Prof. Dr. H. Paisal Halim, M.Hum

Di Atas Langit Masih Ada Langit

PEMUDA DALAM PENTAS SEJARAH

Para pemuda mendesain perlawanan dengan menggunakan taktik dan strategi karena mereka meyakini bahwa un­tuk mematahkan kekuatan dan tak­tik kolonialis harus dilawan dengan taktik dan strategi pula.

Dengan perjuangan taktik mela­wan taktik, bangkitlah Haji Saman­hudi mendirikan Partai Syarikat da­gang Indonesia tgl 16 Oktober 1905. Kala itu ia berumur 27 Tahun. Ke­mudian muncul Sutomo mendirikan Budi Utomo pada tanggal 20 Mei 1908. saat ia berumur 20 Tahun, serta muncullah Suwardi Surjoningrat (Ki Hajar Dewantoro) mendirikan In­dische Partij pada tahun 1912 ber­sama Douwes Dekker dan Cipto Mangunkusumo.

Masih banyak lagi perkumpulan dan organisasi pemuda yang ter­bentuk pada saat itu. Bukan itu saja bahkan juga lahir tokoh-tokoh muda lainnya seperti Muhamamad Hatta , Agus Salim, Muhammad Yamin dan sebagainya yang umurnya sekitar 20 tahun.

Cuplikan sepercik torehan sejarah yang dilakukan oleh kaum pemuda pada masa yang lalu sengaja penu­lis suguhkan kehadapan kita semua untuk menjadi bahan renungan. Re­nungan bagi pemuda, renungan bagi pemerintah dan renungan bagi kita semua bahwa betapa besar peran dan jasa pemuda dalam membentuk dan memerdekakan republik ini.

Karena itu dengan peringatan hari sumpah pemuda ini, mari kita jadi­kan sebagai mesin pembangkit en­ergi untuk berbuat yang terbaik bagi bangsa dan negara sesuai dengan bidang dan kemampuan kita masing – masing. Karena bila tidak, para dewan yuri di sekeliling kita akan ramai- ramai menganugrahkan pia­gam besar yang bertuliskan dengan ungkapan besar pula ” Pemuda ber­mulut besar atau pemuda Nato (no action talk only). Tidak ada kerja, hanya cerita.

Sebagai pemuda tentu ungkapan tersebut sangat memalukan dan memilukan Karena itu harus dite­pis dengan karya-karya nyata. Sep­erti dengan terus melahirkan gagasan barn, ide-ide barn, penge­tahuan baru, ketrampilan baru ser­ta konsep dan strategi baru dalam membantu pemerintah membangun republik ini .

Kita tak dapat pungkiri bahwa te­lah menggunung karya-karya nyata yang telah dipersembahkan oleh para pemuda di republik ini. Baik sebagai bankir pengusaha, tekhnokrat, poli­tisi, advokat, peneliti, wartawan, bu­dayawan, ilmuan dan bahkan sam­pai pada pemuda pelopor. Pelopor di bidang pertanian, lingkungan, nelayan dan sebagainya.

Semua karya di bidang tersebut telah diabdikan seluruhnya untuk kepentingan bangsa dan negara. Namun harus diakui bahwa kerja para pemuda belum selesai bahkan belum apa-apa. Tetapi kami telah kerja apa yang kami bisa dan kaul­ah sekarang yang berkata. Demiki­an setitik ungkapan Chairil Anwar dalam salah satu sajaknya.

Salah satu langkah yang perlu di­ambil dan dilakukan oleh pemuda bersama pemerintah dan komponen bangsa lainnya adalah terus mera­patkan barisan, menggalang keber­samaan, menaut rasa persaudaraan serta membangkitkan semangat rasa senasib dan sepenanggungan. Karena hanya dengan memupuk kebersamaan dan persatuan, kita dapat mengatasi krisi yang melan­da bangsa dan negara ini. Tanpa itu, republik ini mustahil akan bang­kit kembali sebagai suatu bangsa yang disegani dan dihormati sep­erti sedia kala.

Salah satu hal yang sangat perlu dilakukan oleh “pemerintah” selaku nakhoda kapal di republik ini ad­alah mengubah gaya dan pola nya dalam memerintah. Karena sungguh paradigma masyarakat terhadap pemerintahan juga telah berubah sehingga pemerintah pun sepatut­nya mengubah paradigmanya dalam memerintah dan melayani masyarakat. Misalnya dari si paka­tau’- tau’ kini menjadi si pakatau.

Sungguh, di hadapan kita telah terbentang tumpukan persoalan yang melilit bangsa ini. Persoalan tersebut membutuhkan pikiran yang jernih, pikiran yang cemerlang dan gemilang dari kaum intelektual muda. Karena itu mari kita rapat­kan barisan sekaligus mempersem­bahkan apa yang kita bisa, demi membantu pemerintah dalam men­gatasi serenceng persoalan yang melilit bangsa ini.

Ada pun persoalan yang kini menggerogoti republik ini antara lain adalah persoalan kemiskinan, pengangguran, kebodohan, per­soalan kesehatan ibu dan anak ser­ta tingginya kerusakan lingkungan. Selain itu, persoalan lain yang leb­ih mendesak pula untuk di atasi adalah memutuskan jaringan pengedaran obat-obat terlarang (Narkoba), membendung derasnya peredaran VCD porno dengan Bandung Lautan Asmaranya , ser­ta memblok merajalelanya kebeja­tan moral, free sex, penganiayaan, pemerkosaan dan perkelahian antar kelompok.

Adalah suatu hal yang sangat iro­nis apabila segenap potensi bangsa di republik ini (pemerintah, masyarakat, pemuda dan tokoh-tokoh lainnya) tidak memiliki kepekaan bathin dalam menyahuti dan meny­ikapi segenap persoalan di atas . Semoga peringatan hari sumpah pemuda tahun ini ( 28 Oktober 2001), kita dapat menemukan kembali “mutiara” dan “Jati diri ” yang se­sungguhnya sebagai pemuda dengan tetap mengukir karya­-karya nyata yang bermanfaat bagi bangsa dan negara. Sebagaima­na karya yang pernah dicetuskan dan diukir oleh kaum intelek, kaum terpelajar dan kaum muda pada tahun 1928 yang lalu.

Kita harus mengakui bahwa hari ini, besok dan yang akan datang, persoalan demi persoalan akan selalu saja hadir. Karena itu pe­muda selalu dituntut untuk tampil mengatasinya. Namun kalau pun kita tidak dapat menjadi “pende­kar” dalam mengatasi setiap per­soalan yang ada maka cukuplah kita menjadi “pendengar” saja. Tetapi ketahuilah bahwa kalau bukan kita siapa lagi dan kalau bu­kan sekarang, kapan lagi Sebelum mengakhiri tulisan ini, mungkin tidak berlebihan bila penulis men­yuguhkan terlebih dahulu sebuah pernyataan ringan dari sang proklamator Bung Karno yang diperuntukkan kepada seluruh rakyat Indonesia. Pernyataan rin­gan ini sengaja penulis persem­bahkan kehadapan pembaca un­tuk mengetuk pintu hati kita se­mua agar kita tidak mudah melu­pakan sejarah, karena sejarah ad­alah guru kehidupan yang paling baik. Ungkapan yang dimaksud adalah : JAS MERAH. Sekali lagi `Jas merah’; (Jangan sekali-kali melupakan sejarah!).

Filed under: Opini

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Welcome Myspace Comments

Penulis

Waktu

Tulisan-tulisan yang telah dimuat di berbagai media cetak lokal seperti Palopo Pos, Harian Fajar, Majalah Payung Luwu dan BUletin BPSDM yang memaparkan tentang fenomena sosial yang terjadi di Indonesia serta karya-karya yang bernafaskan Islam.

Anda Pengunjung Ke

Telah dikunjungi oleh

  • 119,407 pembaca

Deteksi Lokasi

Terima Kasih Kunjungannya

Thank You Myspace Comments
%d bloggers like this: