Prof. Dr. H. Paisal Halim, M.Hum

Di Atas Langit Masih Ada Langit

MENYOROT PERTARUNGAN GUSDUR Vs AMIEN RAIS

Salah satu Pertarungan elit yang menarik di tahun 2001 ini adalah pertarungan antar Gus Dur sebagai Presiden dengan Amen Rais se­bagai Ketua MPR. Keduanya bertarung all out dengan mengeluar­kan segala jurus yang dimiliki baik jurus yang diperoleh dari dalam negeri maupun jurus yang digeng­gam dari luar negeri. Tidak ada kata menyerah apatah lagi men­galah dalam pertarungan karena masing-masing menobatkan diri se­bagai pemegang sabuk ” kekua­saan” yang dibenarkan oleh konsti­tusi sehingga setiap ucapan. kebija­kan dan tindakan yang dilakukan semuanya telah sesuai dengan kon­stitusi.

Tak diherankan bila kedua tokoh tersebut, saling ancam, saling unjuk kekuatan, saling menyalahkan, sal­ing menjatuhkan bahkan salting menyerang melalui media cetak dan elektronik sehingga sungguh per­seteruan tersebut semakin menarik di baca dan ditonton oleh masyarakat Indonesia maupun in­ternasional.

Namun bila perseteruan ini dile­takkan dalam tataran parameter supporter yang dimiliki masing-mas­ing, baik secara institusional„person­al, government official, legal konstitusional dan logical- komu­nal maka sudah dapat diprediksi leb­ih awal bahwa pertarungan ini akan dimenangkan oleh Amen Rais den­gan kemenangan TKO.

Meskipun diakui bahwa prediksi itu terlalu dini dikemukakan karena pertarungan belum selesai dan para wasit (anggota MPR) belum duduk bersidang untuk menetapkan pe­menangnya tetapi patut diduga bahwa pada tanggal 1 Agustus 2001 atau pada sidang istimewa MPR nanti.

Wakil Rakyat dari seluruh Indo­nesia yang hadir pada saat itu se­bagai wasit, melalui vooting terbu­ka dan dengan suara terbanyak ang­gota MPR menolak pertanggung jawaban presiden dan mencabut mandat dari Gus Dur serta menga­ngkat Megawati Soekarno Putri se­bagai presiden.

Dicabutnya mandat MPR dari tangan Gus Dur hakekatnya secara deyure dan devacto Gus Dur tidak lagi menjadi presiden sehingga harus meninggalkan istana. Serta meny­erahkan sabuk kekuasaannya kepa­da Megawati Soekarno Putri sebagai simbol kekalahan dalam per­tarungan ini.

Prediksi ini dimotori dari angka-­angka yang diperoleh Amen Rais pada setiap bingkai tataran pertarun­gan sebagai berikut :

Pertama: Tataran institusional, Amen Rais selaku ketua MPR te­lah meraih poin atas kerjasama den­gan DPR dalam memainkan secara cantik, bola ” Bruneigate dan Buloggate”. Sehingga dengan permain­an cantik tersebut DPR mengelu­arkan memorandum I dan memo­randum II.

Meskipun diakui bahwa permain­an bola dalam persidangan kasus Bruneigate dan Buloggate menda­patkan rintangan yang cukup keras dari supporter di luar arena. Protes sesama pemain terus berdatangan dengan dari pendukung Gus Dur untuk menepis keterlibatan Gus Dur dari kasus tersebut namun tetap terpental dari sundulan kepala pemain­-pemain an­dalan yang berbakat dan berpengala­man dan Frak­si Golkar, PAN, PPP serta PDIP. Modal per­tahanan yang kuat dari sejumlah frak­si tersebut akhirnya pansus berha­sil memenangkan perlandingan den­gan keputusan sidang, Gusdur terli­bat dalam kasus ” Buloggate dan Bnmeigate” sehingga DPR sebagai institusi yang memiliki tugas kontrol menilai Gus Dur telah melanggar UUD, Tap MPR dan sumpah jaba­tan.

Kedua: tataran personal dilihat dari parameter ini, Amen Rais pun telah merebut point kemenangan karena upaya kompromi yang di­gagas oleh Gusdur dengan mengu­tus pendekar-pendekar ulung besar seperti almarhum Prof DR Baha­ruddin Lopa, SH, Prof. DR. Mah­fud MD, Agum Gumelar serta Khotifah Indar Parawansa dan lain-­lain untuk melakukan lobi antar per­sonal kepada Amen Rais, Akhar Tanjung, Megawati Soekarno Putri dan Hamzah Haz tidak membuah­kan hasil sebagaimana yang diharapkan. Bahkan kondisi hubungan antar personal semakin renggang sehingga suhu politik semakin panas yang semakin mendorong Badan Pekerja MPR mempersiapkan berbagai                RANTAP SI MPR yakni Rantap meminta pertanggungjawa­ban Presiden selaku Mandataris MPR, dan mengangkat wakil pres­iden (Megawati Soekarno Putri). Dilihat dari segi ini Gus Dur kalah lagi karena secara personal delegas­inya tidak berhasil melobi bahkan Panglima poros tengah Amien Rais bersama kawan-kawan sebagai lokomotif yang mendorong Gus Dur menjadi presiden tahun 1999 kini berbalik menyerangnya

Ketiga: Tataran government official. Dilihat dari sisi ini, Gusdur pun kalah dalam pertarungan kare­na surat keputusan yang. dikeluar­kan oleh Gusdur sebagai Presiden Menonaktifkan Jendral Surojo Bi­mantoro sebagai Kapolri tampakn­ya tidak “berbisa” karena survey menunjukkan Jendral Bimantor P tetap melaksanakan tugas sebagai Kapolri serta tongkat Komando masih ditangannya.

Meskipun dengan alasan akan diserahkan secara tradisi pada Kapolri yang baru. Hal ini sangat mustahil terjadi karena lembaga DPR tidak akan mengakui siapapun Kapolri yang di­angkat oleh Presiden bila tanpa per­setujuan dengan DPR. Adalah tidak logic bila dalam suasana saling tidak percaya ini dapat tercipta kompro­mi antara Presiden – DPR terhadap Calon Kapolri yang akan diajukan oleh Presiden yang saat ini menung­gu pemberhentiannya.

Karena itulah dalam tataran offi­cial Goverment Amen Rais pun mengumpulkan poin kemenangan dalam pertarungan ini. Disamping itu perintah penangka­pan Jendral Surojo Bimantoro dan Kapolda Metro Jaya Kepada Agum Gumelar bersama Khaeruddin Is­mail sebagai pejabat pemerintah tidak dilaksanakan oleh keduanya karena mereka menyadari bahwa selain perintah tersebut bukan ke­wenangannya juga tidak memiliki landasan yang kuat sehingga baik Agum Gumeiar maupun Chaerud­din Ismail sebagai prajurit sejati tidak akan terjerumus dalam per­tarungan elit ini meskipun keduan­ya adalah bawahan presiden.

Salah satu pernyataan tegas dari Chaeruddin Ismail Sang Jendral asal Sulawesi Selatan ini yang dilontar­kan di depan publik ketika diwawan­carai oleh wartawan bahwa, “Kapolri dapat saja berganti tetapi aturan harus terus berjalan, dilaksanakan dan di tegakkan”. Pernyataan ini merupakan isyar­at bahwa Chaeruddin Ismail secara pribadi tidak akan mengabdi pada yang berkuasa dan tidak akan mem­biarkan institusi Polri dipolitisir sebab diri dan institusinya hanya akan mengabdi pada bangsa dan negara. Fakta ini menunjukkan bah­wa dari segi government official para petinggi di negeri ini telah mem­berikan dukungan kemenangan ke­pada Amien Rais.

Keempat: tataran logical-komumal, pada tataran ini, Gus Dur semakin terpuruk dan tidak menda­patkan poin sedikitpun. Karena upaya kompromi tahap kedua yang dipimpin langsung oleh Gus Dur dengan mengundang secara terhormat ketua-ketua partai terbesar pemenang pemilu yakni Megawati Soekarno Putri, Akbar Tandjung, Mathori Abdul Djaiil, Amien Rais, Hamzah Haz, dan Yusril Ihsa Mahendra untuk duduk di Istana Bogor. Maksud Gus Dur meru­muskan secara bersama-.ama langkah-langkah yang perlu diambil dalam mengatasi permasalahan yang menimpa bangsa saat ini. Namun sungguh sangat menyakitkan karena undangan tersebut han­ya dihadiri oleh Mathori Abdul Djalil Ketua PKB.

Kegagalan ini lagi-lagi mengi­syaratkan bahwa dari segi logika ketua-ketua partai yang di undang tersebut tidak lagi respek terhadap Gus Dur dan jalan yang arif dan terhormat adalah Gus Dur secara legowo harus mundur dan bila hal ini dilakukan memang kalah dalam pertarungan tetapi menang dalam kehormatan.  Kelima: dari  segi legal-konstitusional, satu-satunya jalan yang harus dilakukan oleh Gus Dur un­tuk memburuk ketertinggalan angka dari Amien Rais adalah menang dengal KO yakni membubarkan DPR dan MPR melalui Dekrit. Hal ini akan dilakukan oleh Gus Dur pada 20 Juli 2001 pukul 18.00 dengan alasan “State of emergen­cy” yang efektif berlaku 31 Juli men­datang.

Hanya sangat disayangkan karena anca­man Dekrit tersebut tidaklah mem­buat jantung Amien Rais berdenyut lebih cepat bahkan ancaman Dekrit itu dianggap sebagai “Extra Joss” bagi Amien Rais. Untuk lebih menguatkan otot-­ototnya dalam memenangkan pertarungan di babak terakhir Sidang Istimewa. Hal ini terbukti dari lang­kah Amien Rais secara spontan mengumumkan kepada seluruh rakyat Indonesia dimanapun berada melalui media cetak dan elek­tronik bahwa bila presiden men­geluarkan Dekrit 20 Juli 2001 maka satu atau dua jam kemudian Sidang Istimewa akan berlangsung.

Dilihat dari segi legal-konstitu­sional pada umumnya pakar hukum tata negara tidak membenarkan dekrit itu karena sifatnya subyek­tif bukan untuk kepentingan keselamatan negara sebab kondisi negara saat ini tidak dalam keadaan bahaya melainkan hanya “kekua­saan Gus Dur dalam keadaan bahaya “. Sehingga sifatnya cen­derung pada subyektivitas kepentingan pribadi bukan kepentingan orang banyak.

Di sisi lain adalah bahwa jika dekrit itu benar-benar dikeluarkan oleh Gus Dur, akankah mempunyai kekuatan hukum, dan siapa yang akan menegakkannya. Sementara Menham, Kapolri, Wakapolri, Kasad telah mengingatkan presiden sebelumnya agar tidak mengeluarkan dekrit demi keselamatan bangsa dan negara.

Bila Polri dan TNI tidak mendukung, kekuatan mana lagi yang mau dan mampu menegakkan Dekrit itu ? lagi-lagi poin kemenangan untuk Amien Rais. Hanya persoalannya adalah bila pada Sidang Istimewa nanti wasit mengumum­kan kemenangan Amien Rais, den­gan mencabut mandat MPR dari Gus Dur. Mungkinkah Gus Dur bersedia mundur dan menyerahkan, tampuk kekuasaan itu pada Megawati ?  Atau bila wasit (MPR) menolak pertanggungjawa­ban Gus Dur dari memberhentikannya pada saat sidang Istimewa mungkinkah Gus Dur bersedia ke­luar dari Istana Negara. Mungkin­kah Gus Dur akan menerima kekalahan ini begitu saja? Kita tunggu saja!

Filed under: Opini

One Response

  1. #hitam putih indonesi

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Welcome Myspace Comments

Penulis

Waktu

Tulisan-tulisan yang telah dimuat di berbagai media cetak lokal seperti Palopo Pos, Harian Fajar, Majalah Payung Luwu dan BUletin BPSDM yang memaparkan tentang fenomena sosial yang terjadi di Indonesia serta karya-karya yang bernafaskan Islam.

Anda Pengunjung Ke

Telah dikunjungi oleh

  • 119,407 pembaca

Deteksi Lokasi

Terima Kasih Kunjungannya

Thank You Myspace Comments
%d bloggers like this: