Prof. Dr. H. Paisal Halim, M.Hum

Di Atas Langit Masih Ada Langit

Lailatul Qadar Bukan Undian

Puji dan syukur patut kita panjatkan kehadirat Allah Swt. atas limpahan rahmat dan taufiq-Nya yang dicurahkan kepada kita semua, sehingga pada hari ini, kita masih diberikan kesempatan untuk beribadah disepuluh terakhir bulan Ramadhan. Kita patut bersyukur karena pada sepuluh akhir bulan Ramadhan itu Allah Swt melimpahkan rahmat dan karunia-Nya kepada siapa saja yang beribadah pada waktu tersebut. Pula, pada malam itu Allah menurunkan Lailatul Qadar yakni suatu malam yang apabila manusia beribadah pada malam itu, pahalanya jauh lebih baik dari pada beribadah seribu bulan di. luar bulan Ramadhan.

Pernyataan di atas ditegaskan dalam Al-Qur’an yang artinya, “Sesunggu­hnya kami telah menurunkan Alqu­ran pada malam kemuliaan. Dan tahukah kamu apakah malam kemuliaan itu? Malam kemuliaan itu adalah malam yang lebih baik dari seribu bulan. Pada malam tersebut, turun malaikat-malaikat dan malaikat Jibril dengan izin Tuhannya turun mengatur segala urusan. Malam itu penuh kese­jahteraan sampai terbit fajar”. (Alqadri : l-5).

Allah menyifati malam itu se­bagai malam yang penuh dengan berkah,penuh kebajikan dan penuh dengan kemuliaan. Allah pula me­nyifati malam itu sebagai malam ketentuan. Para ahli mufassirin menafsirkan malam tersebut (Lail­atul Qadar) sebagai malam keteta­pan. Ditafsirkan malam ketetapan karena pada saat itu, Allah mene­tapkan daftar nama-nama orang yang akan melahirkan dalam kurun satutahun. Juga pada malam terse­but Allah menetapkan daftar nama-nama yang akan mati dalam satu tahun tersebut. Selain itu pada malam Lailatul Qadar, Allah juga menetapkan daftar nasib seseor­ang (rejeki) dan beberapa ketentu­an lainnya. Sungguh betapa besar makna yang terkandung pada malam Lailatul Qadrar itu bagi or­ang yang meyakini.

Persoalannya adalah kapan se­betulnya Lailatul Qadar itu turun? Menurut beberapa nukilan Hadits, Rasulullah Saw menjelaskan bah­wa Lalilatul qadar itu turun pada malam sepuluh terakhir bulan Ra­madhan. Jawaban iru berdasar pada sabda Rasulullah Saw, dalam be­berapa haditsnya. Beliau bersabda yang artinya bahwa, “Carilah lail­atul Qadar itu pada sepuluh malam terakhir dari bulan Ramadhan. ” (H.R.Muttafaq”Alaih). Di hadist lain beliau bersabda bahwa, “Car­ilah lailatul Qadar itu pada malam ganjil dari sepuluh malam terakhir bulan Ramadhan ” (H.R.Bukhari).

Itu sebabnya, bila tiba hari kesepuluh terakhir Ramadhan, Ra­sulullah meningkatkan amalan ibadahnya dibanding dengan hari­-hari sebelumnya. Diriwayatkan oleh Aisyah r.a bahwa Nabi Saw ber­sungguh-sungguh dalam melakukan amal dan ibadah pada sepuluh hari terakhir di bulan suci Ramadhan. Bahkan di lain hadits, Aisyah meriwayatkan bahwa Nabi Saw, apabi­la telah masuk sepuluh terakhir bu­lan Ramadhan, beliau mengikat sarungnya, menghidupkan malam tersebut dengan berbagai amal kebajikan dan membangunkan keluar­ganya untuk beribadah..

Berkaitan dengan sepuluh tera­khir di bulan Ramadhan ini, Ibnu Umar r.a menjelaskan bahwa sa­habat-sahabat Nabi saw. pernah bermimpi melihat malam lailatul qadar pada tujuh malam terakhir. Lalu Nabi Muhammad saw bers­abda: ” saya melihat mimpimu ber­sepakat menetapkan bahwa lailat­ul qadar itu pada tujuh malam ter­akhir. Maka bagi siapa saja yang hendak mencari malam al-qadar, carilah pada tujuh malam yang akhir. ” (.H.R.Muttafaq”alaih).

Penetapan tujuh malam terakhir di bulan Ramadhan tersebut menunjukkan bahwa keberadaan Lailatul qadar tidaklah tetap set­iap tahunnya. Pada satu tahun trusalnya, mungkin berada pada malam dua puluh tiga. Kemudian tahun berikutnya terjadi pada malam dua puluh lima, atau malam dua puluh tujuh dan malam dua puluh sembilan. Semuanya bergan­tung pada kehendak Allah Swt.

Namun Rasulullah Saw menga­njurkan untuk mencarinya pada malam kesembilan, malam ketujuh atau malam kelima terakhir di bu­lan Ramadhan. Pernyataan terse­but sesuai dengan sabda Beliau yang artinya : “Carilah lailatul qa­dar itu pada malam kesembilan yang terakhir, malam ketujuh yang terakhir dan malam kelima yang terakhir. ” (H.R. Bukhari).

Sungguh Allah sangat merahasia­kan turunnya malam lailatul qadar ini agar setiap hambanya mau men­carinya dengan tulus dan ikhlas dengan tetap melaksanakan ibadah berupa shalat, zikir, beristigfhar dan berdoa. Allah juga merahasia­kan lailatul qadar ini dengan tujuan untuk lebih menyeleksi siapa di­antara hamba-hambaNya yang be­nar-benar beriman dan bertaqwa.

Bagi orang yang benar-benar ber­iman, akan terus berjaga-jaga di sepuluh terakhir Ramadhan dengan terus melaksanakan berbagai amaliyah Ramadhan seperti: zikir, shalat malam, tahajjud, baca Alqu­ran, bersedekah, istigfhar dan se­bagainya. Kesemuanya itu dilaku­kan semata-mata untuk meningkat­kan kedekatannya dengan Ilahi. Kesemua itu dilakukan karena or­ang beriman yakin bahwa pada malam itu pintu rahmat dan am­punan Allah dibuka selebar-lebarn­ya. Semua doa dan permintaan manusia dikabulkan bahkan orang yang beramal dimalam itu pahalanya jauh lebih baik dari berbuat amal kebaji­kan selama kurang lebih 83 tahun.

Hanya saja per}u dipahami bahwa lailatul qadar itu bukanlah se­buah undian. Melainkan suatu penghargaan yang diberikan oleh Allah kepada hambaNya yang be­nar-benar yakin, tulus, dan ikhlas berbuat amal kebajikan di dalam bulan suci Ramadhan. Sekali lagi, Lailatul Qadarbukan undian atau lotere dari Allah Swt. Karena Lail­atul qadar bukan undian maka ia tidak dapat diraih dengan cara spe­kulasi. Misalnya: hanya mau beri­tiadah di malam sepuluh akhir Ra­madhan atau banyak berzikir, ber­doa dan membaca Qur’an hanya pada malam ganjil saja. Dan lebih parah lagi bila seseorang berspe­kulasi menghadang Lailatul Qadar itu dengan cara yang tidak etik. Misalnya memerintahkan isteri, or­ang tua, sahabat bahkan ajudan un­tuk ronda membangunkannya di malam tersebut.

Bila hal ini dilakukan maka sungguh perbuatan semacam itu meru­pakan perbuatan akal-akalan semat­a Padahal Lailatul qadar bukanlah undian melainkan suatu rahmat, hidayah dan anugerah dari Allah swt. Karena Lailatul Qadar itu merupakan rahmat dan hidayah maka rahmat dan hidayah itu han­ya akan diberikan kepada setiap hambaNya yang benar-benar banyak mengukir prestasi ibadah dalam bulan ramadhan.

Sekali lagi, Lailatul qadar bukan undian, buka/lotere, yang dapat diraih melalui pendekatan akal, logi­ka apalagi dengan cara yang speku­lasi. Lailatu qadar adalah sebuah penghargaan, sebuah pemberian, sebuah inayah dan hidayah dari Tuhan. Hidayah ini hanya diberi­kan kepada hambaNya yang benar­-benar melaksanakan ibadah dan mem­berikan prestasi terbaik dalam bu­lan ramadhan. Penghargaan terse­but tiada taranya, tiada duanya bahkan tiada bandingannya. Peng­hargaan tersebut adalah pemberian Ilahi yang nilainya sama den an pemberian jaminan masuk dalam syurga (Subhanallah. Maha suci Engkau ya Allah atas semua ini).

Sepuluh akhir Ramadhan itu te­lah berada dipangkuan kita masing­-masing. Peluang dan harapan un­tuk meraihnya terbuka tebar. Per­syaratan meraihnya pun tidak su­lit. Tidak ada klasifikasi dalam per­lombaan merebutya. Semua orang yang merasa diri beriman dapat ikut berlomba. Kriteria dan jadual mencarinya pun telah ditetapkan yak­ni di sepuluh terakhir ramadhan uta­manya pada malam-malam ganjil.

Karena itu, mari kita manfaat­kan sepuluh akhir ramadhan ini dengan memperbanyak amal keba­jikan, memperbanyak istigfhar, memperbanyak membaca Al-Qur’an memperbanyak doa, memperban­yak zikir dan sebagainya. Sebab sungguh kita termasuk orang yang sangat rugi, sangat menyesal apa­bila ramadhan ini berakhir tanpa merebut penghargaan “Lailatul qa­dar itu. Dikatakan demikian, kare­na Lailatul qadar ini hanya datang sekali dalam satuh tahun dan tidak ada jaminan sedikitpun bagi kita untuk dapat meraihnya tahun depan. Kita yakin, Lailatul adar pasti datang dan pasti akan diberikan kepada siapa yang dikehenda­ki. Kita berharap, semoga Tuhan memasukkan kita sebagai salah se­orang yang terdaftar untuk mener­ima penghargaan tersebut. Amin!

Filed under: Opini Islami

One Response

  1. memang bukan undian, sebagian ulama mengatakan lailatul qodar adalah hadiah bagi mereka yang taat dan istiqomah setahun penuh….namun kita bisa berharap, semoga bulan ini kita mendapatkannya….artikel yang bagus, bisa memotifasi kita

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Welcome Myspace Comments

Penulis

Waktu

Tulisan-tulisan yang telah dimuat di berbagai media cetak lokal seperti Palopo Pos, Harian Fajar, Majalah Payung Luwu dan BUletin BPSDM yang memaparkan tentang fenomena sosial yang terjadi di Indonesia serta karya-karya yang bernafaskan Islam.

Anda Pengunjung Ke

Telah dikunjungi oleh

  • 119,407 pembaca

Deteksi Lokasi

Terima Kasih Kunjungannya

Thank You Myspace Comments
%d bloggers like this: