Prof. Dr. H. Paisal Halim, M.Hum

Di Atas Langit Masih Ada Langit

Nafas Maulid Buat Sang Penguasa

Bulan ini adalah bulan maulid Nabi Besar Muhammad SAW. Umat Islam diberbagai penjuru dunia merayakan hari kelahiran beliau dengan berbagai cara dan gaya tersendiri. Hal ini dilakukan oleh segenap umat Islam berbagai simbol ungkapan rasa terima kasih, rasa hormat dan rasa cinta kepada beliau atas perjuangannya mengeluarkan manusia dari lembah kebiadaban menjadi manusia yang beradab, dari manusia yang jahil menjadi moderen, dari manusia yang diskriminatif terhadap ras, agama, dan golongan menjadi manusia tidak diskriminatif.

Beliau menganjurkan untuk selalu menebarkan sikap saling menghormati, saling menyayangi, saling mengasihi, saling menebarkan perdamaian, saling menghargai hak sekaligus menegakkan kebenaran dan Sikap terpuji yang dilakukan oleh Rasu­l terabadikan dalam Al-qur’an. Itulah sebabnya beliau dinobatkan sebagai sosok manusia paling patut untuk dicontoh dan ditauladani manusia di permukaan bumi ini.

Salah satu ajaran yang beliau tanamkan kepa­da pengikutya adalah persamaan hak di muka hukum (equal justice under law). Ajaran ini diwujudkan ­oleh beliau di masa pemerintahannya, bahkan beliau menyatakan bahwa seandainya Fatima binti Muhammad yang mencuri maka Muhammad sendiri yang akan memotong tangannya. Sungguh ajaran penegakan hukum dan hak asasi ditanamkan kepada pengikutnya sangat menyentu hati nurani para sang penguasa (khalifah) sesudahn­ya. Salah satu sang penguasa yang tersentuh hati nuraninya dalam menegakkan hukum dan hak asasi manusia di permukaan bumi ini adalah khalifah Umar bin Khattab.

Dalam tamboh sejarah kekhalifaan, telah terukir dengan tinta emas suatu torehan sejarah gemi­lang yang dibuat oleh Umar bin Khattab. Dalam torehan sejarah itu tercatat bahwa pada masa pemerintahan Khalifah Umar bin Khattab, Beliau mengangkat seorang gubernur di Mesir bernama “Amru bin Ash”. Suatu hari, pak gubernur ini melakukan pengenalan medan. Beliau mengelil­ingi wilayah kekuasaannya sambil silaturahmi dengan segenap rakyatnya.’Dalam melakukan survey, pak Gubernur banyak menerima info dari berbagai pihak, baik dari rakyat maupun pejabat. Pada acara survey lapang, beliau melihat peman­dangan yang tidak indah di depan istananya yang megah. Di depan istana itu terdapat sebuah gu­buk reot milik masyarakat yang tidak mengenak­kan sehingga terbetik di dalam pikiran gubernur untuk membangun sebuah masjid megah di sep­utar lokasi tersebut.

Rencana ini dilakukan demi untuk menggusur gubuk reot yang berada di depan istana. Lagi pula bila masjid ini di bangun dapat memberi prestasi bagi gubernur di masa pemerintahannya kelak. Na­mun untuk menggusur gubuk reot ini tidak mu­ngkin dilakukan begitu saja tanpa disertai dengan alasan dan argumentasi pembenaran untuk meng­gusur. Karena itulah beliau melahirkan gagasan pembangunan masjid megah di lokasi tersebut.

Begitu gubernur mencanangkan ide ini, sep­erti biasa, para staf terkait sangat sibuk mencar­ikan pasal pembenaran termasuk anggaran pembangunan. Telaah demi telaah datang, dari berb­agai staf sesuai bidang masing-masing. Mulai dari luas bangunan, peta tanah, desain gambar, biaya pembangunan, warna cat, model masjid dan proses ganti untung tanah milik rakyat yang berada di lokasi tersebut.

Rapat demi rapat terus dilakukan , baik rapat teknis, peninjauan lapangan dan analisa men­genai dampak lingkungannya. Dengan berdasar pada hasil rapat dan telaah staf, panitia pem­bangunan menyimpulkan bahwa demi untuk kepentingan orang banyak maka rencana pembangunan tersebut sangat layak dilakukan.

Untuk menindaklanjuti hasil rapat tersebut, panitia pembangunan atas nama pemerintah mengundang seluruh pemilik tanah untuk dibi­carakan ganti untung tanah di lokasi tersebut. Setelah berkumpul, panitia pendataan melapor kepada Bapak gubernur bahwa pemilik tanah dan gubuk reot di lokasi proyek adalah seseorang berkebangsaan Yahudi.

Mendengar laporan ini, gubernur Amru Bin Ash memanggil kepala proyek untuk mengh­adapkan Yahudi tersebut kepada gubernur. Set­elah  diperhadapkan, Gubernur berkata : “Yahud­i- sudah tahu belum mengapa saudara dipanggil ? Belum tahu pak”. Jawab Yahudi. “Di istana ini akan dibangun sebuah masjid, dan saya mendengar dari staf, tanah saudara ada di dalam jalur hijau tersebut. Karena itu demi suksesnya rencana ini, diharapkan partisipasi saudara sebagai rakyat untuk rela diganti untung  tanah saudara tersebut sebesar 3 kali lipat, dari harga standar tanah yang ditetapkan pe­merintah. Bagaimana pendapat saudara ?”

Si Yahudi menjawab: “Saya tidak bersedia pak”. ‘Bagaimana kalau lima kali lipat?” saya tidak mau pak’ Kata Yahudi. Mendengar jawaban seperti itu Gubernur Amru Bin Ash ini, mulai kesal, namun masih bisa menahan tempramen bathinnya. `Yahudi, bagaimana kalau tanah bersama dengan gubuk saudara itu saya ganti 10 kali lipat?” Yahudi ini tetap tidak mau. Kemudian gubernur­ menawarkan lagi, “bagaimana kalau 20, 30, 40 kali lipat. Pokoknya saya tidak mau pak, sebab tanah tersebut adalah satu-satunya warisan or­ang  tua saya pak.” Jawab Yahudi ini.

Mendengar Jawaban itu, para staf bersama pimp­inan proyek yang hadir pada saat itu sangat kecewa. Akhirnya pertemuan bubar dan tidak menghasilkan kesepakatan apa-apa antara si pemilik gubuk reot dengan gubernur: Usai pertemuan, beberapa staf mengusulkan pada gubernur, untuk menggusur saja gubuk reot itu dengan pasal orang banyak”. Staf lain mengusulkan agar pemerintah membentuk negosi­asiator ulung untuk mendekati secara kekeluargaan sang Yahudi tersebut. Siapa tahu dengan pendekatan kekeluargaan si Yahudi ini bersedia tanah­nya diganti untung. Mendengar usul tersebut, gubernur Amru bin Ash membentuk tim negosiasi. Para negosiator melakukan berbagai cara mulai dengan melobi dengan mengunakan rekan, sa­habat, famili, saudara, dan tokoh – tokoh lain. Namun hasilnya tetap sangat mengecewa­kan karena sang Yahudi tetap bersikukuh tidak mau menjual tanah warisan tersebut.

Karena tidak ada kesepakatan, maka panitia pembangunan masjid mengambil garis tegas bahwa demi kepentingan orang banyak dan kemashlahatan umat, proyek harus diteruskan dan gubuk Yahudi mutlak harus dibongkar paksa oleh petugas ketertiban. Satuan tugas terpaksa diturunkan untuk menggusur gubuk reot sang Yahudi ini. Dalam penggusuran terse­but Sang Yahudi hanya mampu menangis me­lihat gubuknya dibongkar paksa oleh petugas ketertiban negara. Meskipun ia pasrah diper­lakukan demikian, namun dalam pikirannya ter­betik untuk mengadukan persoalan ini kepada khalifah yang ada di Madinah.

Berangkatlah sang Yahudi ini menuju Madinah mencari keadilan atas tindakan kese­wenang-wenangan sang gubernur. Khalifah saat itu adalah Umar bin Khattab. Saat Yahudi ini tiba di Madinah, ia bertemu dengan seor­ang yang sedang berbaring di bawah pohon beralaskan pelepah daun kurma. Sang Yahudi ini bertanya pada orang tersebut. ” Maaf tuan, sudikah tuan menunjukkan kepada saya dima­na istana Khalifah di kota ini? Mendengar per­tanyaan tersebut, sang tuan yang berbaring itu berdiri kemudian menjawab: Istana khalifah itu berada di bawah pohon Kurma”. Lalu sang Yahudi bertanya lagi. “Apakah pengawalnya banyak Pak ? “Ya, sangat banyak. Pengawaln­ya fakir miskin; Janda-janda tua, yatim piatu, dan orang-orang yang tertindas”. Kemudian Yahudi ini bertanya lagi , ” bila demikian, di­manakah orang tersebut tuan, saya ingin seka­li menjumpainya”. “Orang tersebut sekarang di depan Anda”. Mendengar jawaban terse­but, sang Yahudi ini terperanjat, kemudian ber­kata terbata-bata.” Ja…di… tu…an… ini adalah khalifah?” “Ya, Saya ini khalifah Umar bin Khut­tab”. Ada apa ingin bertemu dengan saya” ? Tanya Khalifah .

“Begini Tuan, saya datang kemari jauh dari Mesir hanya ingin mencari keadilan. Di daerah saya, Gubernur tuan bertindak sewenang-­wenang. la menggusur gubuk saya dengan pak­sa, hanya karena ingin membangun masjid rak­sasa di Mesir. Karena itu, saya datang melapor kepada khalifah tentang perbuatan gubernur tersebut. Mendengar uraian itu, Khalifah kemu­dian bertanya: “Apakah Amru bin Ash , guber­nur di Mesir itu benar melakukan hal tersebut tanya khalifah kepada si Yahudi ini. ” Benar tuan. Itu sebabnya saya datang kemari untuk menun­tut keadilan, tuan !”

Alangkah indah dan damainya repub­lik ini, apabila para pemegang kekua­saan, para penegak hukum (Hakim, Jaksa, Polisi, Pengacara) dapat ber­sikap dan berprilaku seperti yang di pertontonkan antara lain oleh Umar bin khattab dan Iskandar Muda. Bila sikap dan prilaku menegakkan keadilan dan kebenaran tetap dilakukan dengan cara diskriminatif, maka meskipun banyak polisi, banyak tentara, banyak pengacara, namun kebebasan, kedama­ian dan keadilan tidak akan terwujud.

“Laporan saudara saya terima. Sekarang tolong kamu ke tempat sampah itu, dan ambilkan satu tu­lang onta,” pinta sang Khalifah. Mendengar permintaan itu, Sang Yahudi ini berkata kepada Khalifah,”Tuan, saya kemari ini untuk menuntut keadilan, bukan untuk meminta tulang Onta, kalau hanya tulang Onta, di Mesir juga banyak tuan.”

“Sudahlah, kau ambil saja satu tulang Onta itu lalu bawa kemari”, kata khalifah. Mendengar jawa­ban itu, sang Yahudi ini menuju ke tong sampah. Diambilnya satu tulang lalu diberikan kepada Khalifah. Begitu Umar bin Khattab menerima tu­lang Onta, ia menarik pedangnya kemudian mem­buat garis lurus di atas tulang Onta tersebut. “Yahudi, sekarang kau pulang ke Mesir dan sam­paikan tulang Onta ini kepada Gubernur Amru in Ash”. Pinta Khalifah. Mendengar ucapan tersebut Si Yahudi ini makin bingung ! “Tuan, saya kemari ini ingin mencari keadilan, tolonglah ‘” Pinta sang Yahudi ini. “Sudahlah, kamu be­rangkat saja ke Mesir dan berikan tulang Onta ini kepada Gubernur.”

Mendengar perintah ini, sang Yahudi kembali menuju Mesir. Di tengah perjalanan sang Yahudi tidak habis berpikir, apa hubungannya antara tulang Onta ini dengan tuntutan saya, apakah tu­Iang onta ini dapat menyelesaikan permasalahan say a dengan gubernur? Dan masih banyak lagi pertanyaan yang terbetik dalam pikiran sang Yahu­di ini di dalam perjalanan pulangnya.

Sesampainya di Mesir, sang Yahudi langsung menuju istana Amru bin Ash. “Lapor Pak Gu­bernur! Saya baru saja dari Madinah bertemu dengan kalifah Umar bin Khattab.” Mendengar ucapan Yahudi ini, Gubernur mulai keringatan. Kamu dari pusat ?” tanya Gubernur.

Ya, saya dari pusat.” “Untuk apa kamu kesa­na. Untuk menuntut keadilan atas penggusuran tanah dan gubuk saya.” “Kamu bertemu khali­fah?”. “Ya saya bertemu dengannya. “Apa kata Khalifah?” tanya Gubernur. Sang Yahudi menjawab, “Beliau menitip salam kepada Bapak sekaligus mengirimkan tulang untuk tuan.”

Si Yahudi ini menyerahkan tulang Onta terse­but. Begitu Amru Bin Ash melihat ada garis lu­rus bekas ujung pedang Umar di atas tulang itu, ‘sang Gubernur pucat dan gemetar. Si Yahudi ini semakin bingung, melihat gubernur pucat men­erima tulang dari Umar bin Khattab. “Ada apa Gubernur?” tanya Yahudi. “Ada apa? Kamu ini sedikit-sedikit main pusat, pusat ! Ngomong du­lulah, jangan langsung main pusat,” kata Guber­nur kepada Yahudi.

“Saya khan sudah ngomong kepada pak Gu~bernur, tapi staf tuan main seret saJa, ya terpaksa saya ke pusat pak,” kata Yahudi itu. Tapi, sesunguhnya apa pesan khalifah kepada tuan melalui tulang itu?. Gubernur menjawab,”Beliau meng­ingatkan kepada saya, seolah-olah Khalifah ber­kata, Amru bin Ash! jangan mentang-mentang jadi gubernur kamu bertindak sewenang-wenang kepada rakyatmu. Berlaku adillah kamu kepada siapa saja seperti garis lurus ujung pedangku di tulang ini. Bila kamu tidak berlaku lurus, saya yang akan meluruskan kamu dengan ujung pedangku ini. Demikian pesan Khalifah Umar bin Khattab kepada saya,” katanya.

Mendengar jawaban tersebut, sang Yahudi ini baru mengerti, mengapa Gubernur pucat dan gemetar ketika melihat tulang. Dari peristiwa inilah sang Yahudi sangat terkesan betapa mulianya ajaran Islam menjunjung tinggi hak asasi manusia, keadilan, dan kebenaran.

Seusai menerima pesan tersebut, sang guber­nur melakukan rapat kilat. Seluruh staf dipanggil termasuk kepala proyek. Dalam rapat kilat itu sang gubernur mengambil keputusan. “Tuan-tuan sekalian! Melalui pertemuan Hari ini saya menya­takan rencana pembangunan masjid megah ini batal, karena itu penggusuran dihentikan, dan gubuk reot sang Yahudi ini segera dirikan kemba­li.” •Mendengar pernyataan itu, sang kepala proyek berkata, “Tapi pak, proyek ini sudah di­tenderkan?” kata pimpinan Proyek. “Sudahlah, pokoknya proyek ini batal dan dirikan kembali gubuk si Yahudi ini,” Jawab Gubernur.

Melihat suasana tarik menarik seperti itu, sang Yahudi semakin bingung, lalu ia bertanya. “Pak Gubernur, apakah dengan pesan tulang ini, saya dinyatakan menang pak ? Ya, kamu menang dan saya kalah. Jawab Gubernur: Jadi saya menang pak? Ya kamu menang! Tapi saya kan Yahudi, apalagi rakyat bapak” “Meskipun kamu Yahudi dan rakyat saya, kamu tetap menang . Jawab gubernur”. Mendengar jawaban gubernur tadi, sang Yahudi tertegun kemudian dia berkata” Pak Gubernur, sungguh saya sangat terharu den­gan ajaran agamamu. Meskipun saya rakyat kecil, miskin, apalagi beragama Yahudi namun dapat menang melawan tuan yang titahnya didengar, disegani dan dihormati di Mesir.

Sungguh peristiwa ini sangat menyentuh nu­rani saya Pak Gubernur. Karena itu saya nyata­kan mulai hari ini “silahkan ambil tanah saya tersebut dan tidak usah diganti. Bukan itu saja, bahkan mulai hari ini saya juga mengucapkan, “Lailaha Illallah Muhammadar  Rasulullah. (Aku bersaksi bahwa tiada Tuhan selain Allah dan Muhammad itu adalah Rasul Allah).

Dengan peristiwa ini, penulis teringat pada un­gkapan orang-orang tua dahulu bahwa pendeka­tan “saro mase si pammase-mase, pendekatan si Pakatau, pendekatan si Pakalebbi, ternyata jauh lebih efektif menyelesaikan masalah ketimbang dengan pendekatan kekerasan, dan pemaksaan seperti yang sering terjadi di republik ini.

Ketika penulis menyodorkan opini ini kepada rekan, sahabat, saudara dan sekaligus guru saya, Bapak DR. H.M. Iskandar saat bincang lepas di lapangan Tennis kampus STAIN Palopo, dengan spontan beliau menyodorkan pula sebuah kisah nyata. Sambil mengusap keringat kemenan­gan saat usai melumpuhkan pasangan Lawan Tennisnya Drs. Nurdin Mahmud, DR.H.M Is­kandar berceritera bahwa pada masa pemerin­tahan Iskandar Muda di Aceh dahulu, sang raja bersama masyarakat pernah membuat kesepa­katan bahwa siapa saja yang melakukan perbua­tan zina akan di hukum mati.

Suatu ketika, saat sang panglima kerajaan bersama anak buahnya melakukan razia di berbagai wilayah, ia menemukan sang pangeran anak Sultan Iskandar Muda sendiri melakukan perbuatan maksiat tersebut. Saat kedapatan melakukan perzinahan, anak sultan ini melarikan diri, namun kerisnya, tertinggal di tempat kejadian.

Keesokan harinya sang panglima kerajaan menghadap pada Raja. “Wahai tuan raja, mo­hon ampun beribu ampun. Hari ini saya membawa berita buruk bagi tuan, namun demikian mohon tuan dapat menerimanya dengan lapang dada.” “Silahkan laporkan Panglima. Jawab raja.

Tadi malam anak sultan memperkosa salah seorang wanita di suatu desa. Masyarakat banyak melihatnya. Ketika ditemukan berbuat sang pangeran panik, kemudian melarikan diri dan melupakan kerisnya. Bukti pangeran kami hadapkan di hadapan tuan sekaligus memohon petunjuk selanjutnya.”

Mendengar berita itu, Sultan Iskandar Muda dengan tegar memerintahkan kepada -pengawal istana untuk segera menangkap pangeran untuk dihadapkan pada tuan raja. Sesampai sang pangeran diproses dihadapan tuan Raja dan mengakui perbuatan­nya maka raja memutuskan hukuman mati untuk anaknya tersebut.

Mendengar keputusan raja ini, panglima bersama penasehat dan orang-orang. dekat raja mengusulkan untuk mengampuni sang pangeran. Bahkan masyarakat di kerajaan tersebut mengampuni perbuatan sang pange­ran. Namun permohonan tersebut di tolak oleh tuan raja. “Bila tuan-tuan tidak mau menghu­kum maka saya yang akan menghukumnya sendiri.” Demikian kata raja. Diambilnya keris­nya sendiri kemudian beranjak dan tempat duduknya menuju anaknya yang duduk ber­simpuh menunggu hukuman. Tepat di depan anaknya, sang raja menikam sendiri anaknya hingga mati. Demikian sekelumit cerita kete­garan Sultan Iskandar Muda menghukum mati anak satu-satunya, kunci Dr.H.M.lskandat.

Alangkah indah dan damainya republik ini, apabila para pemegang kekuasaan, para pene­gak hukum (Hakim, Jaksa, Polisi, Pengacara) dapat bersikap dan berprilaku seperti yang dipertontonkan antara lam oleh Umar bin Khat­tab dan Iskandar Muda. Bila sikap dan prilaku menegakkan keadilan dan kebenaran tetap dilakukan dengan cara diskriminatif, maka meskipun banyak polisi, banyak tentara, ban­yak pengacara namun kebebasan, kedamaian dan keadilan tidak akan terwujud. Pernyataan di atas sejalan dengan pendapat Lin Yutang bahwa, “When there are too many police­men, there can be no liberty, When there are too many soldiers, there can be no peace, When there are too many lawyers, there can be no justice “.

Semoga saja maulid yang setiap tahun di­peringati oleh segenap umat Islam, butiran hikmah yang terkandung dalam ajaran Rasu­lullah Saw seperti menegakkan hukum, mene­gakkan keadilan dan menegakkan kebenaran dengan tanpa pandang bulu dapat diwujud­kan dalam kehidupan sehari-hari kita. Sebab bila sang penguasa pandang bulu dalam me­negakkan hukum maka orang yang banyak bulunya akan terlepas dari, jeratan hukum. Sia­pa orang yang banyak bulunya itu? Jawabn­ya tiada lain adalah monyet. Demikian kata Zainuddin M.Z dalam salah satu ceramahnya.

Filed under: Opini

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Welcome Myspace Comments

Penulis

Waktu

Tulisan-tulisan yang telah dimuat di berbagai media cetak lokal seperti Palopo Pos, Harian Fajar, Majalah Payung Luwu dan BUletin BPSDM yang memaparkan tentang fenomena sosial yang terjadi di Indonesia serta karya-karya yang bernafaskan Islam.

Anda Pengunjung Ke

Telah dikunjungi oleh

  • 119,407 pembaca

Deteksi Lokasi

Terima Kasih Kunjungannya

Thank You Myspace Comments
%d bloggers like this: