Prof. Dr. H. Paisal Halim, M.Hum

Di Atas Langit Masih Ada Langit

MENENGOK GUSDUR MENOREH SEJARAH

BEBERAPA sikap dan per­ilaku yang tidak menarik diperton­tonkan oleh Gus Dur dihadapan publik ketika dinobatkan sebagai presiden. Antara lain mengada­kan kunjungan keluar negeri yang berlebihan dengan setumpuk ala­san pembenaran.

Menjalin hubungan persahaba­tan antar negara, mengundang in­vestor asing untuk menanamkan modal, Meminta dukungan negara sahabat untuk menjaga pecahnya negara kesatuan. Memperbaiki hubungan bilateral dan multilateral dan sejumlah argumen lain lagi.

Sementara disisi lain, pada saat yang bersamaan kondisi dalam negeri semakin mencekam dan mengenaskan atas beberapa peris­tiwa seperti; Sampit, Aceh, Papua. Poso. Isak tangis kelaparan jutaan rakyat pengungsi di NTT serta sulitnya jutaan keluarga mem­bendung terpaan badai krisis yang melilit rumah – rumah penduduk bangsa Indonesia sejak tahun 1997 hingga sekarang. Namun kondisi seperti ini hampir tak terjamahkan dan bahkan cenderung terabaikan.

Bukan itu saja bahkan Gus Dur sering mengumbar ucapan yang tidak patut di­lakukan oleh seorang pres­iden misalnya: Menstempel lembaga DPR sebagai taman kanak-kanak. Melontar kalimat sepele pada pejabat negara dengan ucapan “Kok begitu saja repot “. Masih sederetan lagi sikap dan perilaku yang dipertontonkan Gus Dur di masa pemerintahannya yang cukup membingungkan rakyat dan pejabat. Mengangkat Letnan Jendral Chaeruddin lsmail sebagai Wakapolri sementara presiden sendiri telah menghapus jabatan Wakapolri dalam struktur Polisi RI. Menonaktifkan Jendral Bimantoro selaku Kapolri tanpa persetujuan DPR. Bahkan Gus Dur nekat melantik Chaeruddin Ismail selaku PJS Kapolri meskipun tanpa tongkat komando yang tidak lazim dalam tradisi jabatan Kapolri. Inilah suatu sejarah baru yang ditoreh oleh KH. Abdurrahman Wahid selama masa pemerintahan­nya dan akan terus dikenang oleh berjuta juta anak bangsa sepanjang republic.

Melihat fakta-fakta ini yang akan berakibat fatal terhadap tatanan kelangsungan kehidupan berbang­sa dan bernegara yang terpelihara selama ini maka atas dasar desa­kan mosi tidak percaya dari DPR. Amien Rais bersama pimpinan MPR lainnya tergerak untuk menggelar sidang istimewa dengan dalil meminta pertanggung jawaban presiden selaku mandataris MPR yang direncanakan berlangsung pada 1 Agustus 2001.

Namun sikap ketua MPR terse­but tidak dipedulikan oleh Gus Dur bahkan justru presiden memberi­kan ancaman pada Amien Rais akan membubarkan MPR dan DPR bila agenda dalam sidang is­timewa tidak diubah. Di dalam piki­ran Gus Dur konflik yang terjadi antara DPR dengan presiden masih bisa diselesaikan dengan jalan ko­mpromi bukan dengan jalan sidang istimewa. Namun pikiran Gus Dur ini ditolak oleh Anggota MPR sebab Gus Dur selama pemerintah­annya sering mengingkari kesepa­katan yang telah dibuat bersama.

Karena tidak terjadi kompromi diantara Amien Rais dengan Gus Dur ditambah lagi Gus Dur berani menerobos ” lampu merah ” yang dipasang oleh DPR dengan melan­tik Jenderal Chaeruddin Ismail se­bagai P.IS Kapolri tanpa persetu­juan DPR maka anggota MPR (Minus FKB-FPDKB). Sepakat untuk mempercepat pelaksanaan sidang Istimewa MPR dari rencana tanggal 1 Agustus 2001 menja­di tanggal 21 Juli 2001. Percepatan pelaksanaan sidang istimewa ini serta agenda sidang tetap meminta pertanggungjawaban presiden, maka Gusdur selaku kepala negara /Panglima Tertinggi Angkatan Perang lagi-lagi menoreh sejarah hitam dalam ketatanega­raan Republik Indonesia yakni dengan mengeluarkan sebuah maklumat (Dekrit) pada hari se­nin tanggal 23 Juli 2001 pukul 01.10 Wib yang isinya antara lain: Membekukan MPR-DPR. Mengembalikan Kedaulatan Rakyat ke tangan Rakyat Indone­sia, dan Membentuk Badan-­Badan yang diserahkan untuk men­gadakan Pemilu Satu Tahun serta membekukan Partai Golkar sam­bil menunggu keputusan Mahka­mah Agung.

Keputusan ini sungguh merupa­kan suatu sejarah baru dalam ket­atanegaraan Republik Indonesia yang ditoreh oleh Abdurrahman Wahid selaku presiden sebab mak­lumat ini tidak memiliki arti apa-apa karena tidak didukung oleh TNI Polri dan rakyat pada umumnya bahkan maklumat tersebut dianulir oleh wasit (Mahkamah Agung) se­bagai tindakan yang tidak sah se­hingga maklumat itu hanyalah men­jadi “Kenangan Belaka”.

Inilah tabiat manusia yang selalu diselimuti oleh kekhilafan, kesala­han dan kecerobohan serta sifat se­lalu merasa paling benar, paling he­bat, paling kuat, paling pintar, paling disenangi, paling populis dan seterusnya. Apatah lagi jika manusia itu sedang  memegang kekuasaan.

Semoga saja torehan sejarah yang dibuat oleh Gus Dur selama pemerintahannya menjadi pelajaran yang sangat berharga bagi kita se­mua. Bagi presiden yang baru (Megawati Soekarno Putri), gubernur, bupati, camat, kepala desa dan pejabat lainnya agar berupaya semaksimal mungkin menghindari sifat merasa lebih kuat dari orang lain. Merasa pintar dari or­ang lain, merasa kuasa dari orang lain, merasa paling benar dari or­ang lain, merasa hebat dari orang lain, merasa terhormat dari orang lain dan seterusnya.

Beberapa tapak sejarah lainnya yang ditoreh oleh Gus Dur selama pemerintahannya dapat dikemuka­kan antara lain sebagai berikut: 1) Biaya Perjalanan Keluar Negeri. Ketika Komisi I DPR RI yang diketuai oleh Yasril Ananta Baha­ruddin melakukan rapat dengar pendapat dengan sekretaris Nega­ra Djohan Effendi pada hari rabu tanggal 28 Juni 2001, Komisi tersebut mempertanyakan salah satu diantara sekian banyak pertanyaan adalah Biaya Perjalanan Dinas Gus Dur yang dianggarkan pada tahun 1999 / 2000 dan bera­pa banyak yang telah digunakan.

Pada pertemuan tersebut Ment­eri Sekertaris Negara menjelaskan bahwa Perjalanan Dinas Gus Dur dianggarkan sebesarRp. 53,5 mil­iar dan telah digunakan sebesar Rp 52, 7 miliar atau 98, 64 persen. Hanya dalam kurun waktu kurang lebih dua bulan.

Bila Biaya Perjalanan Dinas ini dipersandingkan dengan Biaya Perjalanan Dinas Presiden Soehar­to dan Habibie maka dapat disim­pulkan bahwa Presiden Gus Dur sebagai pemegang Rekor Terting­gi dalam penggunaan anggaran maupun rekor Perjalanan Dinas ke Luar Negeri karena hanya dua bulan menggunakan Dana sebesar Rp. 52,7 Mil­yar. 2) Peng­hapusan De­partemen. salah satu kebijakan yang tidak populis dilaku­kan oleh Gusdur dimasa Pemerin­tahannya adalah penghapusan De­partemen Penerangan dan Depar­temen Sosial. Dan penghapusan kedua Departemen ini membuat bagian anggaran panik mengutak­ atik administrasi keuangan untuk disesuaikan dengan penghapusan Departemen tersebut baik di Pu­sat maupun di Daerah bahkan ribuan Pegawai di Departemen itu harus kehilangan rezeki akibat tidak memiliki jabatan (Struktural Fungsional). Akibatnya banyak diantara mereka bersama keluarg­anya terpaksa harus menelan pil pahit ini  sebab penempatannya di berbagai Dinas di Daerah hanyalah sebagai “Penumpang Kapal saja” akibat kapal mereka hanyut di te­lan oleh kebijakan Gusdur.

3) Keppres Wakapolri. Dilihat dari sisi ini , Gusdur pun telah meno­reh sejarah dalam Institusi Kepoli­sian karena pada masa pemerintah­annya Gusdur telah menerbitkan Keppres No. 54 tahun 2001 pada tanggal 25 Mei 2001 yang berisi menghapus jabatan Wakapolri dan menggahnya dengan posisi Sekjen. Namun sangat disayangkan kare­na hanya dalam tempo satu bulan saja Presiden menabrak aturan tersebut dengan melantik Chaerud­din Ismail sebagai Wakapolri pada­hal jabatan tersebut telah hapus. Untuk melegalisasi pelantikan ini maka Gusdur pun lagi-lagi harus mengeluarkan Keppres yang baru yak­ni Keppres No. 77 tahun 2001 untuk melindungi pelantikan tersebut.  Selain itu dalam era Pemerintah­an Gusdur pun telah mencatat se­jarah dengan berani menonaktifkan Jenderal S. Bimantoro sebagai Kapolri tanpa persetujuan DPR bahkan Gusdur berani melantik Chaeruddin Ismail sebagai Kapolri meskipun tanpa tongkat “Koman­do”. Akibatnya di Era Gusdur te­lah lahir dua Kapolri yakni Kapolri Non aktif Jenderal S. Bimantoro dan Chaeruddin Ismail sebagai PJS. Kapolri. Lagi – lagi Gusdur menoreh sejarah direpublik ini.

4) Pergantian Menteri. Tidak ada Presiden yang dapat menyamai reputasi Gusdur dalam hal pergan­tian Kabinet. Sebab hanya dalam kurun waktu dua tahun saja kurang lebih dua puluh Menteri silih berg­anti mulai dari Hamza Haz, Yusuf Kalla, Laksamana Sukardi, Kwiik Kian Gie, Yusril Ihza Mahendra, Riyas Rasyid dan sederatan lagi daftar nama-nama menteri yang diganti baik karena dicap KKN, dipecat mau­pun mengundurkan diri.

Terlepas dari alasan apapun perg­antian itu tidak perlu dipersoalkan arena merupakan hak prerogatif Presiden namun yang terpenting dapat ditarik maknanya adalah bahwa setiap orang ketika dino­batkan menduduki suatu jabatan hendaknya berusaha membuat yang terbaik karena kesempatan berbuat hanya biasanya datang sekali saja. 5) Penahanan Pejabat Satu-satunya Presiden yang mamp­u mengukir sejarah membuktikan keseriusannya menggiring siapapun termasuk Pejabat Tinggi ke sel tahanan adalah Presiden K.H. Abdur­rahman Wahid. Hal ini terbukti dengan kemampuan beliau menggiring Gubernur Bank Indonesia Yahril Sabirin bersama wakil Ket­ua MPR Ginanjar Kartasasmita untuk dipaksa menginap beberapa hari di rumah tahanan negara meskipun belum terbukti bersalah. Dan masih sederetan lagi daftar nama – nama Pejabat dan Pengusa­ha yang telah diungkap daftar dosa dan borok mereka yang selama ini tak pernah tersentuh akibat pen­garuh korupsi, kolusi dan nepotis­me. Hanya saja sangat disayangkan karena nama-nama tersebut belum dipaksa menginap di rumah tahanan sebab Gusdur sendiri keburu diberhentikan sebagai Presiden.

6) Penyesuaian Gaji PNS. Yang tak dapat dilupakan pula dimasa pemerintahan Gusdur adalah kebe­raniannya menaikkan Gaji PNS disaat – saat Negara dalam keadaan krisis. Hal ini menunjuk­kan betapa besar perhatian Gus Dur terhadap PNS termasuk TNI dan POLRI sehingga beliau men­geluarkan Surat Keputusan Pres­iden dengan No. 64 tahun 2001 pada tanggal 18 Mei 2001 menaikkan gaji PNS, TNI-Polri dengar kenaikan yang sangat fantastis mulai bulan Januari 2001 yang se­makin memberikan kebabagiaan tersendiri bagi keluarga PNS bersama keluarga TNI-Polri. Dengan kebijakan ini pada hakekatnya Gusdur pun telah membuat suatu sejarah baru bagi PNS, TNI – Polri yang akan dikenang sepanjang masa. Semoga saja demikian!

Filed under: Opini

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Welcome Myspace Comments

Penulis

Waktu

Tulisan-tulisan yang telah dimuat di berbagai media cetak lokal seperti Palopo Pos, Harian Fajar, Majalah Payung Luwu dan BUletin BPSDM yang memaparkan tentang fenomena sosial yang terjadi di Indonesia serta karya-karya yang bernafaskan Islam.

Anda Pengunjung Ke

Telah dikunjungi oleh

  • 119,407 pembaca

Deteksi Lokasi

Terima Kasih Kunjungannya

Thank You Myspace Comments
%d bloggers like this: