Prof. Dr. H. Paisal Halim, M.Hum

Di Atas Langit Masih Ada Langit

LUPA DIRI DAN LUPA MATI

Dewasa ini, para dokter, tabib dan berbagai ahli lainnya, terus menerus melakukan riset di berb­agai laboratorium. Baik di laboratorium kedokteran maupun di – laboratorium Kehidupan. Pene­litian itu dilakukan guna mencari berbagai ramuan yang dap­at dimanfaatkan sebagai obat utuk mengatasi berbagai pen­yakit yang kini menyerang masyarakat.

Penyakit tersebut adalah pen­yakit lupa diri dan lupa mati. Demikian seriusnya mereka melakukan penelitian sehingga tidak sedikit dokter, tabib dan ahli lainnya  terus membaca perilaku, kamus penyakit, kamus idiom dan membaca enksiklopedia. Bukan itu saja bahkan mereka melakukan studi bandirig, tukar menukar in­formasi melalui surat, telepon, in­ternet baik antarpersonal maupun antarnegara dan sebagainya.

Kesemua itu dilakukan sebagai wujud keseriusan mereka untuk meneliti dan menangkal penyakit lupa diri dan lupa mati itu. Jika dahulu, orang hanya mengenal penyakit cholera, dysentery, batuk, ingus, dan demam. Namun kini dengan perkembangan teknologi, manusia telah menge­nal berbagai jenis penyakit mod­ern. Itu sebabnya, baik di kota maupun di desa orang telah mengenal berbagai jenis penyakit modern.

Seperti penyakit Jantung, Le­ver, Stroke, Darah Tinggi, Leu­keumia dan sebagainya. Seluruh penyakjt yang disebutkan itu ad­alah sebatas penyakit jasmaniah semata, sehingga mudah didetek­si dan dapat dicarikan obat penawarnya. Bukan itu saja bah­kan para dokter menjadikan pen­yakit tersebut sebagai obyek kon­sentrasi keahlian.

Dari konsentrasi keahlian itu, lahirlah dokter ahli. Misalnya, ahli jantung, ahli kulit, ahli mata, ahli penyakit dalam, ahli telinga, hi­dung dan tenggorokan (THT), ahli bedah, ahli syaraf, ahli kelamin dan ahli lainnya. Meskipun manu­sia memiliki deretan keahlian sep­erti yang disebutkan di atas, na­mun sampai sekarang belum ada satu pun dokter yang mampu mengatasi penyakit “lupa diri ” dan “lupa mati”.

Padahal penyakit ini sangat berbahaya apabila menyerang manusia. Penyakit ini tidak men­genal merek, tak mengenal status, profesi, kedudukan, pangkat, ja­batan dan tidak mengenal ketu­runan serta jenis kelamin. Itulah sebabnya sehingga penyakit ini seenaknya menyerang siapa saja yang ia kehendaki. Namun bi­asanya pe.nyakit ini lebih memil­ih orang yang telah memiliki po­sisi penting. Seperti, penguasa, pengusaha, pengacara, politisi, polisi, jaksa , hakim, hartawan, rupawan, olahr­agawan, purnawirawan, war­tawan , teknorat, ulama, guru dan bahkan dokter itu sendiri. Peny­akit lupa diri memiliki gejala tersendiri bila menyerang manu­sia. Apabila penyakit lupa diri ini hinggap pada diri sang pengua­sa maka sang penguasa tersebut akan menjadi pongah, angkuh, takabur dan sombong.

Bukan itu saja bahkan pengua­sa tersebut akan dhalim, kejam, bengis dan tidak berprikemanusiaan sesamanya manusia maka ia akan mendapatkan siksaan pada peng­adilan kubur maupun pada peng­adilan akhirat .

Satu-satunya jalan yang harus dipersiapkan oleh manusia untuk selamat pada pengadilan kubur dan pengadilan akhirat itu adalah selalu memperbanyak amal keba­jikan serta memperbanyak istigh­far. Hanya dengan jalan itulah manusia akan lolos dari siksa yang amat mengerikan itu.

Untuk mengantisipasi siksaan tersebut, mungkin tidak berlebi­han bila penulis mengajak pada kita semua untuk sedirii mungkin menghitung amal kebajikan. Sekaligus meminta ampun atas dosa-dosa yang pernah kita per­buat selama hidup di dunia, sebe­lum kita dipanggil menghadap oleh Tuhan yang maha kuasa.

Mari menyakini bahwa siapa pun di antara kita pasti akan berhada­pan dengan maut dan hanya satu paspor yang mampu menyelamat­kan manusia di alam kubur dan di hari kemudian. Paspor tersebut adalah amal kebajikan. Sekali lagi hanyalah amal kebajikan.

Karena itu mari perbanyak amal kebajikan melalui kekuasaan, kekayaan, kesehatan dan kemam­puan yang diberikan oleh Allah ke­pada kita sebelum Tuhan mengam­bilnya kembali. Mari menyadari bahwa Malaikat pencabut nyawa tidak pernah mencabut nyawa ber­dasarkan nama dalam Abjad, apalagi berdasarkan status, keahl­ian, keturunan dan kekayaan.

Bukan itu saja bahkan kita harus meyakini bahwa sejak dahulu, kini dan akan datang un­dangan kematian itu telah dice­tak. Pula undangan itu tak per­nah berhenti diedarkan meskipun sedetik. Karena itu setiap kita hanya tinggal menunggu giliran kapan undangan kematian itu tiba pada diri kita .

Karena itu tidak ada salahnya bila saya, Anda dan kita semua patut untuk selalu siaga satu dalam menjemput undangan ke­matian itu. Penulis berharap, se­moga dalam menapaki hari-hari mendatang, kita tidak tergolong sebagai orang yang selalu lupa diri dan lupa akan kematian. Karena sungguh kedua penyak­it tersebut yakni penyakit “lupa diri dan lupa mati ” itu hingga sekarang para dokter, tabib dan para ahli lainnya belum menemu­kan obat penangkalnya.

Untuk memproses pertang­gung jawaban manusia, Tuhan telah membentuk sebuah “Pansus amalan manusia” melalui malaikat-malaikat-NYA. Bukan itu saja, Tuhan pun telah membentuk SATGAS yang khusus bertugas mencatat dan merekam amal perbuatan manu­sia. Satgas dipimpin oleh malaikat Rakib dan Atid. Satgas ini tidak pernah berhenti apala­gi mogok mencatat. Mereka pun tidak mengenal siang dan malam. Tidak mengenal hujan dan panas serta tidak mengenal harta, tahta, wanita dan toyota se­hingga sangat sulit bagi manu­sia untuk melakukan negosiasi guna mengatur hasil pencatatan seperti yang sering terjadi di kan­tor dan di sekeliling kita. Bahkan Satgas ini diperlengkapi dengan alat rekaman khusus yang mam­pu merekam dan mendeteksi sekecil apapun perbuatan manusia di permukaan bumi ini.

Lalu bila hal ini diyakini kebe­narannya, mengapa pula kita sering tergiring pada sikap dan prilaku lupa diri ini ? Mengapa juga kita selalu lupa pada kema­tian yang sudah pasti akan kita lalui itu ? Jawabnya, tentu hanya ada pada diri kita masing-masing. Namun hasil survey lapangan menunjukkan bahwa tidak sedikit di antara kita yang masih terserang penyakit lupa diri ini.

Kita masih sering lupa bahwa kekayaan dan kekuasaan serta kekuatan yang diberikan oleh Al­lah selama ini hanyalah pinjaman sementara. Dan tak ada satu pun kekuatan yang mampu menahan­-Nya bila pinjaman tersebut ditar­ik kembali oleh Allah. Padahal bila manusia mau merenung, sesung­guhnya universitas kehidupan ini telah banyak memberikan pelaja­ran bahwa sudah berapa banyak penguasa yang dulunya kuat, perkasa, tak tertandirigi kekayaan dan kekuataannya, namun di ujung kejayaannya berakhir den­gan kematian.

Demikian pun berapa juta manu­sia yang kaya raya, hartanya di mana-mana, deposito tabungan­nya trilyunan di berbagai Bank, kendaraan berbagai merek, sawah, ladang, dan berlian ada di mana­-mana. Namun di ujung kekayaan­nya mereka juga berselimut den­gan “kematian”. Begitu pula den­gan deretan Prestasi, tanda jaba­tan, tanda kehormatan, pangkat, gelar dan kemewahan lainnya yang dimiliki oleh manusia tern­yata kini hanya menjadi penghias batu nisan semata. Kesemuanya hanyalah dikenang, diingat, dipu­ja , diseminarkan bahkan dibagi-bagi oleh orang.

Sementara sang pemilik kebe­saran, kekayaan dan kehormatan itu kini tertinggal seorang diri di liang kubur menanti pengadilan kubur. Lalu bila manusia selama hidup di dunia selalu lupa diri, kikir, angkuh, tamak, sombong, iri hati, dengki dan dendam .

Demikian pula terhadap penyakit “lupa mati”. Bila hal ini menyerang manusia, maka akan menggiring manusia memiliki sifat suka iri hati, benci. dengki, dendam, kikir dan bakhil . Bahkan akan menggiring manusia lupa pada sang maha pencipta, tidak mau berkurban meskipun mampu. Enggan mengeluarkan zakat harta, tidak mau menyantuni anak yatim, fakir miskin dan anak ter­lantar Yang ada di sekelilingnya. Bahkan lebih ironis lagi mereka juga melupakan orang-orang yang pernah berjasa kepadanya. Pada­hal, laboratorium kehidupan ini telah banyak memberikan pelaja­ran pada manusia untuk merenung. Misalnya, peristiwa kema­tian Raja Namruts pada Zaman Nabi Ibrahim.

Raja ini sangat kuat, hebat, kaya raya, berwibawa, ditakuti bahkan sempat menobatkan dirinya se­bagai Tuhan. Namun tatkala Tu­han telah “bosan” melihat ke­bengisan dan keangkuhannya dalam memerintah, maka Tuhan mengutus ratusan ribu “lalat” un­tuk mengoyak-ngoyak tubuh sang raja tersebut.

Hanya dengan keroyokan ratu­san ribu lalat itu , sang raja di raja, sang maha hebat, sang maha, kuat, sang maha perkasa , sang tuan yang dipertuhan ini “mati” seketika itu juga. Ternyata sang tuan yang dipertuhan ini tidak memili­ki arti apa – apa Karena hanya° dengan binatang kecil bernama “lalat” saja dapat mematikan sang raja di raja dengan sangat mengenaskan di depan mata rakyatnya sendiri.

Lalu bila hal ini direnungi, mu­ngkinkah kita masih akan terdor­ong untuk lupa diri, lupa mati dan lupa akan kekuasaan Tuhan itu ? Sungguh patut direnungi bahwa tak terbilang banyaknya tokoh dunia yang diserang penyakit lupa mati. Bahkan tak terbilang tokoh-tokoh tersebut telah lupa diri sehingga menobatkan dirin­ya sebagai sang raja di raja.

Itulah sebabnya tidak sedikit di antara mereka yang lupa akan jorang tua, lupa isteri dan keluarga, saudara, tetangga, sa­habat, handai tolan, jasa guru, jasa orang-orang yang mendidik dan-mendoakannya, serta lupa pula pada Tuhan yang mencipta­kannya.

Padahal sudah tak terbilang banyaknya sang raja di raja, sang penguasa, pengusaha, konglomerat, dokter, tabib dan ahli nujum lainnya yang telah berangkat ke alam barzah un­tuk mempertanggungjawabkan amal perbuatannya selama hidup di dunia.

Filed under: Opini

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Welcome Myspace Comments

Penulis

Waktu

Tulisan-tulisan yang telah dimuat di berbagai media cetak lokal seperti Palopo Pos, Harian Fajar, Majalah Payung Luwu dan BUletin BPSDM yang memaparkan tentang fenomena sosial yang terjadi di Indonesia serta karya-karya yang bernafaskan Islam.

Anda Pengunjung Ke

Telah dikunjungi oleh

  • 119,407 pembaca

Deteksi Lokasi

Terima Kasih Kunjungannya

Thank You Myspace Comments
%d bloggers like this: