Prof. Dr. H. Paisal Halim, M.Hum

Di Atas Langit Masih Ada Langit

Pergantian Pejabat dan Kamusnya

PERGANTIAN pejabat atau pergantian kabinet dalam satu pemerintahan bukan­lah suatu peristiwa yang luar biasa, sebab peristiwa seperti ini setiap saat dapat disaksikan. Baik disak­sikan melalui media elektronik sep­erti TV, radio dan internet, maupun melalui media cetak seperti surat kabar dan majalah.

Dalam peristiwa pergantian terse­but, kita juga sering mendengarkan berbagai macam ulasan, kritikan , komentar, dan sorotan dari berbagai pihak dengan gaya yang beraneka ragam. Keras, tajam, sinis, menying­gung, mengejek, menggugah, menyentuh, mencela, dan sebagainya.

Narasumbernya beranekaragam. Mulai dari rakyat, pejabat, kon­glomerat birokrat, politisi, praktisi, bahkan akademisi. Pula isi dan la­tarbelakang yang mendorong para komentator dan pengulas mengo­mentari pergantian pejabat itu juga bermacam-macam. Tetapi, bila diklasifikasi secara cermat,tampak­nya hanya terpola pada tiga pan­dangan yakni setuju, tidak setuju dan abstain terhadap keputusan pergantian pejabat tersebut.

Apa pun alasan dan ulasan yang dikemukakan oleh berbagai kalan­gan terhadap pergantian pejabat itu biasanya hanya sebagai bahan per­timbangan semata. Sebab sang pen­guasa sendiri dalam melakukan per­gantian pejabat memiliki penilaian dan pertimbangan yang matang ter­hadap tindakan yang diambil. Apalagi dalam kamus berjalan mem­berikan petunjuk bahwa hanya per­timbangan sang penguasa sajalah yang selalu paling benar dalam per­gantian pejabat. Karena hanya merekalah yang memiliki kewenan­gan dan kekuasaan.

Kekuasaan itu berhimpit dengan kewenangan dan kekuasaan Au san­gat sering mengalahkan kebenaran. Itu sebabnya Plato (murid Sokrates) membuat suatu pernyataan tegas bahwa “segenggam kekuasaan lebih berharga dan lebih efektif dari seketanjang kebenaran”.

Dikatakan demikian karena hanya sang pemegang kekuasaanlah yang me­miliki kewenangan berdasarkan undang – undang untuk melakukan tindakan pergantian pejabat. Karena itu adalah san­gat logis bila hanya pertimbangan sang penguasa itulah yang selalu benar.

Di kalangan para ahli khususnya para politisi dan akademisi banyak memberikan pengertian dari “kekua­saan “itu. Namun umumnya mereka bersepakat bahwa kekuasaan itu ad­alah pemaksaan kehendak. Menurut Max Weber kekuasaan adalah ke­mampuan untuk melaksanakan ke­mauan sendiri sekalipun mengalami perlawanan , dan apapun dasar ke­mampuan ini. Sedangkan Strausz Hupe berpendapat bahwa kekuasaan itu pada hakekatnya adalah kemam­puan untuk memaksakan kemauan pada orang lain. Adapun C. Wright Mills mengartikan kekuasaan itu ad­alah dominasi yakni dominasi untuk melaksanakan kemauan kendatipun orang lain menentang.

Dari ketiga pandangan ini memberi­kan gambaran kepada kita bahwa op­erasionalisasi kekuasaan itu pada hakekatnya adalah kemampuan sese­orang untuk memaksakan kemauan kepada orang lain agar orang lain mau tunduk dan mau mengikuti segala per­intah, segala ucapan dan keinginan sang pemegang kekuasaan.

Bertolak dari pemahaman di atas maka tidak diherankan apabila kita sering menyaksikan bawahan itu se­lalu menunjukkan sikap yang aneh­-aneh apabila berhadapan dengan atasannya. Misalnya takut pada atasan; patuh pada a pa pun yang di­perintahkan, dan selalu membenarkan apa yang diucapkan meskipun terkadang~ melanggar aturan. Kesemuan­ya ini dilakukan oleh bawahan demi menyenangkan atasan; demi meng­hindarkan diri berseberangan penda­pat dan demi sebuah jabatan.

Jabatan sangat wajar diperebutkan orang, ketika selain negara memberi­kan kekuasaan dan kewenangan juga negara mempersenjatai dengan befi­agat fasilitas yang mengasikkan. Bu­kan itu saja bahkan gaya, cara jalan, cara bicara dan cara bersikap orang yang memiliki jabatan sangat berbeda dengan orang yang tidak memiliki ja­batan. Bahkan pendapatannya pun relatif juga sangat jauh berbeda. Itu sebabnya banyak orang cepat gemuk, cepat segar, cepat tegar, cepat kaya, cepat dihormati apabila memiliki ja­batan. Sebaliknya banyak orang ce­pat kurus, cepat ubanan, cepat sakit, cepat loyo dan cepat tersinggung apa_ bila dilengserkan dari sebuah jabatan.

Terlepas benar tidaknya pern­yataan dan penilaian di atas rasanya tidak perlu ditanggapi sebab pern­yataan tersebut hanyalah sebintik opini saja. Namun yang menarik un­tuk dikaji’dan dicermati adalah kamus untuk mendapatkan kekuasaan dan jabatan. Menurut sebahagian orang bahwa untuk mendapatkan jabatan dan kekuasaan itu, senap orang harus pandai membacadan menerapkan ka­mus kekuasaan itu. Kamus itu tidak memiliki pengarang apatah lagi pener­bit. Kamus tersebut senang disebut or­ang sebagai kamus berjalan.

Kamus ini berisi banyak akronim antara lain. PLN (prestasi, loyal dan nasib), PLTU (prestasi loyal dan tahu upeti), PLTA (prestasi,loyal, takut pada atasan) SDA (selamatkan dulu atasan ), ABS (asal bapak senang ) dan SSB (sesuai dengan selera bos). Akro­nim ini sangat populer dan sangat am­puh digunakan untuk merebut sebuah jabatan. Aknmim ini bukan baca-baca, apalagi mantera, tetapi daya kerjanya sangat mujarab dalam merebut dan mempertahankan kursi jabatan.

Kepanjangan istilah ini tidak akan pernah didapatkan dalam kamus ba­hasa Indonesia, kamus Idiom, ensik­lopedia, kamus bahasa Inggris, apala­gi dalam kitab kuning maupun dalam kitab primbon. Arti istilah ini biasanya didapatkan dalam kamus bahasa “prokem” atau kamus berjalan. Sebab istilah ini hanyalah istilah yang di­plesetkan orang berdasarkan pengli­hatan, perkiraan, dan perasaan sese­orang setelah melihat realitas yang sering dipertontonkan oleh sebagian besar pejabat di republik ini.

Karena itu setiap pejabat, calon pejabat atau mantan pejabat pasti memahami makna istilah tersebut. Bukan itu saja bahkan sang pejabat tersebut harus mahir menerapkan is­tilah ini dalam koridor kekuasaan. Sebab bila tidak, pejabat tersebut akan mudah digilas dan dilengserkan

Sang pemegang kekuasaan pun mempunyai alasan yang mendasar menggunakan rumus-rumus tersebut. Pengalaman banyak mengajarkannya sang penguasa untuk selalu berhati­-hati memilih pejabat yang akan men­dampinginya. Sebab tidak sedikit bawahan ketika diangkat sebagai pe­jabat, tidak tahu diri, tidak takut pada atasan, tidak tahu membalas jasa, dan tidak paham dengan selera bos. Aki­batnya banyak menyusahkan sang pemegang kekuasaan itu sendiri dalam mencapai keinginan dan cita-citanya”. Baik keinginan dan cita yang di­harapkan dan dijanjikan kepada masyarakat yang dipimpinnya mau­ pun keinginan dan cita-cita pribadi, cita -cita keluarga serta cita-cita kel­ompok sang penguasa itu sendiri.

Itulah sebabnya sang pemegang kekuasaan dalam memilih dan men­gangkat pejabat yang akan mendampinginya, tidak hanya memilih orang yang memiliki sederetan prestasi, ser­tifikat, pelatihan dan pengalaman. Tetapi memilih orang yang memiliki loyalitas tinggi, kridibei, patuh, di­percaya, tidak banyak bicara, tidak banyak tingkah, mudah diatur, mudah disuruh dan pandai membaca keingi­nan atasan. Baik keinginan yang ter­surat, keinginan yang tersirat mau­pun keinginan yang tersorot bahkan keinginan yang terseret sekali pun.

Karena itu bagi orang yang terting­gal, tertindas, tergilas dan terlepas dalam setiap putaran pergantian ja­batan disarankan untuk melakukan introspeksi diri, hadap diri, raba diri, tahu diri terhadap sikap dan prilaku yang dimainkan selama ini. Kemudi­an mencoba meletakkan sikap dan prilaku tersebut pada rumus-rumus yang ada dalam kamus kekuasaan itu. Mungkin saja peran yang dimainkan selama ini tidak sesuatu dengan tuntu­tan skenario yang ada atau berten­tangan dengan arahan sang sutradara dalam buku kamus berjalan tersebut.

Kamus berjalan itu patut untuk dicermati, tetapi kamus itu bukanlah penentu segalanya. Jabatan, kekua­saan, kekayaan, kekuatan, kejayaan, kehebatan dan sebagainya, semua itu hanyalah titipan dan amanah yang diberikan oleh sang maha sutradara yakni Allah Yang Maha Kuasa. Titi­pan dan amanah itu akan dimintakan pertanggungjawabannya pada peng­adilan akhirat nanti. Karena itu bagi orang yang dititipkan amanah janganlah berbangga dan lupa diri apalagi lupa pada Sang Maha pemberi. Demikian pun terhadap orang yang dilengserkan dari kursi yang empuk itu, janganlah putus asa apalagi menggugat Tuhan, karena Tuhan sungguh maha pengasih lagi maha penyayang dan hanyalah Tuhan yang mengetahui makna dibalik pergantian Jabatan tersebut.

Filed under: Opini

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Welcome Myspace Comments

Penulis

Waktu

Tulisan-tulisan yang telah dimuat di berbagai media cetak lokal seperti Palopo Pos, Harian Fajar, Majalah Payung Luwu dan BUletin BPSDM yang memaparkan tentang fenomena sosial yang terjadi di Indonesia serta karya-karya yang bernafaskan Islam.

Anda Pengunjung Ke

Telah dikunjungi oleh

  • 119,407 pembaca

Deteksi Lokasi

Terima Kasih Kunjungannya

Thank You Myspace Comments
%d bloggers like this: