Prof. Dr. H. Paisal Halim, M.Hum

Di Atas Langit Masih Ada Langit

MERENUNGI WAJAH NEGERIKU

Di awal bulan Ramadhan 2002 ini, penulis bersama rekan, saudara dan sanabat saya Hasyim Muhammad, SH berkunjung ke ruang Wakil Bupati Bapak Drs. H.M. Said Tjulla untuk suatu keperluan dinas. Pada pertemuan tersebut, Pak Said sebagai saudara, sahabat, partner sekaligus guru saya tak lupa mem­berikan nasehat meskipun dalam bentuk kultum (kuliah tujuh menit): Dalam pertemuan itu, berbagai wejangan disuguhkan kepada kami berdua. Terutama mengenai masalah puasa, budaya, hubungan gaya tanda tangan dengan nasib hingga menyangkut wajah dan  wibawa Indonesia di mata dunia.

Pada kuliah tujuh menit itu; kami diperlihatkan be­berapa referensi dari lokakarya nasional yang di­ikuti oleh beliau di Hotel Aston Atrium Jakarta Mei 2002. Salah satu diantara referensi tersebut menyorot tentang wajah Indonesia. Seusai menerima kuliah tu­juh menit dari “gurutta” kami pun pamit sambil menggenggam sebuah ref­erensi untuk dibaca di ru­mah. Referensi tersebut harus dibawa ke rumah un­tuk dibaca. Hal tersebut lak­sana tugas individual bagi mahasiswa di perguruan tinggi.

Sesampainya di rumah, halaman demi halaman dari referensi itu penulis baca hingga tiba pada halaman wajah Indonesia. Ketika membaca halaman tersebut, penulis teringat pada salah seorang dosen saya di Universitas Negeri Jakarta bernama Prof Dr. Imam Chormain. Beliau ini memegang mata kuliah Ber­fikir Kesisteman. Sebelum men­yajikan kuliah perdana, beliau sempat mengkritik kami secara habis-habisan akibat kelamba­nan mengisi biodata yang diberikan. Bermula dari kelam­banan itulah, beliau menstem­pel lemahnya disiplin, etos ker­ja dan kreatifitas mahasiswa In­donesia. Hal ini terjadi akibat buruknya pelaksanaan sistim pendidikan di Indonesia. Bukan itu saja bahkan dari kelamban­an kami mengisi biodata terse­but, beliau banyak mengkritisi buruknya wajah pemerintah In­donesia. Posrsi Indonesia bah­kan potret kualitas luaran pen­didikan Indonesia di mata du­nia. Saya teringat pada dosen tersebut karena komentarnya terhadap wajah Indonesia hampir sama dengan pandan­gan Prof DR: Hendra Halwani, MA. yang dikutip dari berb­agai laporan.

Menurut Prof DR. Hendra Halwani,MA bahwa wajah re­publik ini di mata dunia sangat mem­prihatinkan. Keprihatinan terse­but diperoleh dan hasil peneli­tian dan kajian yang dirangkum oleh Lembaga Strategi Promosi dan Investasi Daerah. Adapun hasil rangkuman kajian ter­hadap wajah Indonesia itu se­bagai berikut:

1. Dari segi kemampuan daya saing produksi. Berdasarkan hasil Laporan Institute for Management De­velopment dalam Word Competitiveness Year Book 2002 menunjukkan bahwa dilihat dari sisi kemampuan daya saing produksi tampaknya republik ini menempati posisi peringkat ke 47 dari lima puluh negara yang disurvey. Hal ini berarti dari 50 negara yang disurvey daya saing produksinya, nega­ra kita berada pada urutan keti­ga dari bawah. Dengan data tersebut dapat disimpulkan bahwa dari segi kualitas hasil produksi, ternyata negara kita masih sangat lemah dibanding dengan negara-negara lain. Karenanya kedepan pemerintah bersama seluruh rakyat Indone­sia sangat perlu merumuskan langkah yang kongkret untuk mengejar ketertinggalan terse­but.

2. Dari segi tingkat penetapan upah pekerja Indonesia. Di lihat darisegi ini, Indone­sia berada pada posisi paling rendah di dunia dalam mene­tapkan upah kerja buruh. Bisa dibayangkan betapa besar per­bedaan ketentuan upah kerja yang ditetapkan di Indonesia ketimbang dengan negara lain. Penetapan upah pekerja di In­donesia hanya sebesar 5,3 % dari total biaya rata-rata. Sedan­gkan negara tetangga seperti Thailand sebesar 13% Malay­sia 23,5 % dan Singapore 34 %. Di lihat dari segi penetapan upah pekerja serendah itu, kita dapat bayangkan betapa pedih dan perihnya nasib buruh bang­sa kita di republik ini bila dibanding dengan negara-­negara lain. Sungguh pantas bila warga republik jauh leb­ih baik memilih mencari peker­jaan di negeri orang ketimbang di negaranya sendiri.

3. Dari segi kualitas SDM Indonesia. Dari segi kualitas sumber daya manusia, Indonesia masih berada pada peringkat nomor 111 dari 174 negara di dunia. Hal ini berarti kualitas sumber daya manusia yang kita miliki sejajar dengan kualitas sumber daya manusia yang dimiliki oleh negara-negara miskin di ka­wasan Asia selatan dan di ka­wasan Afrika (UNDP). Posisi ini diambil berdasarkan data dari Human Development Index/ HDI September 2001.

4. Standar dan Kualitas Perbankan Indonesia di Dunia. Berdasarkan hasil laporan Political and Economic Risk Consultancy LTD (PERC) Mei 2002, diperoleh informasi bah­wa dari segi keberadaan kuali­tas perbankan, Indonesia men­duduki urutan pertama sebagai negara yang memiliki standar kualitas perbankan yang terbu­ruk di Asia Pasifik.

5. Tujuan Investasi. Dari segi ini juga Indonesia merupakan negara yang mempunyai posisi tujuan in­vestasi terburuk dari 35 negara yang disurvey. Po­sisi ini terlihat dari Capacity index yang menggambar­kan tingkat transparansi dalam praktek bisnis di suatu negara. Artinya prak­tik bisnis di republik ini ber­langsung kurang jelas, kurang akurat dan banyak diwarnai dengan permainan `pat gulipat’, `kong ka­likong’ dan kurang bisa di­terima oleh masyarakat luas. Perlindungan bisnis sangat buruk, kebijakan ekonomi yang lamban dan tidak ter­fokus. Pelaporan perusa­haan yang tidak akurat, ser­ta regulasi pemerintah pu­sat dan daerah vane kaku dan syarat dengan KKN. Penilaian ini didasarkan pada hasil survey yang di­lakukan oleh Price water­-house Coopers Endowment for study of transparency and sustainability 2002.

sedangkan menurut the Economist Intelligence Unit (EIU) Inggris 2002, Indonesia menempati urutan paling bawah atau paling terendah. Hal ini berarti Republik Indonesia masih tergolong sebagai nega­ra yang paling tidak menarik bagi investor untuk menanam­kan modalnya. Hal ini disebab­kan antara lain: karena umumn­ya para investor masih diliputi oleh rasa tidak aman, rasa takut karena sering terjadi gejolak dan ketidakpastian. Karena itu para investor lebih memilih negara-negara lain yang diangggap aman seperti: Malay­sia, Singapura dan China.

6. Kualitas Birokrasi Indonesia. Dilihat dari segi ini, tentu para pembaca sudah dapat menduga peringkat yang akan diraih. Berdasarkan hasil sur­vey political and economic risk Consultancy PERC Sep­tember 2001, Indonesia tetap berada pada posisi yang ter­buruk. Memburuknya kualitas birokrasi pusat dan daerah di Indonesia ini tercermin dari meningkatnya skor birokrasi dan red tapes (pat gulipat). Menurut laporan tersebut bah­wa meskipun biaya untuk melakukan bisnis di Indonesia lebih murah sebagai akibat ‘ depresia nilai tukar rupiah, na­mun kelebihan tersebut terhapuskan oleh ketidakstabilan politik, sistim hukum yang lemah, tidak terlindungmya hak cipta, rawannya keaman­an, serta birokrasi yang masih suka mencekik.

7. Di bidang pemerintahan Good Government dan Good Governance atau Clean and Respectable Government (Penyelenggaraan pemerin­tahan yang bersih dan berwibawa). Dari segi ini Indonesia masih tergolong negara yang KKN-nya cukup tinggi. Betapa tidak, menurut hasil lapo­ran ICW, republik ini ditem­patkan sebagai negara nomor tiga terkorup di dunia setelah Kamerun dan Nigeria.

Sedangkan menurut hasil survey yang diter­bitkan oleh Political and Economic Risk Consul­tancy (PERC) 10 Maret 2002 Indonesia ditempat­kan sebagai negara yang cukup tinggi tingkat korupsinya di Asia. Angka, yang diperoleh dari hasil survey tersebut sebesar 9.92. Angka ini sangat fantastis karena merupakan angka yang hampir mendekati paling sempurna. Itu berarti korupsi di republik ini sudah sedemikian parah­nya (mendekati angka 10). Itu sebabnya Prof. Halwani memberi julukan atau gelar untuk RI ini sebagai republic drakula.

Ketika penulis meminta resep untuk menyembu­hkan negara yang sedang sakit ini, Prof. DR. Imam Chormain se­laku dosen pemegang mata kuliah `Berfikir Kesisteman’, beliau menjawab harus dilaku­kan dengan melakukan pende­katan sistemik. Pendekatan yang dimaksud antara lain: Per­baiki sistim dan manajemen pendidikan, pe­merintah harus berani men­ingkatkan biaya pendidikan min­imal 20 % dari total anggaran APBN demi mengejar kert­inggalan. Pe­merintah harus berani menjadi­kan hukum se­bagai panglima karena negara kita adalah negara hukum. Bersihkan sikap,prilaku para aparat dan birokrat dari perbua­tan Korupsi, Kolusi dan Nepo­tisme, mempercepat proses pendidikan politik (demokrati­sasi) agar masyarakat lebih mengetahui hak dan kewajibannya, memperbaiki sis­tim ketatanegaraan, memban­gun kepercayaan masyarakat dengan informasi keterbukaan dan sebagainya. Seluruh resep tersebut harus dilakukan secara serentak dan simultan. Karena bila tidak, akan memakan pros­es / puluhan tahun dalam penyembuhannya sebab pen­yakit yang menimpa republik ini sudah sangat kronis.

Mendengarkan jawaban tersebut, penulis tertegun se­jenak dan bertanya dalam hati, mungkinkah hat ini dapat dilaku­kan oleh pemerintahan Mega­wati, atau kita tunggu saja keajaiban dari pemerintahan yang baru di 2004 ? Jawabnya tentu terpulang pada versi kita masing-masing. Bagi penulis, meskipun wajah negeri ini demikian buruknya dimata ber­bagai organisasi dan individu namun sebagai bagian dari rakyat Indonesia, penulis tetap saja bangga sebagai rakyat In­donesia. Bahkan wabah tersebut tidak mengurangi sedikitpun kecintaanku terhadap republik ini.

Penulis yakin bahwa selagi mata hari masih terbit di ufuk timur maka selama itu pula In­donesia adalah negeriku dan aku akan tetap bangga sebagai rakyatnya. Penulis yakin bah­wa lambat atau cepat republik ini pasti akan bangkit kembali ‘ menemukan jati dirinya, dan badai yang menimpa negeri ini pasti akan berlalu. Karena itu, penulis tetap bangga menyany­ikan lagu: “Padamu negeri kami berjanji, padamu negeri kami berbakti, dan bagimu negeri jiwa riga kami.” Demikian renungan dan sikapku terhadap dirimu, wahai negeriku!(rhm)

Filed under: Opini

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Welcome Myspace Comments

Penulis

Waktu

Tulisan-tulisan yang telah dimuat di berbagai media cetak lokal seperti Palopo Pos, Harian Fajar, Majalah Payung Luwu dan BUletin BPSDM yang memaparkan tentang fenomena sosial yang terjadi di Indonesia serta karya-karya yang bernafaskan Islam.

Anda Pengunjung Ke

Telah dikunjungi oleh

  • 119,407 pembaca

Deteksi Lokasi

Terima Kasih Kunjungannya

Thank You Myspace Comments
%d bloggers like this: