Prof. Dr. H. Paisal Halim, M.Hum

Di Atas Langit Masih Ada Langit

Ramadhan dan Baca Al-Qur’an

Salah satu kegiatan utama yang dilakukan oleh orang yang ingin merebut ridha Ilahi di bulan Ramadan adalah membaca Al-Qur’an. Kegiatan ini dilakukan karena orang beriman yakin bahwa dengan membaca Al-Qur’an di bulan Ramadan dapat menghapus dosa, menyejukkan hati serta memberi syafaat di hari kemudian.

Dengan keyakinan itulah sehingga baik di masjid, di surau, di pasar, di kantor, di pabrik, dan di berbagai tempat lainnya, orang beriman tak pernah lalai dari aktivitas membaca Al-Qur’an. Apalagi di bulan Ra­madan ini, hampir di mana-mana kita menyaksikan orang mem­baca AI-Qur’an. Mulai dari sub­uh, dhuhur, ashar, maghrib, isya. Bahkan di tengah malam hingga subuh hari berikutnya orang terus membaca Al-Qur’an. Kesemua ini dilakukan oleh orang, semata-mata untuk meraih amal kebajikan di bulan Ramadan ini.

Orang yang membaca Al-Qur’an dengan tulus dalam bulan Ramadan pada hakekatnya orang terse­but telah mendapatkan hi­dayah dan inayah dari Allah SWT. Betapa tidak, berapa ban­yak manusia yang hadir di bu­lan Ramadan ini, namun hanya sebahagian saja yang terketuk dan terpanggil hatinya untuk mau membaca Al-qur’an. Ket­erpanggilan ini sungguh meru­pakan hidayah yang dianuger­ahkan Tuhan di hati setiap ‘ pembaca Al-Qur’an tersebut. Betapa tidak, Al-Qur’an adalah wahyu, Al-Qur’an adalah kalam Ilahi, Al-­Qur’an adalah ucapan Tuhan yang penuh den­gan berkah dan rahmat. Karena Al-Qur’an meru­pakan wahyu, kalam Ila­hi, penuh rahmat dan ber­kah maka sudah tentu hanyalah orang yang mendapatkan hidayah dan inayah serta rahmat dari Allah SWT, yang terpanggil untuk membacanya. Karena itu, sungguh san­gat beruntung dan berbahagialah orang yang memiliki rasa- cinta, senang dan hobbi­ membaca Al-Qur’an, karena tidak semua manusia dititipkan rasa tersebut di hati manusia. Titipan rasa demikian merupa­kan salah satu wujud dari ke­cintaan Allah terhadap hamba-Nya yang memiliki rasa cinta terhadap Al-Qur’an. Diriwayatkan oleh Abdullah bin Mas”ud r.a. Nabi bersabda bahwa: AI-Qur’an itu adalah Ja­muan Allah, karena itu terimalah jamuan-Nya ini semampumu. Sesungguhnya Al-Qur’an ini adalah tali Allah yang kuat dan cahaya-Nya yang cemerlang dan sebagai obat yang bergu­na. Dia adalah pegangan bagi orang yang berpegang padan­ya dan keselamatan bagi orang yang mengikutinya. Dia tidak pernah menyimpang sehingga perlu dilempangkan, tidak per­nah bengkok sehingga perlu di­luruskan, tidak pernah habis keajaiban-keajaibannya, dan tidak pernah lapuk karena banyaknya orang yang menolakn­ya. Bacalah ia, karena Allah akan memberimu pahala pada tiap-tiap huruf yang kamu baca sebanyak sepuluh kebaikan.

Al-Qur’an adalah pegangan bagi orang yang berpegang padanya dan keselamatan bagi orang yang mengikutinya. Dia tidak pernah menyimpang sehingga perlu dilempangkan, tidak per­nah bengkok sehingga perlu di­luruskan, tidak pernah habis keajaiban-keajaibannya, dan tidak pernah lapuk karena banyaknya orang yang menolakn­ya. Bacalah ia, karena Allah akan memberimu pahala pada tiap-tiap huruf yang kamu baca sebanyak sepuluh kebaikan. Saya tidak megnatakan alif lam mim satu huruf, tetapi alif adalah satu huruf, lam satu huruf, dan mim satu huruf.

Ini berarti berapa juta pahala kebajikan dan disiapkan oleh Allah bagi orang yang suka dan cinta tJtembaca Al qur’an. Sungguh tak terbilang banyaknya, apalagi bila mem­bacanya di bulan Ramadan ten­tu pahala yang disiapkan lebih berlipatganda. Jaminan pahala berlipatganda inilah yang men­dorong orang beriman untuk terus membaca Al-Qur’an di setiap waktu dan tempat. Itu sebabn­ya setiap orang yang meyakini jaminan ini, hanya akan ge­lisah dalam satu hari bila mu­lutnya tidak menyebut firman Il­ahi. Hatinya terasa kehilangan apabila dalam satu hari ia tidak menyiramnya dengan kalam Il­ahi. Bahkan jiwa dan raganya terasa berat bila dalam satu hari tidak membaca Al-Qur’an. Kese­mua ini hanya dapat dirasakan oleh orang-orang yang menda­patkan hidayah dari Tuhan.

Bila hal ini kita yakini, timbul pertanyaan, apakah juga terbe­tik rasa kegelisahan dalam sanubari kita bila kita tidak per­nah membaca AI-Qur’an setiap hari? Apakah kita yang penuh kesibukan setiap hari masih juga menyimpan rasa rindu un­tuk membaca Al-Qur’an; atau­kah hati ini sama sekali sudah tertutup dengan kabut aktivitas duniawi? Jawabnya sungguh terpulang pada diri kita masing-­masing. Namun setidaknya, dengan pertanyaan ini, kita da­pat instrospeksi diri, jangan sampai Nur Ilahi telah tercabut dalam sanubari kita, sehingga kita telah melupakan dan menafi­kan kehadiran kalam Ilahi. Kita juga kha­watir jangan sampai di rumah kita tidak terda­pat AI-qur’an ; atau ada tetapi tidak per­nah membacanya apalagi tidak tahu membacanya. Bila po­tretnya demikian,. sungguh kemalangan yang paling malang akan menimpa, bila dalam rumah tangga kita tidak pernah ter­dengar kalam Ilahi di­baca. Padahal Allah telah menyiapkan pa­hala.yang tak terbi­lang bagi pembacan­ya.

Demikian besarnya pahala bagi orang yang membaca Qur’an ini. Rasulullah Saw, bersabda bahwa apakah tidak senang seseorang dari kalian pergi ke masjid lalu mempelajari atau membaca dua ayat Al-qur’an, maka hal itu leb­ih baik baginya dari pada ber­qurban dua ekor unta, dan bila membaca tiga ayat, pahalanya lebih baik dari pada berqurban tiga ekor unta dan mempelajari atau membaca empat ayat maka pahalanya lebih baik dari berkurban empat ekor unta, dan seterusnya. Subhanallah, maha suci Allah yang telah menyiap­kan pahala bagi orang-orang yang cinta membaca Al-Qur’an.

Khusus di bulan Ramadan, menurut riwayat bahwa Malaikat Jibril biasa datang kepada Rasulullah Saw. setahun sekali untuk memperdengarkan bacaannya kepada beliau dan mendengarkan bacaan beliau; dan Jibril melakukan hal ini dua kali dalam setahun yakni ketika pada tahun ketika beliau wafat. Demikian besarnya pahala yang disiapkan oleh Allah bagi orang yang membaca Al-Qur’an di bu­lan Ramadan, maka Imam Malik meninggalkan membaca hadits dan majelis ilmu untuk mem­baca Al-Qur’an. Pula Imam Qat­adah, bila di luar bulan Ramadan ia biasa mengkhatamkan Al-Qur’an seminggu sekali selama hidupnya, tetapi di dalam bu­lan Ramadan beliau mengkhatamkan Al-Qur’an se­tiap tiga malam sekali dalam bulan Ramadan bahkan pada malam sepuluh terakhir, beliau menamatkan Al-Qur’an setiap dua hari sekali. Semoga saja bulan Ramadhan 2002 ini, kita dapat membuka pintu hati kita untuk mendapat­kan hidayah dan Nur Ilahi agar kita dapat memiliki rasa cinta dan rasa rindu mem­baca AI-Qur’an.

Sepertiga Ra­madan telah berlalu, puasa dan tarawih serta amalan lainnya telah kita lakukan. Pikiran dan kalbu ter­us dilatih, ditatar, di­gembleng dan diasah dengan berbagai sir­aman rohani dari para muballiqh. Majelis ta’lim dan kelompok lainnya juga tetap tekun dan tulus mengajar dan membaca Al-Qur’an di berbagai tempat; orang tua jompo dan ahli ibadah lainnya bangun dikeheningan malam untuk membaca ayat demi ayat dari AI-Qur’an. Kesemua ini di­lakukan hanya demi mengejar dan merebut pahala yang di­siapkan oleh Allah SWT.

Bukankah kita yakin, bahwa dunia ini hanyalah tempat tran­sit semata. Tempat bagi manu­sia untuk mengumpul amal ke­bajikan sebanyak-banyaknya guna dibawa ke rumah masa depan yang abadi yakni akhirat. Kita yakin pada firman Tuhan bahwa, “Barangsiapa yang me­miliki timbangan amal kebajikan lebih berat dari pada amal bu­ruknya dihari kemudian nanti, maka sungguh dia akan menda­patkan ridha dari Allah, dan barang siapa timbangan kejaha­tannya lebih berat daripada tim­bangan kebaikannya, maka dia akan dimasukkan ke dalam Ma­hia. Tahukah kamu apakah Mahia itu? Tuhan menjawab sendiri yakni neraka yang men­yala-nyala. Nauudzubillah! Inilah balasan yang disiapkan bagi orang-orang yang terlena dalam kehidupan dunia dan or­ang-orang yang membiarkan diri malas membaca Al-Qur’an apalagi membiarkan diri dan ke­luarganya buta aks.ara Al­q ur’ an.

Semoga sisa Ramadan ini kita dapat manfaatkan untuk memperbanyak is­tighfar, membelanjakan seba­hagian harta, peduli terhadap yatim-piatu, peduli pada celen­gan masjid, peduli pada imam masjid, peduli pada orang tua dan orang-orang jompo serta memperbanyak zikir dan mem­baca Al-Qur’an. Bila semua ini kita lakukan di bulan penuh rah­mat ini, Insya Allah, di ujung Ramadan kita akan tergolong manusia yang berhak mendapatkan piala citra dari Allah SWT berupa,” ampunan dosa dan pembebasan dari siksa api ner­aka.” Semoga!

Filed under: Opini Islami

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Welcome Myspace Comments

Penulis

Waktu

Tulisan-tulisan yang telah dimuat di berbagai media cetak lokal seperti Palopo Pos, Harian Fajar, Majalah Payung Luwu dan BUletin BPSDM yang memaparkan tentang fenomena sosial yang terjadi di Indonesia serta karya-karya yang bernafaskan Islam.

Anda Pengunjung Ke

Telah dikunjungi oleh

  • 119,407 pembaca

Deteksi Lokasi

Terima Kasih Kunjungannya

Thank You Myspace Comments
%d bloggers like this: