Prof. Dr. H. Paisal Halim, M.Hum

Di Atas Langit Masih Ada Langit

CELENGAN MASJID DAN KADO PENGANTIN

MENGAWALI tulisan ini, nulis ingin menyuguhkan sebuah preposisi untuk ditelaah dan dicermati bersama. Preposi­si tersebut adalah bahwa tidak sedikit manusia yang hidup di permukaan bumi ini suka sekali memperlakukan sesuatu secara diskriminatif. Salah satu per­lakuan diskriminatif tersebut adalah perlakuan diskriminatif antara celengan masjid dengan kado pengantin.

Perlakuan manusia terhadap kedua kotak ini sangat mencolok dan celengan masjid selalu mendapat porsi perlakuan yang sangat memprihatinkan. Demiki­an tragisnya manusia memper­lakukan celengan masjid itu maka penulis terpanggil untuk menghadirkan tulisan ini ke hadapan para pembaca. Maksud menghadirkan tulisan ini tiada lain untuk mengetuk pintu hati kita semua agar dalam menapaki sisa-sisa hidup kita tidak dis­kriminatif terhadap celengan masjid tersebut.

Survey di lapang menunjuk­kan bahwa manusia selalu saja cenderung menganaktirikan ce­lengan masjid ini dibandirig den­gan kado pengantin. Survey ini dilakukan baik di masjid desa (masjid Jami), masjid kecamatan (masjid Raya) maupun masjid kabupaten (masjid Agung). Dari hasil pengamatan di beberapa lokasi tersebut menunjukkan bahwa isi kotak amal pada hari Jum’at sangat sedikit nilainya dibandirig dengan isi kado pen­gantin pesta perkawinan.

Perbedaan ini sangat tampak pada potret uang kotak amal yang masuk. Di setiap Jum’at hanya kebanyakan “uang monyet” (lima ratus rupiah) dan uang kertas seribu rupiah. San­gat jarang dijumpai dalam celen­gan masjid itu uang yang ber­nilai lima ribu, sepuluh ribu apalagi lima puluh ribu dan ser­atus ribu rupiah.

Sebaliknya pada kado penga­ntin, sangat jarang amplop sum­bangan berisi uang monyet dan uang seribu rupiah. apatah lagi uang receh seratus rupiah. Um­umnya dalam kado pengantin itu ditemukan minimal uang lima ribu rupiah dan tidak jarang dite­mukan uang lima puluh ribu dan uang seratus ribu rupiah.

Melihat kenyataan ini, lalu tim­bul pertanyaan. Mengapa hal tersebut dapat terjadi ? Ketika Dosen STKIP Cokroammoto persoalan ini penulis pertanyakan kepada rekan-rekan. Baik re­kan dosen, guru, pejabat, ustadz, dan masyarakat, tampaknya ber­bagai alasan dan jawaban yang diberikan. Salah satu di antara sekian banyak jawaban yang diberikan adalah bahwa sumban­gan celengan di masjid tidak dike­tahui siapa yang menyumbang dan berapa yang disumbangkan. Pula tidak ada dewan yuri yang menilainya kecuali Allah. Semen­tara kado pengantin, ada dewan yuri sehingga orang sangat ber­semangat bahkan berlomba menu­lis nama di setiap amplop. Laksa­na pertandirigan untuk merebut prestasi dan pretise di de pan dewan yuri. Meskipun dewan yuri itu tidak dilantik. Hal ini dilaku­kan oleh hampir kebanyakan or­ang karena setiap acara pengan­tin terdapat satu acara khusus yakni acara pembukaan kado.

Dalam acara itu, biasanya sang pengantin bersama keluarga, panitia serta dewan yuri yang tidak dilantik lainnya duduk di hadapan kado sambil menyaksi­kan acara pembukaan kado. Pada acara tersebut setiap amplop dis­ebutkan nama penyumbang berikut jumlah yang disumbang­kan. Konsekwensi logis dari ac­ara ini membuat setiap orang un­tuk mempertaruhkan harga diri melalui nilai sumbangan. Sekali lagi hat ini dilakukan karena ter­dorong oleh rasa gengsi, rasa malu dan harga diri seseorang di mata kawan sejawat dan dewan vuri yang tidak dilantik .

Bila argumentasi seperti ini di­terima maka dapat, disimpulkan bahwa ternyata keberanian sese­orang memberikan sumbangan yang banyak pada kado pengantin’ karena dipengaruhi oleh faktor `gengsi’ dan malu kepada kawan. Padahal dalam undangan penga­ntin tidak tercantum pengumuman tentang pemeriksaan kado sum­bangan. Demikian pula terhadap celengan masjid, namun menga­pa juga orang berani memberikan sepuluh ribu sampai seratus ribu bahkan lebih dari itu untuk kado pengantin ? Tetapi untuk celen­gan masjid mengapa orang han­ya berani menyumbang antara seratus rupiah hingga seribu ru­piah saja. Lagi-lagi jawabnya ten­tu terpulang pada rasa malu dan harga diri masing-masing. Baik ter­hadap sahabat maupun kolega. Padahal malu kepada Allah sungguh sangat jauh lebih baik ketimbang dengan malu kepada sesa­ma manusia.

Dilihat dari segi manusia yang hadir pada kedua acara tersebut (Shalat Jum,at dan pesta perkaw­inan) relatif tidak ada perbedaan yang mencolok. Pada acara sha­lat Jum’at dan pesta perkawinan selalu dihadiri oleh berbagai ka­langan. Ada politisi, akademisi, birokrasi, penguasa, pengusaha, ulama, hakim, jaksa, polisi dan sebagainya. Namun nasib celen­gan masjid tetap sama saja.

Kenyataan ini sungguh sangat menarik untuk dikaji, sebab manu­sia yang hadir relatif sama namun nilai hasil sumbangan berbeda bahkan sangat jauh berbeda. Padahal nilai sumbangan di masjid balasannya akan diriikmati pada had kemudian. Di sisi lain sumbangan yang diberikan dalam bentuk kado pengantin nilainya hanya berupa `stempel’ pujian semata.

Dalam satu riwayat disebutkan bahwa harta yang sebenarnya dan yang-abadi dimiliki oleh manusia bukan yang tertulis dalam akte; tertulis dalam sertip­ikat; tersimpan dalam berbagai deposito; atau berupa emas, ber­lian, tanah, kendaraan dan rumah mewah. Melainkan hanyalah har­ta yang disumbangkan pada jalan Allah yang salah satu di antaranya adalah sumbangan pada ce­lengan masjid.

Patut dikemukakan bahwa setiap orang yang membelanjakan sebahagian rezkinya di jalan Al­lah maka pada saat itu Malaikat mencatatnya. Bukan itu saja bah­kan Malaikat akan menambah ca­haya lampu penerang baginya di alam kubur nanti.

Kuburan sungguh sarat dengan pelajaran yang sangat ber­harga bagi manusia bila mau men­jadikannya sebagai cermin. Di tempat itu jutaan sudah manusia telah terkubur, seperti profesor, jenderal, presiden, hartawan, penguasa, pengusaha, dokter, paranormal, pendekar, jagoan, ul­ama, rakyat jelata dan sebagain­ya. Kesemuanya telah menginap di lorong tanpa cahaya nan sem­pit. Kecuali bagi mereka yang se­lama hidupnya banyak mengisi celengan masjid dan tabungan deposito akhirat lainnya.

Suka atau tidak suka tempat itu pasti akan kita tinggali. Karena itu mari kita bersiap-siap. Mari kita berbenah diri, mari menghitung amal kebajikan dan dosa yang pernah kita perbuat. Mari perban­yak amal kebajikan karena sung­guh hanya amal kebajikan itulah menjadi saudara dan sahabat yang paling setia.

Berkaitan dengan sumbangan celengan masjid ini, ada kisah yang menarik dan patut untuk di­contoh. Kisah tersebut dikemuka­kan oleh rekan sejawat penulis saat mengantar keluarga di peris­tirahatannya yang terakhir (kubur). Saat itu dia berkata bah­wa sang mayat ini, setiap hari Jum’at selalu menunggu siapa saja yang lewat-di depan rumah­nya untuk berangkat ke masjid melaksanakan shalat Jum’at.

Hal itu dilakukan sekedar ingin menitipkan uangnya di celengan masjid. Karena kebetulan perem­puan sehingga tidak wajib be­rangkat shalat Jum’at di masjid. Kehidupannya sangat sederhana. la rakyat biasa dan tidak memiliki mata pencaharian yang tetap. Namun karena kesungguhan dan keyakinannya yang kuat sehing­ga ia selalu terdorong menambah deposito akhiratnya melalui celengan masjid demi untuk menambah cahaya di alam kubur .

Karena itu kita ber­harap semoga janji tersebut dapat kita hayat, kita resapi dan kita wujudkan dalam kehidupan kese­harian. Baik melalui ibadah ritual ( Shalat, puasa, zakat dan haji ) maupun melalui ibadah social melalui celengan masjid. Celen­gan masjid saya, masjid Anda dan masjid kita semua.

Namun, bila nasib celengan masjid potretnya terus berlang­sung seperti itu, maka mungkinkah celengan masjid tersebut masih perlu dipertahankan keha­dirannya di dalam masjid ? Atau diupayakan dalam bentuk yang lain, semisal di Masjidil Haram dan di Masjid Nabawi yang tidak ada celengan masjid. Jawabnya tentu terpulang,pada perhatian dan keseriusan pemerintah, ula­ma, tokoh masyarakat. Terutama perhatian dan keseriusan para tokoh agama dan cendekiawan muslim yang ada di republik ini dalam memikirkan hal tersebut.

Kita berharap, semoga Tuhan senantiasa menurunkan hidayah dan taufiq-NYA kepada kita se­mua agar kita tetap diberikan kekuatan, kemampuan, ketulusan dan keberanian untuk membelan­jakan sebagian reski yang diberi­kan ke dalam celengan masjid. Semisal keberanian dan ketulus­an memasukkan sumbangan kado pengantin.

Hal ini perlu kita panjatkan doa, karena berapa banyak orang yang telah diberikan reski berupa pangkat, jabatan, kekuatan, kese­hatan, keselamatan, kemampuan dan sebagainya. Namun sering lupa diri dan lupa pada yang maha memberi semua itu. Bahkan men­jadi kikir, bakhil, angkuh, som­bong dan lupa sujud kepada sang maha pencipta.

Adalah suatu prilaku yang san­gat memalukan dan memilukan di hadapan Allah Swt. Apabila ter­dapat seseorang yang mengaku beriman, lalu mengingkari sendiri janji yang diucapkan . Janji terse­but diucapkan saat melaksanakan shalat minimal lima kali sehari se­malam melalui nomor telepon 42443. Yakni Shalat Isya, Subuh, Dhuhur, Ashar dan Magrib.

Melalui telepon itulah, setiap orang beriman berjanji: Ya Allah, sesungguhnya shalatku, ibadah­ku, usahaku, hidup dan matiku, seluruhnya kuserahkan kepada­MU. Janji tersebut direkam, dicatat dan dibukukan dalam file yang sangat rapi untuk digunakan se­bagai salah satu alat bukti yang akan dipergunakan pada penga­dilan akhirat kelak.

Semoga tulisan ini dapat menggugah hati dan piki­ran kita semua untuk kembali mer­enung sekaligus bercermin bahwa hidup ini hanyalah tempat transit semata, tempat transit untuk mencari bekal yang akan di­gunakan dalam perjalanan menu­ju akhirat. Karena itu setiap perbuatan manusia akan dimintakan pertanggung-jawabannya, bahkan setiap pikiran, ucapan, nafas dan gerak-gerik manusia senantiasa dibidik, direkam dan dibukukan oleh Malaikat. Termasuk sikap, perlakuan dan tindakan diskrimi­natif yang sering kita lakukan ter­hadap celengan masjid.

Filed under: Opini Islami,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Welcome Myspace Comments

Penulis

Waktu

Tulisan-tulisan yang telah dimuat di berbagai media cetak lokal seperti Palopo Pos, Harian Fajar, Majalah Payung Luwu dan BUletin BPSDM yang memaparkan tentang fenomena sosial yang terjadi di Indonesia serta karya-karya yang bernafaskan Islam.

Anda Pengunjung Ke

Telah dikunjungi oleh

  • 119,407 pembaca

Deteksi Lokasi

Terima Kasih Kunjungannya

Thank You Myspace Comments
%d bloggers like this: