Prof. Dr. H. Paisal Halim, M.Hum

Di Atas Langit Masih Ada Langit

WASPADAI DATANGNYA KEMATIAN

SUDAH menjadi ketentuan Allah bahwa setiap makhluk hidup yang bernyawa akan mati. Karena itu, saya, Anda, dan kita semua sebagai manusia pasti akan mati. Baginda Rasulullah SAW dalam salah satu haditsnya, mengibaratkan kematian itu laksana sebuah pintu yang setiap orang pasti akan melewatin­ya. Itu sebabnya setiap orang dituntut untuk selalu “siaga satu” mewaspadai datangnya kematian tersebut.

Kematian tidak mengenal siang dan malam; kematian tidak men­genal manusia kuat atau lemah; kaya-miskin; pejabat atau rakyat biasa; tukang sulap atau tukang sihir dan lain sebagainya. Sung­guh hanya Tuhan jualah yang mengetahui semua itu secara pasti. Perihal kematian, tak seorang pun yang tahu, sebab ia tidak pernah memberikan aba-aba; ia tidak mengetuk pintu ketika akan memasuki rumah manusia yang akan dijemput; ia tidak pernah permisi apalagi membisikkan di telinga seseorang ke­tika akan menjemput seseorang. la mendatangi manusia ka­pan dan dimana saja ketika waktunya telah tiba. Kedatangan­nya selalu menjadi “misteri problem”.

Bila kita yakin kematian itu pasti datang, mengapa pula manu­sia harus siaga satu menghadapinya? Jawabnya tiada lain kare­na di ujung kematian itu, “masih ada hidup sesudah mati dan masih ada akhirat sesudah dunia ini”. Keduanya merupakan pengadilan pertanggungjawaban segala perbuatan yang per­nah diperbuat oleh manusia di atas dunia ini.

Karena itu hakim, jaksa, pengacara, polisi, dan pakar hukum lainnya yang ketika hidup di dunia berselimutkan dengan per­aturan perundang-undangan akan dimintakan pertanggung­jawaban di pengadilan akhirat nanti. Demikian pula dengan para politisi, birokrasi, akademisi, musisi, ulama, cendekiawan, har­tawan, wartawan, seniman, dan olahragawan yang sedang ber­main di atas panggung sandiwara ini juga akan dimintakan per­tanggungjawabannya di pengadilan akhirat.

Sungguh berbahagialah manusia apabila semasa hidupnya banyak melakukan amal kebajikan, karena hanya amal kebaji­kanlah satu-satunya yang akan menjadi dewa penolong manu­sia di dalam persidangan. Harta benda yang dimiliki seseorang, pangkat, jabatan, kendaraan, tanah, rumah, deposito, piagam penghargaan, gelar, tongkat komando, dan lain sebagainya tidak memiliki arti apa-apa dalam persidangan. Bahkan keselu­ruhan rentetan yang disebutkan di atas dapat menjadi pemicu bagi dewan hakim untuk memberikan hukuman yang lebih be­rat apabila tidak digunakan sebaik-baiknya. Sebab hal tersebut tiada lain adalah amanah dan setiap amanah yang diberikan akan dimintakan pertanggungjawaban di hadapan Allah SWT.

Sebagai seorang yang masih diberi kesempatan untuk hidup,  mari kita instropeksi diri; mari kita tanya diri masing-masing, sudah berapa banyak bekal yang kita persiapkan untuk menuju i rumah masa depan kita’? Mari kita manfaatkan sisa-sisa umur yang ada ini untuk banyak beristighfar, banyak berbuat amal kebajikan, banyak menabung untuk deposito akhirat. Karena itu hanya dengan beristighfar dan berbuat amal kebajikan hi­dayah dan magfirah Allah SWT akan kita raih.

Ketahuilah bahwa hanya harta yang telah kita belanjakan di ijalan Allah merupakan harta yang sebenarnya bagi kita. Dan ,hanya harta yang kita belanjakan itu pulalah yang setia men­dampingi kita di pengadilan. Baik di pengadilan kubur maupun jadi pengadilan akhirat. Penulis berharap semoga dengan kehad­iran tulisan ini dapat menambah vitamin bathin dalam diri kita ‘untuk selalu mendekatkan diri kepada Allah. Semoga pula kita senantiasa mawas diri terhadap datangnya kematian sekaligus “hadap diri untuk persiapan pertanggungjawaban di pengadilan akhirat kelak. Semoga!

Filed under: Opini

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Welcome Myspace Comments

Penulis

Waktu

Tulisan-tulisan yang telah dimuat di berbagai media cetak lokal seperti Palopo Pos, Harian Fajar, Majalah Payung Luwu dan BUletin BPSDM yang memaparkan tentang fenomena sosial yang terjadi di Indonesia serta karya-karya yang bernafaskan Islam.

Anda Pengunjung Ke

Telah dikunjungi oleh

  • 119,407 pembaca

Deteksi Lokasi

Terima Kasih Kunjungannya

Thank You Myspace Comments
%d bloggers like this: