Prof. Dr. H. Paisal Halim, M.Hum

Di Atas Langit Masih Ada Langit

Ramadhan Bulan Pemutihan Dosa

Syukur Alhamdulillah, patut kita panjatkan kehadirat Allah SWT; atas limpahan rahmat dan taufiq-Nya yang dicurahkan kepada kita semua, sehingga kita rnasih sempat mendapat­kan bulan suci Ramadan tahun 2002. Kita patut bersyukur karena salah satu keistimewaan dari bulan Ramadan ini adalah memberikan dispensasi pemutihan dosa bagi setiap orang yang benar-benar beribadah di bulan tersebut.

Kita juga patut bersyukur karena Tuhan masih memilih dan sekaligus me­mandatir kita sebagai salah se­orang peserta yang akan mengikuti ajang kompetisi ter­buka untuk meraih sertifikat `bersih dari segala dosa’ dari Tuhan Yang Maha Kuasa. Betapa tidak tengoklah di samp­ing kiri dan kanan; tengoklah saudara, sahabat, kerabat, tet­angga dan handaitaulan yang ada di sekeliling. Berapa bany­ak yang telah berpulang ke rah­matullah untuk mempertang­gungjawabkan segala amal per­buatannya di dunia. Mereka semua telah terbaring kaku di pekuburan. Tidak ada yang menemani. Harta yang ber­tahun-tahun mereka kumpul­kan; jabatan, pangkat dan karier yang bertahun-tahun mereka bina dan kejar, seluruhnya hanya tinggal dalam kenangan; ting­gal dalam disket dan tinggal dalam file biografi. Seluruhnya tidak ada yang setia, kecuali apa yang telah dibelanjakan, diamal­kan dan diberikan kejalan yang diridhai oleh Allah SWT.

Sebagai seorang yang mendapatkan mandat, manfaatkan mandat tersebut dengan niat yang ikhlas untuk berpuasa, berbuat amal kebaji­kan dan beristighfar kehadirat Ilahi demi untuk merebut serti­fikat pemutihan dosa yang di­siapkan oleh Allah dalam bu­lan suci Ramadan ini. Langkah awal yang perlu ditempuh un­tuk merebut sertifikat tersebut adalah membersihkan hati mas­ing-masing dari rasa benci, rasa dengki, rasa irihati dan rasa dendam terhadap sesama manusia. Seluruh rasa ini perlu dibersihkan karena apabila seluruh `rasa’ tersebut masih dimiliki maka akan menjadi penghambat dalam diri kita untuk dekat den­gan Ilahi dan tulus dalam beri­badah. Bukan itu saja, bahkan bila `rasa’ tersebut masih kita pertahankan bersarang di dalam sanubari, maka mungkin saja apa disinyalir oleh Rasulullah 14 abad yang lalu akan menimpa diri kita. Rasulullah SAW bers­abda, “bahwa tidak sedikit umatku yang berpuasa dalam bulan Ramadan tidak mendapatkan apa-apa kecuali han­ya lapar dan haus semata. ” Dalam sebuah hadits diriwayat­kan, “bahwa bukan yang ber­nama puasa itu sekedar mena­han makan dan minum, tetapi puasa yang sesungguhnya itu adalah menahan diri dari per­buatan dan perkataan yang keji dan tidak berguna. “(HR Muslim).

Bahkan dalam satu riwayat disebutkan bahwa pada masa Rasulullah SAW ada dua wan­ita yang sedang puasa, namun tiba-tiba pada sore harinya ked­ua perempuan tersebut merasa payah karena sangat lapar dan ­haus hingga keduanya hampir pingsan. Melihat kejadian ini diutuslah dua orang sahabat menemui Rasulullah untuk me­minta izin membatalkan puasan­ya. Maka sesampainya utusan tersebut, Nabi mengirim gelas kepada keduanya dan menyu­ruh memuntahkan apa yang te­lah dimakan itu. Ketika keduan­ya memuntahkan apa yang di­makan, ternyata kedua perem­puan tersebut memuntahkan darah dan daging mentah. Or­ang di sekeliling pun terperan­jat melihat hal ini, namun Nabi Muhammad SAW memberikan penjelasan bahwa kedua pe­rempuan ini puasa dari apa yang dihalalkan Allah dan makan dari apa yang diharamkan oleh Al­lah, sebab kedua perempuan ini ketika berpuasa selalu membic­arakan kejelekan orang lain. Sungguh tidak sedikit diantara kita yang kuat menahan lapar dan haus, namun tidak kuat menahan berbuat ghibah, ber­kata keji, menceritakan kejele­kan orang dan bersifat dengki, irihati, fitnah dan sebagainya. Padahal kesemuanya itu dapat menghilangkan pahala puasa.

Kita kuat berpuasa, kita kuat menahan lapar dan haus, kita kuat tidak berhubungan suami istri pada siang hari; tetapi kita tidak kuat menahan rasa benci, rasa den­dam. rasa iri hati terhadap sesama manusia. Rasulullah SAW mengingatkan bahwa sungguh celakalah manusia yang ketika diberikan mandat untuk mengiku­ti kompetisi perebutan sertifikat pemutihan dosa di bulan suci Ramadan lalu tidak dimanfaatkan dengan sebaik-baiknya.

Dalam satu riwayat dijelaskan oleh Abu Mas’ud Al Anshari r.a bahwa Rasulullah SAW per­nah bersabda, “tiada pernah seorang hamba yang puasa di bulan Ramadan dengan tenang, diam lalu berdzikir pada Allah, menghalalkan yang halal, meninggalkan yang haram dan tidak melakukan kekejian, maka ia diampuni semua dosa-dosanya. Ia akan dibangunkan untuk tiapnya membaca Subhanallah dan La ilaha illallah sebuah rumah dalam sorga dari zamrud yang hijau. Di dalamnya ada yaqut merah dan di dalam yaqut merah itu ada kemah dari permata ­yang lubang di dalamnya ada bidadari. Bahkan Rasulullah memberikan garansi, bagi sia­pa saja yang berpuasa dalam bulan Ramadan satu bulan penuh dan didorong semata­mata untuk mencari ridha Allah, maka segala dosa-dosanya m;skipun dosa itu setinggi langit dan sebanyak pasir di laut akan diampuni oleh Allah SWT. Demikian besar dan mulianya bulan Ramadan ini bagi orang-orang menyakini hal tersebut. Karenanya mari kita manfaatkan bulan Ramadan tahun ini untuk banyak menyantuni fa­kir miskin, banyak membelanja­kan sebagian rejeki yang diberi­kan oleh Allah karena sungguh amalkebajikan yang kita perbuat di bulan Ramadan ini akan dilipatgandakan sekian ratis kali lipat bahkan tak terhingga Allah SWT.

Kita menyakini bahwa keha­dira bulan mega bonus paha­la ini hanya ada satu kali dalam satu tahun. Pesertanya pun yang ikut kompetisi ini sangat selektif karena hanya diperuntukkan bagi orang-orang yang beriman. Apakah medali yang dipersiapkan pun bagi pemenangnya tidak tanggung-tanggung yakni, `sur­ga yang mengalir sungai-sungai di bawahnya’. Di surga tersebut se­mua kebutuhan manusia tersedia, semuanya ser­ba mudah, serba mewah dan tidak pernah terbayangkan keelo­kan, keindahan, dan kenyama­nannya. Kesemuanya itu disiap­kan oleh Allah bagi orang beri­man yang memanfaatkan bulan Ramadan ini dengan sebaik-­baiknya.

Kini bulan tersebut ada di tengah-tengah kita. Hal ini be­rarti Tuhan masih memberikan kepercayaan sekaligus kesem­patan untuk ikut berlomba meraih sertifikat tersebut. Atu­ran main perlombaan ini telah digariskan dalam AI-Qur’an dan sunnah Rasulullah SAW. Atu­ran itu telah disosialisasikan kepada kita semua melalui ber­bagai media. Baik melalui me­dia cetak, media elektronik manapun media lainnya oleh mubal­ligh dan muballiqat. Bahkan sistem seleksinya pun telah ditetapkan yakni terdiri dari empat babak. Babak pertama (minggu pertama) disebut babak penyisihan; minggu kedua ba­bak perempat final; minggu ke­tiga babak semifinal dan ming­gu keempat disebut babak final.

Dewan yurinya pun langsung, ditangani oleh Sang Maha Pen­cipta sehingga tidak ada seor­ang pun peserta yang berani memprotes karena sungguh setiap orang beriman yakin bahwa Allah sungguh Maha Adil, Maha Kuasa dan Maha Bijaksana. Itu_ sebabnya ko­mpetisi Ramadan ini berlang­sung sangat fair sehingga han­yalah orang-orang yang benar-­benar dekat kepada Ilahi yang dapat meraih medali pemutihan dosa itu. Karena demikian fairn­ya kompetisi ini, sehingga per­lombaan ini bersifat terbuka dan tidak dikenal dengan adanya klasifikasi seperti jabatan, pangkat, gelar, kekayaan, ketu­runan, tokoh, dan sebagainya. Kesemuanya diberikan kesem­patan untuk mengikuti perlom­baan ini dan hanyalah orang­-orang yang benar memiliki niat yang tulus, jiwa yang bersih banyak berzikir, banyak beris­tighfar, banyak menghidupkan Ramadan dengan shalat tarwih, tahajjud dan membaca AI-Qu­ran, gemar menyantuni fakir miskin dan anak terlantar yang dapat meraih medali tersebut. Semoga saja saya, Anda dan kita semua yang hadir di bulan suci Ramadan tahun 2002 ini, kita dapat tergolong dari salah seor­ang yang berhasil mendapatkan medali maghfiroh dari Allah SWT. Kita berharap pula semoga dengan kehadiran kita di bulan Ramadan 2002 ini kita diberikan kekuatan dan hidayah dari Allah SWT untuk melaksan­akan berbagai amal kebaikan dengan harapan agar diujung Ramadan nanti kita termasuk salah seorang yang berhasil menerima sertifikat pemutihan dosa dari Allah SWT. Semoga saja demikian. Amin!

Filed under: Opini Islami

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Welcome Myspace Comments

Penulis

Waktu

Tulisan-tulisan yang telah dimuat di berbagai media cetak lokal seperti Palopo Pos, Harian Fajar, Majalah Payung Luwu dan BUletin BPSDM yang memaparkan tentang fenomena sosial yang terjadi di Indonesia serta karya-karya yang bernafaskan Islam.

Anda Pengunjung Ke

Telah dikunjungi oleh

  • 119,407 pembaca

Deteksi Lokasi

Terima Kasih Kunjungannya

Thank You Myspace Comments
%d bloggers like this: