Prof. Dr. H. Paisal Halim, M.Hum

Di Atas Langit Masih Ada Langit

Ramadhan dan Siaga Satu

ALHAMDULILLAH, patut kita panjatkan puji syukur kehad­irat Allah Swt. Atas limpahan rah­mat dan taufiq-NYA yang dipersembahkan kepada kita se­mua. Sehingga pada hari ini, kita masih diberikan kesempatan untuk menambah tabungan deposito akhirat di bulan yang penuh berkah dan bonus ini. Selain itu kita patut pula bersyukur, karena Allah masih memberikan kesempatan pada kita untuk meraih garansi Rasulullah Saw.

Garansi itu disebutkan dalam salah satu haditsnya,” bahwa sia­pa, saja yang berpuasa dalam bulan Ramadhan satu bulan penuh dengan didorong oleh rasa keimanan semata maka akan diampuni segala dosa-­dosanya yang terdahulu, laksa­na ia baru keluar dari perut ibu­nya “. Jaminan seperti ini tentu hanya akan diberikan kepada orang yang benar-benar ikhlas dan taat beribadah.

Bukan itu saja, bahkan Allah Swt dalam salah satu hadits Qudsyi me­negaskan bahwa setiap amal anak cucu Adam adalah untuknya kec­uali puasa. Maka sesungguhnya puasa itu untu-Ku dan Aku sendi­ri yang akan memberikan balasan-NYA. Itulah sebabnya, setiap orang yang beriman mengarahkanseluruh amaliahnya meningkat sekian kali lipat dibandirig dengati bulan-bulan yang lain. Baik dalam bentuk ibadah mahda’ maupun sosial. Kesemua ini dilakukan se­mata-mata didorong oleh keyaki­nan untuk meraih jamman tersebut.

Betapa tidak, bulan Ramadhan ini diyakini sebagai bulan pemutihan dan penuh rahmat. Karena semua dosa – dosa manusia dapat diampuni oleh Allah dan sekaligus se­luruh amalannya dilipatgandakan pahalanya sampai tujuh ratus kali lipat. Bahkan lebih dari itu. Kini bulan super bonus ini, telah mema­suki putaran babak final. Di puta­ran final ini, tampak pesertanya se­makin selektif, karena hanya diiku­ti oleh orang-orang pilihan yang lolos dari hasil saringan.

Baik dalam babak pra kualifika­si, perempat final dan semi final. Pula babak final ini, hanya diikuti oleh orang-orang yang memiliki keyakinan yang kokoh untuk terus bertahan berpuasa, tadarrus Al Qur,an, i’tiqaf di masjid, shalat tarawih, tahajud dan membelanja­kan sebagian reskinya untuk fakir miskin dan anak yatim piatu.

Hal ini dilakukan karena orang beriman selalu yakin bahwa hidup ini hanyalah sementara. Dan setiap orang hanya tinggal menunggu gi­liran semata. Bukan itu saja, bahkan kita meyakini pula setiap apa yang kita miliki hakekatnya hanyalah titi­pan dan amanah yang seluruhnya akan dimintakan pertanggungjawa­bannya di pengadilan akhirat kelak.

Keyakinan tersebut sesuai den­gan Sabda Rasulullah Saw dalam salah satu haditsnya,” Hiduplah sesukamu, tetapi ingat pasti kamu akan mati; cintai apa saja yang engkau mau cintai; tetapi ingat pasti kamu akan berpisah dengannya; Dan kerjakan apa saja yang engkau mau kerjakan: tetapi ingat pasti perbuatanmu itu akan dibalas “.

Konsekwensi dari Sabda Rasul tersebut adalah menggugah nura­ni kita untuk selalu melakukan sia­ga satu. Dalam arti selalu berjaga-­jaga, kapan dan di mana saja. Sebab tidak ada seorang pun yang tahu kapan dan di mana sang Malaikat pencabutnyawa datang menjemput nyawa kita. Tak ada seorang pun yang tahu.

Kedatangannya pun tiba-tiba dan dia tidak pernah memberi aba-aba sedikit pun. la tidak membedakan satu sama lain, bahkan tidak men­genal sosok pejabat, konglomerat, konglomelarat, kopral, jenderal atau sahabat. la tidak mengenal wak­tu dan tempat bahkan tidak pernah mengundur atau memajukan jadwal pemanggilan yang telah ditetapkan oleh Allah Swt sebelumnya.

Lalu persoalannya, bila kita tidak memiliki persiapan amal yang ban­yak berupa tabungan deposito akhirat, maka sungguh kita terma­suk orang yang sangat celaka dan akan menjadi penghuni salah satu kapling di neraka kelak. Semoga saja, amaliah yang kita lakukan se­lama mengikuti penataran di bulan ramadhan ini dapat diterima oleh Allah SWT sekaligus dapat ber­fungsi sebagai pasport untuk be­rangkat menuju syurga di hari ke­mudian nanti.

Namun perlu diketahui bahwa semua kita adalah camat (calon mati) dna tak ada satupun bekal abadi yang setia menemani manusia dalam kematiannya kecuali amal perbuatannya. Harta yang kita miliki hanya mampu mengantar sampai ke liang lahat kemudian ia kembali; demikian pun keluarga, ia hanya mampu menangis dan mengubur kita kemudian kembali ke rumah. Hanya satu saja yang setia menemani manusia di alam kuburnya yakni amal dan dosa yang pernah kita perbuat. Hanya itu. Sekali lagi, hanya itu saja! Lalu bila demikian halnya, masihkah kita tidak tergerak untuk memperbanyak tabungan deposito akhirat berupa amal kebajikan sebagai bekal menuju rumah masa depan yang kini menanti kita semua ? tentu jawabnya terpulang pada diri dan keyakinan kita masing-masing. Namun penulis yakin bahwa penataran ramadhan yang kita ikuti bersama selama satu bulan ini akan memberikan nuansa baru dalam kehidupan kita sekaligus memberikan vitamin bathin untuk selalu menginat bahwa hidup ini hanyalah sementara dan setiap manusia hanya tinggal menunggu giliran kapan dan dimana malaikat pencabut nyawa memberikan undangannya. semua kita sudah terdaftar sebagai calon penerima undangan dan kini undangannya pun telah beredar.

Karena itu, kita patut siaga satu; jangan sampai perjuangan melawan hawa nafsu selama satu bulan dalam bulan suci Ramadhan, sekali lagi sia-sia. Untuk mencegah hal ini kuncinya ada pada kita, yakni jangan sakiti hati kedua orang tua, jangan perbesar dendam, benci, iri hati, dan dusta di dalam rumah tangga, serta jangan memutuskan tali silaturahmi antar sesama manusia. Bila hal itu kita lakukan, Insya Allah kita akan menjadi salah seorang yang terpilih sebagai peraih piala citra dari Allah SWT.

Kini Idul Fitri telah berada di tengah kita. Mari lapangkan dada, mari buang jauh-jauh rasa benci dan dendam, mari taut persaudaraan, dan mari buka lembaran baru. Bukan itu saja, pula mari kita ulurkan tangan kepada kedua orang tua kita, saudara, sahabat, handai tolan, keluarga dan kepada tetangga untuk meminta maaf atas segala dosa yang pernah kita perbuat selama ini kepadanya. Sungguh bila hal ini kita lakukan Insya Allah coretan dosa yang termuat dalam file kita akan dihapus oleh malaikat Rakib dan Atid atas izin Allah SWT.

Semoga di hari raya Idul Fitri ini kita mulai membuka lembaran baru, kehidupan baru, kebahagiaan baru, tekad baru, amalan baru, seiring dengan terbitnya fajar baru pada tanggal 1 Syawal 1422 Hijriah ini, dan semoga Allah selalu mencurahkan rahmat dan hidayah-Nya kepada kita semua.

Sebab kita semu meyakini bahwa pengadilan akhirat pasti akan tiba dan kini menanti saya, anda dan kita semua. Karenanya mari bersiap-siap, mari menghitung amal kebajikan yang pernah kita perbuat, mari memperbanyak istigfar, zikir dan tabungan deposito akhirat, karena hanya dengan bekal itulah kita dapat selamat di pengadilan akhirat kelak.

Sebelum mengakhiri tulisan ini, perkenankanlah penulis untuk menyampaikan ucapan selamat kepada segenap pembaca. Selamat Idul Fitri 1422 Hijriah, mohon maaf lahir batin dengan iringan doa semoga di babak baru ini kita selalu siaga satu dalam menapaki kehidupan hari ini, hari esok, dan hari yang akan datang dengan tetap berpedoman pada role of the game yakni petunjuk ajaran agama. Semoga.

Filed under: Opini Islami

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Welcome Myspace Comments

Penulis

Waktu

Tulisan-tulisan yang telah dimuat di berbagai media cetak lokal seperti Palopo Pos, Harian Fajar, Majalah Payung Luwu dan BUletin BPSDM yang memaparkan tentang fenomena sosial yang terjadi di Indonesia serta karya-karya yang bernafaskan Islam.

Anda Pengunjung Ke

Telah dikunjungi oleh

  • 119,407 pembaca

Deteksi Lokasi

Terima Kasih Kunjungannya

Thank You Myspace Comments
%d bloggers like this: