Prof. Dr. H. Paisal Halim, M.Hum

Di Atas Langit Masih Ada Langit

REFORMASI DAN KRISIS REPUBLIK

KRISIS ekonomi yang me­landa bangsa Indonesia sejak tahun 1997 hingga kini, belum memperlihatkan tanda-tanda yang berkesudahan. Bahkan krisis ekonomi ini berkembang menjadi krisis multidimensi. Misalnya krisis politik, krisis nilai, krisis tanggung jawab bahkan krisis kepercayaan ak­ibat krisis tersebut memicu banyak peristiwa yang menggoncang republik ini. Peristiwa tersebut antara lain: konflik so­sial, kerusuhan massal, kek­erasan merajalela di mana-mana, hingga ancaman disintegrasi bangsa. Indikasi tersebut dap­at dilibat dan dibaca di berbagai media. Baik media elektronik seperti radio dan televisi mau­pun media cetak seperti surat kabar dan majalah.

Kondisi di atas menunjukkan pemerintahan Orde Baru tidak mampu mengatasi peristiwa yang mencekam tersebut. Aki­batnya rakyat tidak lagi percaya kepada pemimpin bangsa yang waktu itu dijabat oleh Soeharto. Refleksi dari ketidakpercayaan tersebut, muncullah gerakan reformasi yang dipelopori oleh mahasiswa den­gan agenda utama “melengser­kan pimpinan nasional” yang sudah bertengger di kursinya selama 32 tahun.

Perjuangan moral mahasiswa menggusur Soeharto dari kursi kerajaannya berhasil dengan cemerlang. Soeharto pun leng­ser dari kursi kepresidenan dan digantikan oleh BJ Habibie hingga digelarnya Pemilu tahun 1999. Sorak-sorai kemenangan mahasiswa dan masyarakat bergema hampir di seluruh pelosok negeri ini. Betapa tidak. Soeharto merupakan sosok pemimpin yang dikenal dengan julukan Bapak Pembangunan Bangsa, bertangan besi : kuat, hebat, disegani dan berbagai julukan lainnya dapat ditum­bangkan oleh kaum terpelajar yang hanya memiliki senjata ujung pena. Kaum terpelajar itu adalah mahasiswa.

Demikian kuatnya Soeharto mencengkram republik ini, se­hingga hampir semua pejabat tunduk dan tidak berani men­gambil kebijakan sebelum min­ta petunjuk. Semua perkataan­nya benar, bahkan ucapannya lebih tajam dari undang-un­dang. Itu sebabnya para peja­bat negara yang dipilih dan di­angkat tidak berani membantah termasuk ketua MPR, Ketua DPR, Ketua DPA, dan Ketua MA saat itu. Semuanya mem­berikan laporan ABS (Asal Ba­pak Senang) dan laporan SSB (Sesuai dengan Selera Bos).

Namun, ketika mahasiswa bersama lapisan masyarakat bersatu padu melakukan gera­kan reformasi maka kebesaran sang tokoh tersebut dengan mudah tercabik-cabik hingga sampai pada titik terendah. Tumbangnya rezim Soeharto yang merasa bertangan besi ini membuka mata kita semua sekaligus berucap bahwa me­mang “di atas langit masih ada langit.” Tumbangnya rezim Soeharto akibat gerakan refor­masi mendorong seluruh ko­mponen di republik ini mengacungkan jempol sekaligus men­gangkat topi pada pejuang re­formasi. Sejarah mencatat bahwa kehebatan dan ketajaman gerakan mahasiswa tidak hanya dikenal pada masa reformasi ini, tetapi sejak dahulu yakni sejak tahun 1908, 1928, 1945, dan 1966. Hal ini menunjukkan bahwa mahasiswa sebagai bagian dari masyarakat intelek­tual di republik ini memiliki tang­gungjawab moral untuk men­gawal republik ini dalam mewu­judkan cita-cita pendiri repub­lik ini sebagaimana yang ter­tuang dalam pembukaan UUD 1945.

Demikian tajamnya gerakan mahasiswa ini hingga pada saat gerakan reformasi ini digaung­kan muncullah anekdot, “Mahasiswa takut pada dosen; dosen takut pada rektor; rektor takut pada menteri; menteri takut pada presiden tetapi presiden sendiri takut pada maha­siswa.” Perjuangan maha­siswa bersama komponen masyarakat telah-berhasil me­maksa Presiden Soeharto un­tuk mundur dari jabatannya dan menyerahkan jabatan itu kepa­da B.J.Babibie yang kala itu sebagai wakil presiden. Dengan keberhasilan perjuangan ini, lagi-lagi mahasiswa mengukir lembaran sejarah dengan tinta emas di republik ini. Pergantian pucuk pimpinan nasional ini dari Presiden Soeharto ke presiden B.J.Babibie, kita berharap banyak perubahan yang akan diraih. Misalnya: Kita dapat sembuh dari penya­kit korupsi, kolusi dan nepotis­me yang sudah kronis menim­pa bangsa; Hukum sudah men­jadi panglima; bak azasi manu­sia dijunjung tinggi; saluran demokrasi tidak tersumbat; ekonomi kembali bangkit, lapan­gan kerja terbuka lebar, penga­ngguran semakin sedikit, harga sembako stabil, BBM, listrik dan telepon terjangkau dan sebagainya. Namun kenyataan­nya semua harapan tersebut tak kunjung datang. Bahkan gelombang kehidupan semakin dahsyat menimpa rakyat di re­publik ini.

Mungkin benar ungkapan beberapa tokoh di republik ini bahwa gerakan reformasi yang digaungkan oleh para intelek­tual muda baru berhasil hanya sebatas mengganti wajah na­kboda di republik ini, `Pang­gung’ republik ini hanya ber­ganti tokoh, sebab pola pikir, sikap dan perilaku para narkoba pasca reformasi baik di pusat maupun di daerah tetap saja seperti yang dulu. Bahkan mu­ngkin lebih ganas lagi! Korupsi, Kolusi dan Nepotisme (KKN) yang melilit bangsa di masa Orde Baru tetap saja berlangsung pada seluruh tataran bahkan mungkin lebih sadis lagi. Cara meraihnya pun hampir sama dan kalau pun ada yang berbeda hanya gayanya saja.

Demokratisasi berhenti di persimpangan jalan; penega­kan hukum hanya bergaung sebatas `Wacana’ Meskipun harus diakui para penegak hukum (Polisi, Jaksa, dan Hakim) telah bekerja keras untuk me­negakkannya namun sering kandas di tengah jalan akibat campur tangan politik. Suara kritis dari berbagai kalangan. Kalangan akademisi; kalangan praktisi; kalangan oposisi bahkan kalangan pelopor reforma­si (mahasiswa dan intelektual muda ) terus dilancarkan. Baik dalam event seminar, temu ilmiah, dialog terbuka dan lain sebagainya namun sabutan dan teriakan itu cenderung di­nilai sebagai angin lalu saja.

Menyikapi kondisi kritis di atas, para intelektual muda kini kembali merapatkan barisan: rapat demi rapat digelar; data­ demi data terus dikumpulkan; seminar dan temu ilmiah terus dikembangkan. Kesemua ini di­lakukan untuk menelusuri sum­ber penyebab semua ini. Selain itu para pelopor reformasi juga terus menawarkan konsep pencerahan peradaban; dengan berbagai pilihan guna men­jamin tersedianya laban perse­maian baru yang lebih layak dan lebih bertanggung jawab bagi generasi mendatang.

Patut diakui bahwa upaya pemulian berbagai krisis yang melanda bangsa ini, tidak dap­at dilakukan dengan `Sim Salabim’, sebab bias-bias pening­galan Orde Baru masih melekat pada berbagai aspek kehidupan bangsa. Krisis ekonomi telah menciptakan banyak pengang­guran akibat PBK dan kehilangan pekerjaan. Mereka yang kehilangan pekerjaan di kota kembali ke desa, di mana tidak tersedia lapangan pekerjaan se­lain di sektor pertanian, sedang lahan pertanian sudah semakin sempit untuk menampung jumlah tenaga kerja yang melimpah. Akibatnya, terjadilah pengang­guran tak kentara. Dengan tidak terakumulasinya masyarakat pada lapangan pekerjaan, men­gakibatkan gejolak sosial. Masyarakat akan sangat mudah terpancing untuk melakukan kejahatan, demi memenuhi kebutuhan hidup keluarganya.

Sistem pendidikan dan kebi­jakan ekonomi masa lalu dam­paknya masih terasa hingga kini. Sistem pendidikan yang terlalu sentralistik, menyebabkan bangsa Indonesia tidak memiliki peluang untuk mengembangkan diri secara pri­badi. Banyak potensi individual tidak tersentuh akibat saratnya kurikulum (kumas) yang harus dipelajari oleh siswa, yang ujung-ujungnya hanya menciptakan bangsa Indonesia pro `sta­tus quo’. Sedangkan kemam­puan emosional dan kreatifitas tidak banyak mendapat perhatian. Akibatnya, basil pendid­ikan hanya melahirkan pengang­guran terdidik yang tidak memi­liki daya juang yang tinggi.

Fenomena dan fakta-fakta keterpurukan bangsa yang dis­ajikan di atas masih dirasakan hingga sekarang. Hal ini menunjukkan bahwa nafas re­formasi yang diperjuangkan selama ini belum membuahkan basil yang maksimal. Lagi-lagi hal ini menunjukkan bahwa per­juangan reformasi yang dilan­earkan selama ini hanya sebatas baru mengganti wajah `pe­main’ semata, tidak pada men­gubab pola pikir, pola sikap dan pola perilaku dari para pemimpin yang bermain di atas panggung republik ini.

Bila demikian halnya, haruskah kita menanti reformasi jilid 2 untuk mengubah pola pikir, pola sikap, perilaku dan gaya para pemimpin kita yang ber­main pentas sekarang ini? Atau haruskah kita menanti reforma­si jilid 2 untuk mengingatkan agenda reformasi yang kita usung selama ini kepada para pemimpin yang bermain pen­tas di panggung republik ini? Jawabnya, terpulang pada pan­dangan kita masing-masing. Namun, yang jelas dan pasti, republik ini semakin terpuruk di mata internasional, gaya pemerintahan masih seperti yang dulu; jumlah masyarakat miskin semakin bertambah, pengang­guran terdidik semakin mem­bengkak, utang luar negeri se­makin memberatkan generasi mendatang dan kepercayaan masyarakat kepada pemerintah semakin menipis.

Potret di atas tidaklah muda untuk diselesaikan karena para pemain di tingkat pusat mau­pun di tingkat daerah cenderung tidaklah lagi mengacu pada tun­tutan skenario yang disepakati. Bahkan banyak pemain lebih memilih skenario yang disusun oleh pimpinan partai politik ketimbang skenario yang dis­usun oleh lembaga formal sep­erti MPR dan DPR. ng muneul adalah Masih perlukah kita melakukan reformasi jilid 2 untuk mewujud­kan agenda reformasi yang di­usung tersebut? Lagi-lagi jawabnya terpulang pada pan­dangan kita masing-masing.

Kita berharap semoga Pemilu mendatang, kita dapat memilih pemimpin yang benar-be­nar memahami agenda reforma­si sekaligus mampu mewujud­kan agenda tersebut demi men­gangkat kembali citra republik ini di mata rakyat Internasional sekaligus di mata rakyatnya sendiri. Semoga!

Filed under: Opini

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Welcome Myspace Comments

Penulis

Waktu

Tulisan-tulisan yang telah dimuat di berbagai media cetak lokal seperti Palopo Pos, Harian Fajar, Majalah Payung Luwu dan BUletin BPSDM yang memaparkan tentang fenomena sosial yang terjadi di Indonesia serta karya-karya yang bernafaskan Islam.

Anda Pengunjung Ke

Telah dikunjungi oleh

  • 119,407 pembaca

Deteksi Lokasi

Terima Kasih Kunjungannya

Thank You Myspace Comments
%d bloggers like this: