Prof. Dr. H. Paisal Halim, M.Hum

Di Atas Langit Masih Ada Langit

WASPADAI CURIGA PADA TUHAN

BERPERASANGKA buruk atau perasaan curiga yang di­miliki oleh seseorang’ merupa­kan sesuatu yang dibawa oleh manusia sejak lahir. Sebagai bawaan maka setiap orang pas­ti memiliki perasaan curiga  tersebut. Karena itu kita tidak , perlu heran apabila di berbagai tempat, kita sering menyaksikan ; para tokoh (tokoh agama, poli­tik, pemuda dan tokoh lainnya), ; orang kaya dan juga orang mis­kin saling memata-matai atau ; saling mencurigai satu sama lain. Baik di kantor, di rumah tangga, di lorong jalanan, di pusat keramaian kota, di dusun terpencil, di lapangan olahraga, di tempat rapat, di hotel berbintang, di gubuk reot, ‘di supermarket dan di pasar tr­adisional sekali pun. Sifat curiga ini sungguh alami dan merupakan selendang hidup yang menghiasi kehidupan se­tiap orang.

Curiga atau berperasangka buruk terhadap sesama manu­sia sesungguhnya hal yang bi­asa-biasa saja. Tetapi akan menjadi sangat luar biasa apa­bila rasa curiga dan ber­perasangka buruk itu sudah mengarah kepada “Sang Maha Pencipta “. Apatah lagi bila -hanya karena didorong oleh pikiran kotor akibat apa yang kita pinta tidak dikabulkan oleh .Sang Maha Kuasa.

Kurang lebih 199 ayat dalam Al-Qur’an membahas tentang doa: Salah satu di antaranya di bahas dalam surah Albaqarah ayat 186. Pada ayat tersebut Tuhan berfirman bahwa: Apa­’bila umatku bertanya tentang ,Aku, maka katakanlah wahai ‘Muhammad, Aku sangat dekat dengannya. Aku akan jawab semua permintaannya apabila ia meminta. Maka kerjakanlah se-mua kewajiban yang Aku per­intahkan dan berimanlah. Se-moga Engkau senantiasa bera­da dalam kebenaran” (Al­baqarah ayat 186). Terjemahan `surah Albaqarah 186 di atas sesungguhnya merupakan “garansi ” Sang Maha Pencip­ta terhadap setiap permohonan doa hamba-Nya. Namun masih juga banyak yang belum yakin dengan jaminan tersebut.

Betapa tidak, tidak sedikit or­ang yang sudah sekian puluh tahun memanjatkan doa, melak­sanakan kewajiban dan beriman kepada-Nya namun apa yang diminta belum juga terwujud. Bahkan mungkin tidak sadar berkata, jangankan yang dim­inta itu terwujud, tanda-tandan­ya pun sampai sekarang belum muncul.

Pernyataan seperti ini dapat saja muncul secara spontan apa­bila didorong oleh pikiran kotor dan rasa curiga yang berlebihan yang dimiliki oleh seseorang Namun sebagai orang yang ber­iman, pikiran kotor (piktor) dan perasaan curiga tersebut perlu diwaspadai karena dapat meng­giring seseorang “kufur” kepa­da Sang Maha Pencipta. Betapa tidak, dengan pernyataan sep­erti di atas, sesungguhnya se­cara tersurat, tersirat dan bah­kan secara tersorot kita telah curiga dan berperasangka buruk kepada Tuhan.

Padahal, Tuhan dengan sifat Rahman dan Rahim-Nya” selalu mendengarkan dan mengabul­kan permintaan setiap hamba­Nya. Hanya saja model dan wu­jud pengabulan doa hambaNya itu yang beraneka ragam. Mod­el yang pertama, Tuhan meng­abulkan doa hamba-Nya persis apa yang diminta. Misalnya min­ta naik haji, diberikan reski naik haji, minta kekuasaan dan kekayaan, diberikan kekuasaan dan kekayaan dan lain se­bagainya. Model kedua, Allah mengabulkan doa hamba-Nya dengan memberikan sesuatu yang tidak sama persis dengan apa yang diminta. Misalnya apa­bila hamba-Nya minta murah res­ki, kekayaan, naik pangkat, memegang jabatan dan sebagainya; permintaan itu tidak dikabulkan tetapi diberikan dalam bentuk lain seperti; diberi­kan kesegaran, diberikan pan­jang umur; diberikan anak yang cerdas dan lain sebagainya se­bagai konvensasi dari yang di­minta. Mungkin saja kita bert­anya, mengapa demikian? Jawabnya, yakini sajalah bah­wa Tuhan lebih tahu terhadap pemberian tersebut. Model ke­tiga, Tuhan tidak memberikan kontan sesuai yang diminta, tidak pula diberikan dalam wu­jud yang lain, tetapi Tuhan te­lah mempersiapkan bagi kita tempat yang paling terhormat di hari kemudian nanti. Mungkin muncul lagi pertanyaan, Men­gapa mesti seperti itu? Jawabn­ya, lagi-lagi Tuhan maha tahu, maha Rahman, maha Rahim ter­hadap apa yang diberikan kepa­da hamba-hamba-Nya.

Sebagai orang beriman, mari kita yakin bahwa apa yang ada pada diri kita sekarang ini sesungguh­nya itulah yang terbaik bagi kita menurut ukuran Allah. Mari syukuri apa yang ada; mari ber­perasangka baik kepadaNya. Ya­kinilah bahwa sungguh, Tuhan tidak pernah lalai terhadap janjiN­ya; Tuhan tidak pernah tidak mengabulkan permintaan kita bahkan Tuhan tidak pernah salah alamat dalam mengabul­kan permintaan hambaNya. Karena itu jangan gugat Tuhan, jangan curiga padanya, karena sungguh Tuhan maha Rahman dan maha Rahim terhadap ham­ba-Nya. Kita berharap semoga dalam menapaki hari-hari men­datang, Tuhan tetap menghin­darkan kita berperasangka bu­ruk kepadanya. Salah satu lang­kah yang perlu dilakukan un­tuk “memblokir” rasa curiga tersebut adalah mengamalkan sikap “selalu mensyukuri nik­mat yang diberikan; selalu mera­sa cukup dalam kekurangan dan jangan merasa kurang dalam kecukupan”.

Filed under: Opini

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Welcome Myspace Comments

Penulis

Waktu

Tulisan-tulisan yang telah dimuat di berbagai media cetak lokal seperti Palopo Pos, Harian Fajar, Majalah Payung Luwu dan BUletin BPSDM yang memaparkan tentang fenomena sosial yang terjadi di Indonesia serta karya-karya yang bernafaskan Islam.

Anda Pengunjung Ke

Telah dikunjungi oleh

  • 119,407 pembaca

Deteksi Lokasi

Terima Kasih Kunjungannya

Thank You Myspace Comments
%d bloggers like this: