLRI ), biro penegakan hukum (Kejaksaan Agung -. MA) serta badan-badan lainnya tidak dapat bekerja dengan baik sehingga dikhawatirkan akan merusak tatanan pemerintahan yang selama ini dibangun di republik ini.

Untuk mengeliminir dampak dan sikap presiden ini, maka sebagian besar juru kamera (anggota DPR) yang mempunyai fungsi kontrol melakukan mosi tidak percaya pada presiden dan meminta MPR untuk melaksanakan Sidang Istimewa.

Berdasar atas masukan mosi tidak percaya dari anggota DPR serta pertimbangan dan berbagai fraksi dan Pimpinan MPR, maka ketua MPR akan menggelar sidang istimewa guna meminta pertang­gung jawaban presiden selaku man­dataris MPR yang direncanakan berlangsung pada tanggal 1 Agus­tus 2001.

Namun sikap ketua MPR terse­but tidak dipedulikan oleh Gus Dur bahkan justru presiden memberikan ancaman pada Amen Rais akan membubarkan MPR dan DPR bila agenda dalam sidang Istimewa tidak diubah, karena di dalam pikiran Gus Dur konflik yang terjadi antara DPR dengan Presiden masih bisa disele­saikan dengan jalan kompromi bu­kan dengan jalan sidang istimewa.

Namun pikiran Gusdur ini ditolak oleh MPR. Karena tidak terjadi kompromi diantara sang sutradara dengan pemeran utama sinetron ini, ditambah lagi Gus Dur menerobos ” Lampu Merah ” yang dipasang oleh DPR dengan melan­tik Jenderal Chaeruddin Ismail se­bagai PJS Kapolri tanpa persetujuan DPR maka anggota MPR (Minus FKB-FPDKB) sepakat untuk mem­percepat pelaksanaan sidang Istime­wa MPR dari rencana tanggal 1 Agustus 2001 menjadi tanggal 21 Juli 2001.

Percepatan pelaksanaan sidang istimewa serta agenda sidang tetap meminta pertanggungjawaban presiden, maka Gusdur selaku ke­pala negara / Panglima Tertinggi Angkatan Perang mengeluarkan sebuah maklumat ( Dekrit ) pada hari senin tanggal 23 Juli 2001 pukul 01.10 Wib yang isinya antara lain: Membekukan MPR-DPR, Mengembalikan Kedaulatan Rakyat ketangan Rakyat Indonesia , dan Membentuk Badan-Badan yang dis­erahkan untuk mengadakan pemilu Satu Tahun serta membekukan Partai Golkar sambil menunggu keputusan Mahkamah Agung . Keputusan ini sungguh merupakan suatu tindakan yang sangat berani karena tindakan tersebut selain melawan arus juga bertentangan dengan konstitusi.

Semoga saja drama sekelumit ‘ kisah tersungkurnya Gus Dur dari kursi kepresidenan di republik ini dapat menjadi pelajaran yang sangat berharga bagi kita semua. Bagi presiden yang baru (Megawati Soekarno Putri) ; bagi Gubernur, Bupati, Camat, Kepala Desa dan pejabat lainnyaagar berupaya se­maksimal mungkin menghindari sifat-sifat seperti itu khususnya sifat merasa lebih kuat dari orang lain, merasa pintar dari orang lain, mera­sa kuasa dari orang lain, merasa paling benar dari orang lain, merasa hebat dari orang lain, merasa ter­hormat dari orang lain dan seterus­nya. Sungguh sifat-sifat tersebut tidak terpuji, arogan dan meremeh­kan orang lain. Cukuplah hal ini menjadi pelajaran berharga. Yang jelas danpasti bahwa ” Di Atas [.angit Masih Ada langit “)

Filed under: Opini

One Response

  1. Leyloor says:

    Saya berharap para anggota kabinet sekarang juga ikut membaca blog ini. thank

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Welcome Myspace Comments

Penulis

Waktu

Tulisan-tulisan yang telah dimuat di berbagai media cetak lokal seperti Palopo Pos, Harian Fajar, Majalah Payung Luwu dan BUletin BPSDM yang memaparkan tentang fenomena sosial yang terjadi di Indonesia serta karya-karya yang bernafaskan Islam.

Anda Pengunjung Ke

Telah dikunjungi oleh

  • 119,407 pembaca

Deteksi Lokasi

Terima Kasih Kunjungannya

Thank You Myspace Comments
%d bloggers like this: