Prof. Dr. H. Paisal Halim, M.Hum

Di Atas Langit Masih Ada Langit

Ramadhan, Ghibah dan Namimah

Ramadan merupa­kan satu bulan yang penuh dengan fhadi­lah (keutamaan) dibandirig dengan bulan-bulan yang lain. Salah satu fhadhilah bulan tersebut adalah dengan puasa yang sunggguh-sungguh didorong oleh keyak­inan iman semata maka seluruh dosa­-dosa yang diperbuat oleh manusia di masa lampau (seting­gi dan sebesar apap­un juga) akan diam­puni oleh Allah SWT.

Jaminan ini dikemukakan oleh Rasulullah Saw, dalam salah satu sabdanya bahwa, ” bulan Ramadan adalah bulan yang diwajibkan padamu berpuasa, dan aku mencontohkan kepadamu ban­gun shalat malamnya, maka sia­pa saja yang puasa dan shalat malam, benar-benar karena iman dan mengharap pahala pada Al­lah, akan diampuni segala dosa-­dosanya laksana ia baru dilahir­kan dari perut ibunya.(H.R.Ibnu Majah Albaihaqi).

Bagi kita yang beriman, jami­nan ini pasti tidak akan disia-­siakan karena bulan ampunan tersebut telah berada di pangkuan kita masing-masing. Itu sebabnya, seluruh kekua­tan, pikiran, tenaga, harta dan waktu yang dimiliki oleh orang-­orang beriman seluruhnya dik­erahkan dalam bulan ramadan ini untuk beribadah demi mere­but jaminan tesebut.

Hanya saja, Baginda Rasu­lullah Saw, di lain kesempatan mengingatkan kepada segenap umatnya bahwa “Adakalanya orang yang puasa itu tidak mendapat pahala apa-apa dari puasanya kecuali haus semata.(H.R.Aunasa’i). Bahkan Baginda Rasulullah Saw me­nambahkan bahwa bukan yang bernama puasa itu sekedar menahan makan dan minum, tetapi puasa yang sungguh­-sungguh itu menahan dari la­ghu (lelahan, perkataan tidak ada gunanya) dan menahan dari perbuatan berkata-kata yang keji.(H.R. Menurut syarat Muslim). Perbuatan yang di­maksud antara lain berbuat ghibah dan namimah.

Ghibah adalah perbuatan menyebut-nyebut sesuatu yang ada pada orang lain pada­hal orang tersebut tidak senang bila mendengarnya; baik yang berkenaan dengan cacat tubuh maupun yang berkenaan den­gan akhlak seseorang. Meskipun yang kita katakan itu ada padanya atau tidak ada.

Berkaitan dengan perbuatan ghibah ini, para sahabat pernah bertanya kepada Baginda Ra­sululah saw. Lalu Beliau men­jawab “Ghibah ialah engkau menyebut-nyebut saudaramu mengenai sesuatu yang ada padanya yang ia tidak suka. Beliau ditanya lagi: Bagaimana­kah pendapat engkau jika yang saya sebutkan itu ada pada sau­dara saya? Beliau menjawab: “Jika apa yang kau sebutkan itu ada pada saudaramu berarti engkau telah mengumpatnya, dan jika apa yang kau katakan itu tidak ada padanya berarti engkau telah mengada-ada dus­ta terhadapnya.”(H.R.Muslim).

Dalam Al-Qur’an perbuatan ghibah ini sangat dilarang oleh Allah dengan menggambarkan sebagai perbuatan yang sangat buruk yang diserupakan den­gan seseorang yang memakan daging saudaranya yang telah menjadi bangkai. Firman Allah dalam Al-Qur’an yang artinya: “. … dan janganlah sebagian di­antara kamu menggunjing se­bagian yang lain. Sukakah salah seorang diantara kamu memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka tentulah kamu merasa jijik ke­padanya. ” (al-Hujurat:l2). Hukuman bagi orang yang suka berbuat ghibah ini diceri­takan oleh Rasulullah Saw. Ke­tika sedang melakukan mikraj. Beliau menjumpai sekelompok orang yang berkuku tembaga, kemudian sekelompok orang tersebut menggunakan kukun­ya itu untuk mencakari muka dan dadanya sendiri. Lalu Be­liau bertanya kepada Malaikat Jibril, “Siapakah mereka itu, wa­hai Jibril?” Jibril menjawab,” Mereka adalah orang-orang yang suka memakan daging manusia dan suka membicara­kan aibnya (orang-orang yang suka berbuat ghibah). (H.R.Abu Daud).

Sedangkan Namimah (adu domba), adalah menyampaikan perkataan seseorang mengenai pribadi orang lain kepada yang bersangkutan sehingga menja­di pertengkaran atau rusaknya hubungan antara keduanya. Namimah ini termasuk dalam kategori dosa besar sebagaim­ana disabdakan Rasulullah Saw dalam salah satu hadits yang artinya: “Tidak akan masuk syurga orang yang suka men­gadu domba.” (HR.Bukhari dan Muslim). Di lain Hadits dari Ibnu Abbas r.a, diceritrakan bahwa Rasulullah pernah me­lewati dua buah kuburan lalu Beliau bersabda :”sesungguh­nya kedua orang ini sedang disiksa tetapi bukan karena melakukan dosa berat. Yang satu disiksa karena tidak ber­suci ketika selesai buang air kecil (kencing) dan yang satu lagi disiksa di dalam kuburnya karena orang ini ketika hidup di dunia suka sekali mengadu domba antara satu dengan yang lain. “(HR.Bukhari dan Muslim).

Ketika penulis membaca se­buah kitab yang berjudul Irsy­adul Ibad Ilasabilirrasyad, penulis menemukan suatu ri­wayat tentang akibat perbuatan Namimah ini. Dalam Bab Namimah (Memfitnah dan Adu Domba) pada buku tersebut dikisahkan oleh Ka’ab bahwa, “pernah terjadi kahat (laip, kekurangan makanan) di masa Nabi Musa a.s.pada Bani Isra’il, maka Nabi Musa a.s. keluar untuk minta hujan pada Allah, dan beberapa kali dilakukan namun hujan dimintakan tidak juga turun. Lalu Allah menurunkan wahyu, Aku tidak menerima doamu dan kaummu karena ada diantara kamu seorang tukang fitnah yang selalu membuat fitnah. Lalu Nabi Musa a.s. bertanya Siapakah orangnya, su­paya dapat kami keluarkan dari tengah-tengah kami? Allah menjawab: “Hai Musa, Aku melarang kamu tidak boleh namimah (adu-adu), apakah Aku harus mengadu-adu diantara seki­ara kamu. Mendengar Jawaban tersebut, Nabi Musa a.s. menyuruh manusia bertobat. Maka sesudah mereka semua bertobat barulah Allah menurunkan hujan pada mereka.

Sungguh Allah sangat membenci orang yang suka berbuat fitnah atau mengadu domba antara sesamanya manusia. Namimah merupakan perbuatan yang dapat merusak pribadi dan masyarakat. Namimah dapat memecah belah kaum muslimin dan bahkan dapat menimbulkan permusuhan diantara mereka. Ketahuilah, bahwa orang yang suka menyampaikan perbuatan buruk orang lain kepada kita, maka ia pun tidak akan merasa enggan menyampaikan perkataanmu kepada orang lain, artinya kalau ada orang yang suka menyampaikan keburukan orang lain kepada kita maka yakinilah bahwa suatu saat ia pun pasti akan menyampaikan keburukan kita kepada orang lain. Satu-satunya Jalan untuk menghindari hal ini adalah jangan bergaul, berteman, bersahabat, atau bersaudara dengan orang yang suka berbuat demikian, karena pasti akan berujung dengan permusuhan. Semoga Ramadan yang penuh rahmat dan magfhirah ini dapat melatih dan mengantar kita untuk mengenali diri yang sesungguhnya. Melatih dan mengasah bathin ini untuk se­lalu mengingat Allah sekaligus memohon ampunan-Nya atas segala dosa-dosa yang pernah kita perbuat. Mari kita bersih­kan hati ini, mari kita singkirkan sifat iri hati, sifat dengki dan oleh Nabi Musa, sifat dendam terhadap sesama manusia, karena seluruh sifat tersebut dapat meruntuhkan amal kebajikan yang kita per­   buat di bulan ramadhan ini. Mari kita hindarkan diri dari perbua­tan Ghibah (menceritakan orang lain di bellakang)     dan perbuatan Namimah (memfitnah dan adu domba) antar sesama kare­na sungguh perbuatan tersebut sangat keji dan dibenci oleh Al­lah Swt. Bahkan ditamsilkan se­bagai perbuatan laksana mema­kan bangkai saudara sendiri. Ramadan telah berlalu sekian hari, makna dan getarannya telah kita rasakan masing-mas­ing. Sujud dikeheningan malam, sembari memohon doa dan am­pun telah kita lakukan. Memin­            ta maaf kepada kedua orang tua, sahabat dan tetangga pun te­Iah kita laksanakan. Fakir mis­kin dan orang tua jompo di                sekeliling itu juga telah kita berikan sesuatu apa yang berman­faat padanya. Masjid demi                masjid telah kita sujud di dalam­nya. Pakaian, sarung, kopiah, sandal dan kendaraan yang kita miliki menjadi saksi. Kesemua ini kita lakukan semata-mata hanya untuk mencari rahmat, ridha dan ampunan dari Allah     yang disiapkan dalam bulan suci Ramadan. Karenanya, janganlah kita runtuhkan seluruh  amalan dan kerinduan kita ke­pada Ilahi hanya dengan berbuat ghibah dan Namimah. Kita berharap, Semoga diujung Ra­madhan 2002 ini, kita tergolong salah seorang yang menerima lembaran kehidupan yang baru dengan diampunkannya sega­la dosa-dosa yang pernah kita perbuat. Semoga!

Filed under: Opini Islami

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Welcome Myspace Comments

Penulis

Waktu

Tulisan-tulisan yang telah dimuat di berbagai media cetak lokal seperti Palopo Pos, Harian Fajar, Majalah Payung Luwu dan BUletin BPSDM yang memaparkan tentang fenomena sosial yang terjadi di Indonesia serta karya-karya yang bernafaskan Islam.

Anda Pengunjung Ke

Telah dikunjungi oleh

  • 119,407 pembaca

Deteksi Lokasi

Terima Kasih Kunjungannya

Thank You Myspace Comments
%d bloggers like this: