Prof. Dr. H. Paisal Halim, M.Hum

Di Atas Langit Masih Ada Langit

PONGAH PADA SANG PENCIPTA

PONGAH, angkuh, dan sombong kepada sang Pencipta pertama kali dilakukan oleh Iblis laknatullah. Peristiwa ini terja­di berawal ketika Iblis diperintahkan oleh sang Pencipta untuk sujud pada Nabi Adam a.s sebagai simbol penghormatan. Perintah tersebut tidak dilaksanakan karena Iblis merasa lebih “senior” dan lebih “terhormat” dibanding Adam yang baru ke­marin diciptakan.

Melihat kepongahan Iblis tersebut, Allah “naempersona non gratakan” dari sorga sekaligus menghukumnya sebagai pen­ghuni abadi di neraka. Hukuman tersebut diterima, asal diizin­kan menggoda Adam bersama cucunya sampai di akhir zaman. Permohonan ini dikabulkan oleh Allah SWT. Itu sebabnya Ib­lis bergerilya di lapangan mana saja dengan sasaran siapa saja. la tidak mengenal merk. la menyerang dari bawah ke atas, dari kiri ke kanan dan dari muka ke belakang. Akibat serangan itu, tidak sedikit orang yang terperosok dengan cumbu rayunya.

Qarun adalah salah satu dari sekian juta orang yang terper­osok dalam rayuan Iblis. la pongah, angkuh, dan sombong pada sang Pencipta. Karena kepongahannya sehingga nama dan perbuatannya diabadikan dalam Alquran untuk menjadi pelajaran bagi setiap orang. Menurut catatan sejarah, Qarun pada awalnya seorang miskin papa. la tidak mempunyai apa-­apa. Namun ia seorang pekerja keras dan pandai bergaul. Den­gan kepandaiannya itu ia menggalang kerja sama dengan sang penguasa. la, menerima “memo”, “surat sakti ” dan berbagai fasilitas lainnya dari sang penguasa di kala itu. Akhirnya Qarun menjadi kaya raya. Dapat dibayangkan, kunci gudangnya saja harus dipikul tujuh orang bila akan digunakan.

Pada suatu hari, ada seorang miskin yang meminta Qarun mengeluarkan zakat harta untuk diberikan kepadanya. Namun Qarun tidak memenuhinya. Bahkan la mengingkari campur tan­gan Allah dengan kekayaannya itu. Kepongahan Qarun itu diabadikan dalam Alquran pada surat Al-Qashash ayat 78. Qarun berkata, “Sesungguhnya aku diberi harta itu hanya kare­na ilmu yang ada padaku “. Ucapan tersebut menunjukkan ke­sombongannya, lalu Allah menenggelamkan Qarun ini ke perut bumi bersama harta bendanya.

Itu sebabnya “Anre Gurutta” dan “Gurutta” di berbagai tem­pat selalu mengingatkan agar mewaspadai lahirnya Qarun­-Qarun baru. Perilaku seperti Qarun dapat saja muncul di semua lini. Misalnya, orang berilmu pongah, angkuh, dan sombong dengan ilmunya; orang kaya pongah dengan kekayaannya; penguasa pongah dengan kekuasaannya dan lain sebagainya. Padahal semua yang ada pada diri manusia adalah pemberian dari sang Maha Pencipta untuk disyukuri.

Bila hal ini diyakini, lalu mengapa juga kita terperangkap pada sifat pongah, angkuh dan sombong kepada-Nya? Jawabnya, karena keyakinan kita masih lemah dan hati kita masih kering dari cahaya Ilahi. Padahal, tak terbilang orang sakit terbaring di rumah sakit; tak terbilang pula orang mati tertanam di “pekubu­ran”. Kesemuanya memberikan pelajaran betapa pangkat, jaba­tan, kekayaan, kehebatan, kekuasaan, kebesaran, dan kehorma­tan yang selalu diagung-agungkan oleh manusia tidak ada artin­ya ketika manusia ditimpa penyakit atau kematian.

Kita berharap, semoga dalam menapaki hari-hari mendatang, Allah tetap memercikkan cahaya-Nya di dalam sanubari kita untuk mewaspadai sifat pongah, angkuh, dan sombong. Sebab, Rasulullah SAW bersabda : “tidak akan masuk sorga umrnat­ku yang memiliki sifat pongah, angkuh, dan sombong meskipun kepongahannya itu sebesar biji zarrah”

Filed under: Opini

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Welcome Myspace Comments

Penulis

Waktu

Tulisan-tulisan yang telah dimuat di berbagai media cetak lokal seperti Palopo Pos, Harian Fajar, Majalah Payung Luwu dan BUletin BPSDM yang memaparkan tentang fenomena sosial yang terjadi di Indonesia serta karya-karya yang bernafaskan Islam.

Anda Pengunjung Ke

Telah dikunjungi oleh

  • 119,407 pembaca

Deteksi Lokasi

Terima Kasih Kunjungannya

Thank You Myspace Comments
%d bloggers like this: