Prof. Dr. H. Paisal Halim, M.Hum

Di Atas Langit Masih Ada Langit

Waspadai Datangnya Kematian

WASPADAI DATANGNYA KEMATIAN

(                  KHUTBAH  PERTAMA ………)

Jamaah Jum”at yang saya hormati,

Judul khutbah kita pada hari ini adalah WASPADAI DATANGNYA KEMATIAN.

Mengawali pembahasan judul tersebut, khatib mengajak pada kita semua, marilah kita senantiasa memanjatkan puji dan syukur kehadirat Allah Swt. Atas limpahan rahmat, hidayah  dan taufiqNya yang senantiasa dianugerahkan kepada kita semua  sehingga pada hari ini kita dapat hadir bersama-sama di masjid ini untuk melaksankan kewajiban kita sebagai hamba Allah.

Kita patut bersyukur , karena kita meyakini  bahwa tidak ada kekuatan yang dimiliki oleh seseorang kecuali Allah menitipkan kekuatan itu pada orang tersebut.  Kita patut bersyukur, kepada Allah, karena kita meyakini bahwa tiada kebesaran,tiada kemuliaan, tiada kehormatan bahkan tiada kenikmatan yang dapat dimiliki dan dinikmati oleh seseorang hamba  di dunia ini, melainkan Allah Swt masih menitipkan kebesaran, kemuliaan, kehormatan dan kenikmatan tersebut kepadanya. Dan  ketahuilah bahwa Allah Swt, sangat memuji dan mencintai hamba-hambaNya yang suka bersyukur kepadaNya. Bhakan Allah Swt akan menambah dan menambah terus menerus nikmat-nikmat yang disyukuri tersebut. Hal ini ditgaskan Allah Swt dalam alquranul karim :

yang artinya :” Jika kamu bersyukur  atas nikmat yang Aku berikan, maka Aku akan tambah nikmat  yang kau syukuri tersebut, namun sebaliknya, jika engkau mengikari, mengkhianati  mendustakan atau tidak mensyukuri  nikmat yang saya titipkan kepadamu, maka ketahuilah siksaku sangat pedih”.

Jamaah Jumat yang dimuliakan Allah Swt.

Dengan berdasar pada  firman Allah tersebut, seluruh aktivitas kehidupan duniawi kita rela hentikan sejenak. Kita kentikan transaksi jual beli; kita hentikan berbagai pertemuan penting; kita hentikan proses belajar mengajar; ; kita hentikan negosiasi ; kita hentikan pekerjaan kantor dan bahkan kita rela menghentikan berbagai aktivitas lainnya  untuk bergegas menuju ke masjid ini semata- mata mencari  ridha Allah Swt.

Di masjid ini, berbagai aktivitas kita lakukan. Ada yang membaca Alqur’an; ada yang beristigfhar ; ada yang membaca surah – surah pendek ; ada yang bertasbih ; ada yang berdoa  dan lain sebagainya. Pertanyaannya  adalah mengapa kita lakukan semua ini… ? mengapa kita membaca Alqur”an, mengapa kita bertasbih ; mengapa kita berdoa; mengapa dan mengapa ?

Jamaah Jumat yang saya horrmati,  Jawabannya adalah karena kita menyadari bahwa betapa banyak lumuran dosa yang telah kita perbuat selama ini ; kita lakukan semua ini dengan penuh harapan, semoga Allah Swt, mengampuni segala lumuran dosa yang telah kita perbuat selama ini.  Sekali lagi, kita lakukan semua itu karena kita meyakini bahwa kehidupan ini hanyalah sementara dimana setiap orang ( khatib, iman, dan kita semua) pasti akan menuju pada  pintu kematian itu. Namun bagi orang yang beriman, bukan kematian itu yang ditakutkan melainkan yang ditakutkan adalah seberapa besar kesiapan kita menghadapi dua pengadilan yang menanti setiap orang yakni pengadilan kubur dan pengeadilan akhirat. Di dua pengadilan itulah, setiap orang  akan dimintai pertanggungjawaban terhadap apa yang telah diperbuat selama hidup di panggung sandiwara kehidupan ini.

Hal ini ditegaskan oleh Allah dalam surah Yaasin ayat 65 :

yang artinya : “Pada hari ini kami tutup mulut mereka; tangan mereka akan berkata kepada kami dan kaki mereka akan memberi kesaksian terhadap apa yang mereka dahulu kerjakan” (Surat Yasin ayat 65)

Jamaah Jum’at berbahagia,

Khatib mengingakan pada diri kita semua bahwa di  pengadilan itu, hanyalah orang yang memiliki timbangan yang berat amal kebajikannnya yang akan mendapat ridha dari Allah swt, ; sebaliknya bagi orang yang timbangan amal kebajikannya lebih ringan disbanding dengan amal keburukannya, maka ia akan dimasukkan ke dalam neraka Hawiah.  Hal ini ditegaskan oleh Allah Swt dalam alqur’anul karim:

( Maka barang siap yang memiliki timbangan amal kebajiakannya lebih berat dibanding dengan amal keburukannya maka ia mendapatkan ridha dari Allah swt; sebaliknya bagi mereka yang memiliki timbangan amal kebajikannnya lebih ringan disbanding dengan amal keburukannya, maka Allah akan memasukkan mereka ke dalam suatu gerbong  Mahia. Lalu Allah bertanya, tahukah kamu apakah yang saya maksudkan dengan Maahiyah itu ? Allah menjawab  sendiri yakni “ neraka yang menyala-nyala” .

Jamaah Jum’at yang dimuliakan Allah Swt,

Karena itulah , sebagai orang yang beriman, kita patut untuk terus melakukan instrospeksi diri , berapa banyak tabungan deposito akhirat yang elah kita persiapkan menuju dua pengadilan itu. sebab, kematian itu pasti akan dating menemui kita. Sebagaimana firman Allah  Swt.

Artinya : Setiap yang bernyawa pasti akan mati

Jamaah Jum’at yang berbahagia,

Bagi kita orang yang meyakini akan firman Allah tersebut, tentu akan senantiasa siaga satu dengan datangnya kematian itu, sebab suka atau tidak suka; lambat atau cepat, kematian itu pasti akan datang, dan tidak ada seorang pun yang tahu kapan kematian itu dating menghampiri  kita. .

Demikian pun baginda Rasul  saw juga telah mengingatkan pada seluruh pengikutnya yang berkaitan dengan kematian ini, Beliau bersabda :

(Kematian itu laksana pintu dan setiap orang pasti akan memasuki pintu tersebut)

Jamaah Jumat yang dimuliakan Allah Swt;

Konon pada zaman dahulu kala, di jazirah arabiah, diceriterakan bahwa  pernah ada seorang raja yang berusaha sekuat tenaga untuk menghindari  agar anak gadisnya yang ia sayangi bebas dari kematian.

Di kisahkan bahwa pada suatu hari, sang gadis belia ini, berceritra kepada ayahnya .  “ Ayah, tadi malam saya bermimpi.: Ada seekor ular yang menggigit  tangan saya. Gigitan ular tersebut membuat tangan saya jadi bengkat dan sulit untuk diobati. Karena tidak dapat diobati maka dengan sebab gigitan ular tersebut, saya melihat diri saya mati  dalam mimpi tersebut.

Jamaah Jum’at  yang dimuliakan Allah,

Mendengarkan  ceritra sang anak tercinta tersebut, sang raja  memanggil  para ahli nujum untuk rapat mendadak guna membahas makna mimpi sang putri raja. Setelah dilakukan rapat mendadak, para ahli nujum bersepakat  bahwa makna darimimpi sang putrid adalah : tidak akan lama lagi sang putri akan  di digigit ular dan dari gigitan ular tersebut sang putri akan mati meninggalkan dunia ini .

Mendengarkan kesimpulan  para ahli nujum ini, sang raja menjadi gusar . Dipanggilnya sang penasehat  untuk menunjukkan jalan keluar dari  permasalahan ini.  Setelah sang penasehat raja mendengarkan ceritera mimpi sang putrid, maka sang penasehat menyarnpaikan pandangannya pada tuan raja. “ Wahai tuan raja, menurut kami, satu-satunya jalan yang harus dilakukan agar dapat keluar dari permasalahan ini adalah  menghindarkan sang putri agar tidak digigit ular. “Bagus sekali idemu penasehat, jawab sang raja. Namun, bagaimana caranya menghindarkan sang putrid dari gigitan ular.Tanya raja;

Sang penasehat pun menjawab: “ Hanya satu caranya tuan, yakni kita harus pindah dari darat ke laut,karena ular tidak akan dapat hidup di laut. Usul itu disetujui sang raja, dan dalam waktu yang singkat terbangunlah sebuah kerajaan baru di lautan. Di situlah sang raja menetap bersama keluarga dan tuan putri.

Jamaah jum’at yang dimuliakan Allah Swt,

Hari demi hari berganti minggu,; minggu demi minggu berganti menjadi bulan, dan bulan demi bulan berganti menjadi tahun. Sang raja hidup di tengah lautan bersama keluarganya demi menghindari kematian itu. Bahkan seluruh kamar dan dinding-dinding kerajan tetap disiapkan pengawal untuk menjaga jangan sampai ada ular yang masuk.  Namun,karena  kematian  itu  merupakan suatu ketentuan, maka  suka atau tidak suka, kematian pasti menghampiri  setiap orang dimana punmanusia itu  berada,

Suatu hari,  ketika tiba masa yang telah ditentukan oleh Allah, , sang putri  di patok seekor ular  yang menyusup melalui buah-buahan kesukaan sang putri.; Pada awalnya ular itu kecil menyusup melalui keranjang buah-buahan kesenangan sang putri. Hari demi hari sang ular ini hidup dalam kamar dan pada masa yang telah ditentukan,  ular itu membesar dan mematok sang putri  dan dari patokan tersebut sang putrid pun meninggal dunia.

Bukankah Allah swt, telah mengingatkan pada diri kita semua  dalam Surat Al-Jumu’ah ayat 8 ) dimana Allah berfirman :

Artinya :

“Katakanlah sesungguhnya kematian yang kamu lari padanya, ia pasti menemui kamu, kemudian kamu akan dikembalikan kepada Allah yang mengetahui yang gaib dari yang nyata, lalu Dia beritakan kepadamu apa yang pernah kamu kerjakan’’. (Surat Al-Jumu’ah ayat 8 )

Jamaah Jum’at yang saya hormati,

Sebagaimana kita pahami bersama bahwa Universitas terbesar di dunia ini adalah Universitas kehidupan. Universitas kehidupan ini telah banyak menyodorkan fakta kepada kita semua bahwa Pangkat, jabatan, kedudukan, keturunan dan gelar yang disandang oleh manusia selama ini pada akhirnya akan berujung dengan pangkat yang paling tertinggi yakni pensiun dan Almarhum. Penerimaan sertifikat pensiun dari penguasa dan sertifikat almarhum dari yang maha kuasa setiap saat dapat disaksikan di sekeliling kita melalui : saudara, sahabat, warga dan tetangga Bahkan tak terbilang diantaranya, kita sendiri yang mengantar dan mengusung jenasah handai tolan yang menerima sertifikat pensiun dari yang maha kuasa untuk mengikuti pengadilan tingkat pertama di alam kubur.

Dari berbagai fakta tersebut kita dapat meraih i’tibar (pelajaran ) bahwa sungguh kita termasuk manusia yang celaka bila selama memainkan peran dalam panggung sandiwara ini kita tidak memperbanyak tabungan deposito akhirat. Sebab hanya amal sholeh dan amal jariyah itulah merupakan harta yang paling setia dan paling patuh menemani baik di pengadilan kubur maupun di pengadilan akhirat kelak.

Peringatan ini sengaja disuguhkan di hadapan kita, agar kita dapat jadikan sebagai bahan renungan dalam menapaki sisa-sisa hidup ke depan. Peringatan ini diharapkan pula dapat mengetuk pintu hati kita semua untuk lebih menyadari bahwa dunia ini tiada lain hanyalah tempat transit semata. Tempat transit untuk mengambil bekal hidup menuju ke rumah masa depan yang abadi yakni akhirat.

Satu-satunya jalan yang terbaik bagi kita adalah , mari kita siaga satu dengan datangnya kematian itu dengan memperbanyak zikir kepada Allah,memperbanyak istigfhar , memperbanyak amal kebajikan karena dengan banyak berzikir,banyak beristigfhar , banyak berbuat  amal  kebajikan kita akan mendapatkan “tiket , berupa  passport menuju surga yang telah dijanjikan berkat ridha Allah Swt.

Filed under: Khotbah,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Welcome Myspace Comments

Penulis

Waktu

Tulisan-tulisan yang telah dimuat di berbagai media cetak lokal seperti Palopo Pos, Harian Fajar, Majalah Payung Luwu dan BUletin BPSDM yang memaparkan tentang fenomena sosial yang terjadi di Indonesia serta karya-karya yang bernafaskan Islam.

Anda Pengunjung Ke

Telah dikunjungi oleh

  • 119,407 pembaca

Deteksi Lokasi

Terima Kasih Kunjungannya

Thank You Myspace Comments
%d bloggers like this: